12.5.16

Introduce You To Happy Industry

Hai, this is the first product of Happy Industry

Jika hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau bekerja sekadar bekerja
Kera juga bekerja

-Buya Hamka

Perkenalkan, Happy Industry!
Sebuah gagasan yang akhirnya lahir dan membentuk rupanya sebagai sebuah brand dari produk jualan. Proses menuju penciptaan Happy Industry banyak disebabkan konversasi antara saya dan pacar, konversasi antara saya dan diri saya sendiri untuk tidak hidup sekadar hidup.

Saya disentil oleh sarkas Buya Hamka di atas. Hidup kita memang harus diperjuangkan maknanya dengan secara kontinu sehingga tetap memiliki manfaat terhadap sesama. Dan itu menjadi kegelisahan saya selama ini. Bagaimana cara hidup yang bermakna.

Bersama pacar, kami mengonsep Happy Industry yang kami niatkan dari awal, sebagai sebuah model bisnis yang bisa mengedepankan kolaborasi dan selalu menyisihkan sebagian porsinya untuk ikut menyumbang terhadap aktivitas/ project yang membuat Bumi ini menjadi tempat yang lebih baik.

Sebuah konsep yang membuat saya gembira. Menawarkan kesempatan kepada saya untuk menjadi insan yang lebih bermanfaat,

Silakan klik untuk tahu lebih banyak tentang WeCareID
Singkat cerita, perjalanan mewujudkan Happy Industry mempertemukan saya dengan Mesty Ariotedjo, inisiator sebuah gerakan sosial bernama WeCare.id.

WeCare.Id adalah sebuah platform yang menghubungkan antara donatur dengan pasien yang kurang mampu dalam mengakses fasilitas kesehatan yang layak. Melihat semangat teman-teman di WeCare.Id, kami pun semakin bersemangat dan telah berkomitmen untuk ikut mewujudkan Indonesia yang sehat merata dan bahagia bersama-sama.

Bentuk kolaborasi kami adalah dengan menyumbang 1000 rupiah untuk setiap produk kami yang laku. Tidak banyak memang, tetapi semoga jumlah mata uang bukanlah satuan ukur suatu perbuatan baik.

In the long run, kami berharap Happy Industry bisa berkolaborasi dengan sebanyak-banyaknya local designers & visual artists, bersama-sama me-rupa-kan ide-ide dan karya-karya visual kedalam berbagai bentuk produk fungsional yang bisa dipasarkan dengan menggunakan sistem sharing commission yang fair. Membuat semua senang, semua menang, thats  actually the mission of Happy Industry, we want this project to bring happiness as much as possible!

Sementara ini, desain yang sudah rilis masih merupakan karya saya sendiri. Semoga di produksi yang kedua, kami sudah berproses sesuai dengan mimpi kami sedari awal, berkolaborasi!

Okay, saya rasa cukup perkenalanmu dengan Happy Industry.
Series pocket notes yang kami jual bisa kamu dapatkan di sini atau lihat katalog kami di sini
Daaaaaaaaan apabila kamu tinggal di Denpasar, Bali, produk kami bisa kamu dapatkan di Curative Concept Store Bali.



Video unboxing dari rekan saya yang sangat membuat saya terharu, Abdullah Fikri

Terima kasih sudah membaca tulisan saya sampai di sini.
Jujur, setelah lama vakum menulis, saya merasa tulisan saya menjadi agak sedikit kaku. Sehingga apabila kamu membaca sepenggal kalimat ini, cukup bagi saya membuktikan effort kamu yang luar biasa!
Terima kasih

3.5.16

Akan Tetap Menceritakan, Hidup Yang Tidak Terlalu Menarik Untuk Diceritakan Ini

Termasuk diri sendiri yang tidak percaya bahwa kehidupan bisa membawa saya ke dalam kubikel kantor, bekerja from 7 to 5, senantiasa berpakaian formal, Senin sampai Jumat, berkutat dengan itu-itu lagi, lalu merayakan Sabtu dan Minggu sebagai sebuah hari raya!

Ada sesuatu dalam kepalaku yang mulai mendebat: Apa salahnya hidup seperti ini?

Tidak ada yang salah.

Saya yakin Tuhan tidak pernah salah tempat, salah orang dan salah waktu. Mungkin, seperti ini harusnya sekuen kehidupan saya di Bumi.

Lalu pikiranku mengembara bersama nurani yang kosong ditelan lelah bekerja.
Apakah, hidup sampai tua harus seperti ini?

Ada sesuatu dalam dadaku yang mulai merasa: Ada yang lebih besar yang mampu ku lakukan, lebih dari hidupku yang seperti ini.


3.11.15

Tentang Pengalaman Kerja di Amatoa Resort

Me on duty

Dalam sebuah pejalanan kereta, antara Bandung dan Solo. Pendar-pendar cahaya di kaca jendela dan teriakan pedagang pop mie kopi dari luar pagar stasiun melempar ingatan saya sehari setelah hari wisuda saya, yang saat itu saya juga sedang menempuh perjalanan di atas kereta menuju Kota Malang. Saat itu kepala saya dipenuhi tentang konsep dunia yang ideal. Saat itu, saya resmi menjadi pengangguran.

Menjadi pengangguran adalah satu fase hidup yang penuh kegalauan. Saya jadi ingat rekan saya di Indonesian Future Leaders, Gigih, selalu bilang kegalauan adalah sumber penemuan dan awal dari gebrakan besar. “Soekarno pasti galau saat bagsa kita dijajah 350 tahun oleh Belanda, lalu bersama dengan kegalauan dia melahirkan pledoi Indonesia Menggugat dan kemudian mencetuskan proklamasi.”

Dari statement dia, saya jadi bisa menghubungkan kegalauan dengan sejarah dunia. Mungkin Che Guavara juga galau saat berkunjung ke Kuba, galau karena dia menemukan kesewenang-wenangan Amerika terhadap nasib buruh dan industri tebu di sana. Maka muncullah gerakan revolusi Kuba. Mungkin Mahatma Gandhi juga galau, maka muncullah ajaran Budha. Mungkin Rasulullah Muhammad galau, melihat hidup jahiliyah bangsa Arab saat itu, kemudian Malaikat Jibril menyelamatkan dia dari kegalauan dan muncullah ajaran Islam.

Mungkin kita sebaiknya bergembira, kalau kita sedang galau. Ya?

Ada pola yang sama pada tokoh-tokoh di atas, bila kamu mengamati. Kegalauan mereka disertai oleh keadaan sunyi, sepi dan seorang diri. Yang terlintas dalam benak saya saat menjadi pengangguran, saya mungkin harus seperti tokoh-tokoh di atas. Menemui jalan sunyi saya. Mencoba merenung dan bergembira bersama kegalauan.
Saya pun memutuskan menerima tawaran kerja dari sebuah resort di Bulukumba. Di Amatoa Resort saya mengasingkan diri dari dunia yang ramai, setiap hari melihat laut, yang kadang berwarna biru, kadang berwarna hijau. Tanggung jawab saya selama di resort cukup banyak, mulai dari mengatur shift pegawai, kontrol pegawai, sampai kontrol reservasi. Melelahkan sekali, sampai suatu hari saya bangun dari tidur dengan mata sebelah kanan berdenyut-denyut. Semakin saya googling kenapa berdenyut-denyut, saya semakin takut sendiri karena hampir semua artikel kesehatan yang saya baca menyimpulkan kalau mata berdenyut-denyut adalah pertanda stroke ringan.

Saya memimpin 11 orang staff dengan karakter yang beragam. Meskipun, tempat ini tidak mengantarkan saya menuju jalan sunyi yang saya inginkan. Cukuplah membuat saya melatih diri menjadi seorang pemimpin. I did strectching my own comfort zone, leading people way older than me and gaining their trust to let me be their leader. Itu susah sih. Dan itu bisa jadi penyebab kenapa saya struk ringan. Memimpin mereka bukan saja memastikan mereka sudah melakukan kewajiban mereka sesuai SOP, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan hak mereka dan terlindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Yes, I just mention Undang-undang ketenagakerjaan. It sucks, when you witness injustice happen in front of you, and you can’t do many things but pray, because the management is not fully your authority. Saya mengerti bahwa undang-undang adalah sebuah konsep tatanan ideal, dan dalam usaha sebuah perusahaan mencapai tatanan ideal tersebut, tidak serta merta menjadikannya bisa mengelak memenuhi tanggung jawab dalam memenuhi hak-hak pekerja.

Yang paling mengganggu saya adalah perumusan besaran gaji berdasarkan ijazah. Karena si A hanya punya ijazah sampe SD, maka dia bukan orang yang berpendidikan baik, oleh karena itu pantaslah kita gaji sekian ratus ribu per bulan. Ratus ribu per bulan adalah angka yang akan membuat geram aktivis buruh karena tidak sesuai dengan UMK.

Menyaksikan hal tersebut, saya bisa saja mencontoh Che Guevara, memimpin mogok kerja pegawai, menuntut sampai hak-haknya terpenuhi. Tetapi, tidak semudah itu, kalau urusannya sudah urusan perut. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengundurkan diri dari Amatoa Resort, setelah memastikan kalau saya sudah banyak belajar. Saya pun kembali galau, dan kembali mencari jalan sunyi. Semoga teman-teman saya di Amatoa Resort tetap gigih berjuang mencari nafkah dan berani memperjuangkan hak-hak mereka.

Apabila ada teman-teman yang berencana berlibur ke Amatoa Resort, sampaikan salam saya kepada teman-teman saya di sana. Semoga dengan keterbatasan, mereka bisa membantu Anda mendapatkan ketenangan melihat laut, yang warnanya terkadang biru, terkadang hijau. Saya juga masih mempunyai ‘previlege’ untuk memberikan Anda diskon 10% apabila menginap di sana. Just hit me through email if you need one.

Ibu Santi, hamil 8 bulan dan masih semangat kerja
Ritual sebelum tidur, melihat langit minim polusi cahaya
Berpose seperti horang kayah

Ibu Tuti, kalau saya puji makanannya enak, besoknya pasti saya dimasakin lagi
Aktivitas terfavorit di resort: Membersihkan kolam renang!

13.9.15

Euforia Perayaan Wisuda dan Menjadi Pengangguran Setelahnya

Saya masih ingat. 20 Februari 2015 jam 7 pagi, saya mematut diri di kaca dengan kemeja putih satu-satunya yang kupunya, bersiap berangkat ke kampus lalu menyiapkan slide presentasi untuk sidang skripsi. Ini hari besar saya!

Hari itu tidak banyak sahabat yang tahu tentang sidangku. Saya memang sengaja merahasiakannya, karena saya merasa tidak layak untuk persembahan selamat dari teman-teman yang saya pun jarang peduli tentang sidang mereka.

Berkali-kali slide presentasi saya cek. Kemudian kemungkinan-kemungkinan pertanyaan saya putar dalam pikiran berulang-ulang sampai rasanya mulas dan berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Saya merasakan ketegangan nyata di semua sendi-sendi, tetapi di dalam dada ada semacam getar halus kebahagiaan, akhirnya sebentar lagi saya lulus.

Saya mulai melatih pernapasan dan mencoba untuk tenang. Tidak berapa lama, pintu ruangan diketuk oleh dosen pembimbing saya, ibu Mia disusul oleh penguji saya Profesor Ratna. Saya meminta izin sekali lagi ke kamar mandi sebelum presentasi benar-benar dimulai.

Singkat cerita, sidang skripsi saya yang berlangsung satu jam lebih membuahkan senyum. Saya dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. Saya berjalan keluar gedung sambil mengetik pesan kepada orangtua dan teman-teman saya yang akan lulus di bulan Maret. Beberapa menit kemudian, Auda Aganti, orang yang pernah menyaksikan saya depresi sambil makan soto ayam depan kampus datang memberikan selamat. Waktu itu saya depresi karena karena mengulang matkul Pendidikan Agama. Lalu setengah jam kemudian datanglah Mahatma Waskitadi, sahabat seperjuangan skripsi membawa seikat bunga yang wangi, lalu mengajak foto wajib di depan tulisan: "School of Business and Management".

Percayalah, saat Anda baru saja melawan ketakutan terbesar Anda, Anda akan merasa sangat menang dan kaki terasa tidak menapak di tanah. Itulah yang saya rasakan. Skripsi adalah ketakutan yang saya ingkari, akan tetapi saya harus hadapi. Setelahnya, saya merasa perasaan yang terang benderang seperti mentari, dan jasad yang ringan seperti awan putih. Saya ditemani Auda pergi ke Tokema untuk beli surat kabar, saya ingin seperti Harry Hart di film Kingsman yang merekam hari bersejarahnya dengan potongan headline surat kabar.

With Mahatma Waskitadi yang sekarang sudah jadi bos besar
Saya masih ingat duduk sebentar di payung mengobrol bersama Fadhila Hasna, junior yang baik hati, yang hatinya tidak bisa kudapatkan sebelum pulang ke kosan melalui gerbang depan ITB. Di atas angkot Caringin Sedang serang, saya berharap segera tiba di kosan untuk tidur bercumbu dengan kasur yang sudah lama tidak kurasakan kemesraan di atasnya gara-gara mengejar deadline sidang skripsi. Saya mengabaikan ucapan selamat yang berkedip-kedip di layar handphone.
******

Mempersiapkan hari wisuda, adalah satu ketegangan yang lain, namun menyenangkan. Hari wisuda adalah hari penuh suka cita yang sangat menguras banyak biaya. Tidak seperti rekan-rekan saya yang menyewa hotel untuk orangtuanya, saya cukup senang bisa menyewakan kamar kosan di samping kamar saya untuk bapak, ibu, dan Yudha yang ikut ke Bandung dalam rangka melihat saya pakai toga. Hari wisuda adalah hari dimana kau ingin tampak sempurna. Untuk itu, saya pun merasa harus menjahit setelan jas. Setelah browsing sana-sini, saya memutuskan menjahit setelan di Pasar Baru, pada sebuah kios kecil bernama Seruni di lantai 3. Hasil jahitannya rapih, dan pelayanannya cukup memuaskan. Untuk setelan ini saya mengeluarkan budget 850 ribu. Itu dulu sih, waktu dollar masih seharga 13ribu-an.

Hari wisuda adalah hari yang ingin kupanjangkan menjadi 48 jam, seandainya bisa. Hari itu perasaan saya penuh dengan segala macam keriangan dan kecemasan yang kuabaikan. Di hari itu saya dalam hati mengucapkan selamat tinggal untuk kampus tempatku belajar, mengucapkan selamat jalan kepada teman-temanku yang lapar pengalaman, dan selamat datang kepada rumahku yang telah kutinggalkan beberapa tahun ini.

Malamnya, sebelum benar-benar pulang. Saya menyempatkan bertemu dengan Ichan, Adib, Syiraz, dan Dinyol. Mereka adalah tempat sebagian ceritaku dan pengaruh besar dalam hidupku di Bandung. Kami menghabiskan malam dengan bandrek hangat yang lezat di Lembang sambil mengenang cerita kejayaan dan berandai tentang masa depan.

Kutinggalkan Bandung dengan segala kerinduan. Semoga suatu hari berjumpa lagi dengan kenangan-kenangan yang bisa diputar ke belakang.

Bersama Nasha, si ambi yang selalu rendah hati

Foto bersama keluarga Gubernur Jabar

Noraknya! Berfoto di tugu wajib wisudawan

Bersama Egin, teman rokok-rokok ku di payung. Suka kupanggil ibu polwan.

Juniorku si ambi Evita, saya banyak belajar dari sikapnya yang riang

Bersama Inggrit, suka kuajak ke Bulukumba, tapi tidak pernah kejadian. Yaaa kasiaan...

Yudha, saya, ibu, dan bapakku. My best supporting system!

Alika, Surya, Saya, Ahza, Kodi, Inggrit, Rizki. Teman-temanku yang lebih dulu lulus

Shasa, temanku yang suka bikin horni karena rambutnya yang wangi

Hans, Puput, Mamatos, Auda, Saya, Vincya, Faisal. Kalau berkumpul, selalu gibah. Yang digibah biasanya Auda.

Teman angkatanku yang sekarang sudah tersebar dan terkenal!

Teman-teman Sigulempong, teman angkatanku yang kemarin sama-sama exchange ke USA

Dhila, gadis yang selalu menjadi objek kegalauan selama 2 tahun. Sekarang juga masih sih.


Yudha di Bandung

Yudha kali pertama naik kereta

Kakaknya Yudha dan adik kakaknya Yudha

Mau pura-pura candid tidur

sebelum terbang ke Makassar, saya ajak Yudha, ibu dan bapak berkunjung ke rumah om Budi di Malang.


22.5.15

Gagu



Aku berharap, dada kita tidak akan menyerupa ceruk yang mulanya dangkal, lalu menjadi tenang dengan kedalamannya tidak bisa ditaksir.
Perasaan kita serupa mata air yang bermuara ke laut air mata tanpa matahari.
Tidak ada keindahan yang membuat langit berpendar, tidak akan ada awan-awan yang bentuknya bisa kita terka-terka, hanya ada satu kura-kura yang tidak pernah kita tahu berjenis kelamin apa.

Dasar ceruk kita berkhianat, membuat perasaan-perasaan kita punya alasan untuk tidak diutarakan.
Tidak dalam canda, sorot mata, cumbu, dan persetubuhan.

19.3.15

Temanku dan Batu Akik


Temanku sekarang punya benjolan berkilau di jari-jarinya. Bila hanya memperhatikan jari-jarinya, kukira saja dia adalah om-om pecandu batu. Saat kulihat wajahnya, oh ternyata dia temanku. Temanku yang sekarang rupanya sudah bergabung dalam gerakan lifestyle paling happening: koleksi batu akik!

Dia senang kalau aku tanya-tanya tentang batu akik. Dia malah menambahkan informasi yang tidak juga bermanfaat aku tahu.

"Masih ada 35 lagi batu di rumah, tapi belum semua dibatangin," katanya.

Dia tersenyum saat kubilang kalau batu-batu itu cocok ada di tangannya. Tapi, bagaimana mungkin dia punya koleksi sebanyak itu, sedang jari tangannya cuma ada sepuluh. Dia bilang, kalau sudah main batu akik, koleksi bisa datang darimana saja. Bisa dari pemberian, dari supir, tukang parkir, atau memang sengaja beli batu untuk kemudian digosok sendiri.

Aku manggut-manggut saat dia mulai menceritakan bentuk representasi dari setiap motif batu akik di jarinya. Cara bertuturnya sederhana, tidak pongah seperti bapak-bapak yang pernah kutemui saat duduk di bale-bale, mereka berpongah, dan tak mau kalah mendefinisikan serat di batu masing-masing.

Sebelum dia pergi, aku tanya karena sangat penasaran.

"Bagaimana caranya coli dengan cincin sebanyak itu ditangan?"

Dia bilang, yah harus dilepas. Apalagi cincin dengan batu berwarna putih susu yang punya lafaz Allah sebagai motif. Katanya, cincin itu haram dipakai masuk WC pun. Lagi-lagi, dia menambahkan informasi yang tidak juga bermanfaat aku tahu.

12.3.15

Lihat dengan begini,

Kamu bertanya, apakah dunia ini terlalu tua untuk kita pahami dalam satu kali masa hidup?
Hidupmu dan hidupku. Meski kita melahirkan kebijaksanaan, hanya beberapa yang layak untuk kita percaya, beberapa sisanya memang hanya untuk membuat kita tertawa.

Adakah kemuliaan dalam kepala, dada, dan perut kita?
Ataukah kita memang senang menggadaikan tidur nyenyak demi bisa makan enak.

Kamu ingin, tua nanti kalau bisa kita mati kaya raya, termasuk itu dengan karya

Kamu setuju, apa yang dikatakan ibuku.
Bahwasanya, dua bejana kosong tidak memberi manfaat apabila disandingkan menjadi satu.
Kalau ada air di dalam bejana, ia bisa saja menjadi tempat tumbuhnya bunga.
Kalau hanya udara, mungkin jadi sarang laba-laba.

Kamu tertawa, saat ku bilang kalau lapangan luas dihadapan kita, mengundangku untuk berlari. Tetapi, belum juga kutemukan bagaimana berlari tanpa terjatuh.

"Bisa kau membantuku?"

Kamu menggeleng, lalu merengek meminta ingin berlari bersamaku.
Tetapi, aku takut belum bisa menemukan titik seimbang menahan bebanmu, lalu nanti kita sama-sama terjatuh.

Kamu menangis, sampai tergugu.
Sedangkan aku hanya ingat pesan ibu.
Bahwasanya, dua bejana kosong tidak memberi manfaat apabila disandingkan menjadi satu.

1.3.15

Matahari Yang Tidak Pernah Kita Lihat

Sekarang, kamu memintaku menyebutkan satu per satu hal indah sebelum dirimu berangkat untuk tidur. Aku bilang, banyak sekali. Lalu kamu tersenyum dan mengulang perintahnya.

"Okay, kalau begitu coba sebutkan hal-hal indah dalam hidup kita saja," katamu.

Aku tidak bisa ingat banyak. Tetapi, hal indah di antara kita selalu tentang matahari yang tidak pernah kita lihat.

Matahari itu adalah matahari yang terlewat kita saksikan karena asyik berbincang sampai dini hari, kemudian tertidur sampai lapar membangunkan. Di masa lidahku masih kelu mengucapkan "aku-kamu". Di masa kita sama-sama masih melihat hidup tidak ubahnya bola yang digelindingkan, selalu kontrol penuh ada di tangan dan kaki kita. Atau seperti air yang merambat ke segala arah dan tidak pernah menolak gaya gravitasi. Hidup kita yang naif.

Matahari itu adalah matahari yang terlewat tetapi kita sadari. Saat menemanimu mengerjakan tugas skripsi yang kamu bilang berulang-kali dapat revisi. Aku duduk sambil menghabiskan sekaleng biskuit, dan kamu dengan jidat berkerut tidak berhenti panik karena harus bertemu dosen pembimbingmu pagi-pagi. Lalu aku meluruskan kerutan jidatmu, mungkin juga gelisahmu, saat ku bilang tahu tempat jilid yang cepat dan bisa ditunggu.

Matahari itu adalah matahari yang kita sengaja lewatkan, karena ternyata ada di dalam dada kita yang jauh lebih menghangatkan untuk dituntaskan, dan kita memilih untuk berada di sana beberapa menit lebih lama sebelum beranjak dari tempat tidur.

Matahari yang selalu kamu lewatkan setiap pagi di dapur dan meja makan rumah kecil kita, menyiapkan sarapan untukku dan anak-anak kita. Seperti biasa, kamu selalu saja direpotkan mencari botol minum dan dasi yang hilang di setiap pagi sebelum mereka berangkat ke sekolah.

Di ruangan ini saat menemanimu, matahari yang sudah biasa kita lewatkan, dan hanya bisa ditebak dari jam yang menggantung di atas tempat tidurmu.

"Aku sudah terlalu mengantuk, ceritakan hal indah itu saat aku bangun," ucapmu pelan sekali. Aku mengiyakan dan kuantarkan  kamu tertidur sampai garis kehidupan layar monitor di sampingmu sudah tidak bergelombang.

Saat itu, matahari tidak pernah lagi datang untuk kita.
Semoga kamu masih bahagia. Aku pun begitu.

Anak-anak kita datang dan kuberitahu tentang hal-hal indah dalam hidup kita.
Aku tidak bisa ingat banyak. Tetapi, hal indah di antara kita selalu tentang matahari yang tidak pernah kita lihat.

Matahari yang terlewat saat aku pun siap pergi ke galaksi di mana iman kita berada.

28.2.15

Menuju Rumah

Kini, aku tidak tahu kemana jalan pulang,
menuju rumah yang pernah menjadi rumah.
ataupun menuju rumah yang akan menjadi rumah.

Mungkin, pernah diriku mengingat kemana arah jalan pulang.
Tetapi, selalu ada kepergian yang membuatku lupa.
Atau memang, jalan pulang tidak pernah menjadi menarik untuk aku ingat.

Tetapi, kemana aku harus pulang saat ingin pulang?
Aku tidak bisa bilang.

Seperti Adam dan Hawa yang dihukum Tuhan untuk mencari jalan pulang,
aku pun sudah memutuskan untuk membuat sendiri jalan pulang.
Dan kini, dalam perjalanan aku berhenti sejenak, menurunkan ransel di pundak, dan melihat adakah 'kebahagiaan' atau 'beban' di dalam ransel yang mungkin bisa kumakan.

Lalu, kutemukan kotak makanan berwarna biru hitam.
Isinya adalah cerita kita.
Bukankah itu makanan kita yang gagal dimasak?
Saat kita berniat membuat 'kebahagiaan', tetapi kita mungkin saja tidak pas dalam meracik bumbu, atau aku yang tidak rata dalam mengaduk adonan.
Yang pasti, kita berdua sudah terlambat mematikan kompornya.

Aku masih akan melanjutkan perjalanan,
'Beban' ini kumakan dulu saja untuk energi.
'Kebahagiaan' kumakan nanti saat tiba di rumah. Atau di tengah perjalanan.

Urusan kumakan sendiri atau kubagi, tidak menjadi masalah apabila sudah tiba.
Atau tidak pernah tiba.

3.2.15

Kenapa Sih, Kalau Nonton Sendiri?

"Ada yang merasa harus ditemani, saat mereka memang secara harfiah butuh sendiri. Ketika gambar mulai bergerak di layar lebar oleh ribuan lampu lumens, suara memenuhi telinga, saat itu ruangan menjadi gelap, caramel popcorn atau segelas coke harusnya sudah cukup untuk menemani kesendirian, meskipun kenyataan sedang bersama puluhan penonton yang lain."

Menonton ke bioskop, bagi saya adalah sebuah aktivitas soliter. Sebuah film, bagus atau tidak bukan karena kau ditemani oleh siapa, tetapi karena film itu bercerita tentang apa dan terefleksi bagaimana terhadap kesadaranmu. Bukan berarti, saya tidak suka ke bioskop bersama keluarga atau teman-teman. Saya hanya sangat menikmati apabila saya ke bioskop sendirian. Because, the minute when the film starts, it is the minute when I can let myself fully absorbed.

Lalu, saya selalu mau tahu apa yang ada dibalik ekspresi teman-teman saya, ketika kami berjumpa tidak sengaja di bioskop. Biasanya mereka menanyakan saya nonton bersama siapa. Ada semacam gurat halus di jidat mereka, saat saya bilang kalau saya menonton sendiri.

"Sendiri banget?! Kenapa ga ajak-ajak yang lain deh, Ju?"

Jawaban seperti ini, saya biasanya balas dengan senyuman. Setelah itu, saya lalu suka kepikiran, memangnya ada masalah ya kalau nonton sendiri? Mungkin, bagi beberapa orang menonton sendiri ke bioskop akan terlihat sangat menyedihkan. Akan sangat terasa kikuk karena banyak muda-mudi berpasangan. Solusinya, mungkin dengan menghindari nonton di akhir pekan saat semua orang-orang urban keluar mencari hiburan. Saya juga jarang sih nonton pas weekend, tiketnya mahal.

Tapi bioskop menurut saya memang tempat yang didesain untuk orang menikmati kesendirian. Kesendirian ini seharusnya membuat kita bebas bisa menentukan film apa yang akan ditonton, jam berapa, duduknya dimana yang bisa terhindar dari distraksi. Dan kalau mesan caramel popcorn , tidak usah khawatir cepat habis oleeh orang lain.

Alasan-alasan inilah yang membuat saya suka sekali menonton sendiri di bioskop. Bagi saya tidak menyedihkan, kalau semua kontrol ada di tanganmu kan? Dan perlu meluruskan stigma, kalau bioskop adalah tempat untuk mengapresiasi film, bukan (hanya) tempat pacaran. Jadi, kau tidak akan merasa aneh sendiri, kalau ke bioskop tanpa membawa pacar.