1.6.17

Titik Pertemuan


Kudengar suara menderu di dalam hatiku,
seketika wajah tak akan pernah cukup tampan lagi untuk kutatap di depan cermin.

Kurasakan nyeri menjalar di kaki sampai ulu hati,
oh kamu yang kudamba dan tidak pernah ada keberanian untukku hari ini.

Selalu ada keraguan,
Selalu ada kenangan.

Aku takut, sebenarnya aku tidak sedang jatuh cinta.
Padamu hanya, aku sedang mereinkarnasi kenangan dirinya.
Dia yang kutemukan pada caramu menyapa.
Matanya yang kulihat saat kita bersua.
Padamu, kumenemukan potongan dirinya.

Tetapi tetap saja,
perasaan ini indah.
Semoga memang karenamu,
bukan karena kenangan yang digdaya.

2.4.17

A

Seperti kuduga, menua bukanlah proses alamiah yang menyenangkan. Ambisiku, tekanan sosial, dan ekspektasi dari orang-orang sekelilingku adalah racun yang kucecap dan pelan-pelan membuat hidupku seperti tak punya gravitasi. Aku ada, tapi tidak sepenuhnya menjejak ke bumi. Ragaku adalah jasad yang ditumpangi oleh kegelisahan-kegelisahan. Mereka yang tak seharusnya ada. Dan sering menarik diriku pada kecemburuan masa lalu, penyesalan, dan andai-andai yang tidak mengerti cara menjadi.

Aku mulai sering berbicara pada diriku sendiri, hanya untuk memastikan ia tetap di sana. Masa lalu sering membuatnya lupa, kalau ada hari ini yang berarti. Masa depan selalu membuatnya risau, selalu saja ia menganggap hari ini adalah kesalahan yang ingin segera ia sudahi.

Aku baru saja mendapatkan telepon dari ibu. Dia bilang suaraku lesu dan tidak bersemangat.
Aku bilang, seperti biasanya hari ini tidak ada cerita yang bisa kubagi padamu bu. Hanya ada, amarah dan kebingunganku yang tidak ingin kubagi. Mereka tidak akan pernah bisa kau pahami. Mereka adalah hewan liar, bagian diriku yang tidak pernah kau inginkan untuk pulang ke rumahmu.

Telepon kami sudahi.

Aku kembali melihat kalender, mengamati tanggal-tanggal baik untuk bunuh diri.

9.2.17

The misery is just state of mind



Yeh.
I managed to live here for a month and I am sure a great life waiting for me ahead. It is easy to look back, but I want to assure you that for me one month here been so long. I personally think Jayapura is a perfect combination between nature and modern life. Although, too many stereotypes I've heard from my parents, friends, and everyone I have met regard the local people which most are not too pleasant to hear and very uncomfortable for me because somehow affect my subconscious to start believing all the rumors  are all true. It restraint me to explore this very beautiful land, be brave, lost my self into density of forest vegetation.

For a moment, I want to forget all the rumors. I want to see Jayapura as a friendly city, has a high tolerance among religions, and offer me a friendship that I will always remember, when the day come and I should leave this place. I want to question everything moreover to any assumptions or opinions of others.

Anyway, my work life is the worst than any work experience I have ever tasted. But don't worry, I've prepared myself for this condition. I do not want to say in details, this past month I feel like a whipped horse that ran from morning to night. I despise the working environment that driven by the fear of the boss, long-winded bureaucratic and time consuming, does not create enough space for employee to innovate and take responsibility fairly. There is a sarcasm that always echoed that make the boss happy. It is very stressful because frankly we are running real business not an empire. Customer is someone I should mind!

Waking up in the morning and questioning all my motives, why am I going to work?
Yes, for money sake.
Yes, someday when I have enough money and courage, I'll leave this and start doing my own masterpiece. 
In the meantime, I want to condition my self to be very positive, show my best quality, because all of these are temporary and I want to leave good remarks behind.

Once again.
This is all temporary. Let's have fun.
For the uncertainty in upcoming days, let's embrace it.

&
...
The misery is just state of mind.

21.11.16

Mereka Hanya Kehilangan Penglihatan, Bukan Harapan.

Foto bersama - Penyandang Tuna Netra dan Relawan Pembisik

Sabtu (19/11/2016) saya menyempatkan diri menjadi relawan pada sebuah acara Bioskop Bisik yang diselenggarakan oleh Thinkweb dan British Council di Kota Tua, Jakarta. Bioskop Bisik pada dasarnya adalah sebuah kegiatan menonton film bersama penyandang tuna netra dan para relawan sebagai pembisik yang mendampingi bertanggung jawab untuk membisiki penyandang tuna netra tentang alur dan keadaan visual film, sehingga penyandang tuna netra mampu menjahit setiap scene film menjadi sebuah cerita yang utuh,


Sebelum acara dimulai, kami diberi kesempatan untuk mengobrol sambil mengakrabkan diri dengan penyandang tuna netra. Saya berkenalan dengan Mas Adi, berusia 39 tahun, belum berkeluarga dan menyandang tuna netra sejak usia 7 bulan. Mas Adi sangat terbuka menceritakan keadaanya. Obrolan dimulai dengan bertanya: Bagaimana Mas Adi menjalani aktivitas sehari-hari?

Saya mengambil kesempatan ini untuk menyelami kehidupan Mas Adi, dan melihat kehidupan saya, sambil berpikir apa yang berbeda. Kalau Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, Kok Tuhan tega sih membuat saya buta? kira-kira seperti itu gugatan Mas Adi kepada Tuhan saat usianya belasan. Kemudian dalam proses hidup, Mas Adi menemukan kesadaran baru, bahwa semua ciptaan Tuhan adalah sempurna dan memiliki tujuan. Mas Adi pun memilih untuk merayakan kesadaran itu dan berhenti menggugat.

Dalam obrolan tersebut, saya bercermin dengan kehidupan sendiri. Saya menyadari banyak hal, termasuk keabaian saya dalam bersyukur. Mungkin, cara bersyukur yang paling baik adalah dengan menjaga anugerah Tuhan yang dititipkan kepada kita. I know it sounds cheesy and cliche, but it is the only thing I can convey regard this situation.

Saya melihat, mereka yang buta tidak nampak terlalu terpuruk seperti yang ada dalam bayangan saya. Mereka terlihat bahagia-bahagia saja. Mas Adi juga bilang, penyandang tuna netra tidak melulu sedih dan mengutuk keadaan. Mereka mungkin sama saja seperti kita, sering juga merayakan kebahagian dan terkadang sedih sampai meraung-raung. Mereka bisa saja hanya kehilangan penglihatan, tetapi tidak kehilangan harapan hidup.

Ini adalah kali pertama saya mengikuti kegiatan semacam ini. Saya merasa sebagai relawan pemula mempunyai banyak kendala dalam mengaudiokan elemen-elemen visual dalam film yang diputar. Tetapi tidak masalah, my story telling skill got better when film reach its half. Saya juga mau menyarankan kepada kamu, aktivitas volunteering seperti ini mungkin bisa jadi alternatif menarik saat weekend kamu hanya diisi kegiatan goler-goleran di kasur.

Suasana Menonton Bioskop Bisik

11.9.16

Setelah menelepon ibu


Aku ingin kembali mengulang,
pelukan hangat di depan pintu
pada subuh yang masih remang

doa-doa yang mengiringku pergi
tidak pernah memintaku untuk pulang
hanya agar aku terhindar dari nasib malang

harapan yang kau selipkan pada saku
telah menyimpan rahasia di ujung lidahku
yang tak sengaja kutelan dan menyekat kerongkongan

Setiap kita bertukar kabar,
perkataanku berubah menjadi puisi
yang menghibur uban di kepalamu
sedang kau baru saja menjentik kolam kesunyian dalam dadaku

Selalu seperti itu

10.9.16

September Ceria


Kasurku adalah sebuah album foto,
ia mengusir kantuk dan mengubahnya menjadi kenangan
di sanaku terbaring,
menikmati diri yang diamuk sepi
dipeluk keengganan yang menghunus belati

kurasai detak nadi sendiri,
setiap sendi-sendi meminta dirayakan dengan nyala kembang api
kuhitung satu-dua napas
kekhawatiran adalah batu cadas yang menjauhkanku dari pulas

bung,

adakah hitungan pada teka-teki
bantalku menjadi sebuah amplop berperangko wajah diri
aku ingin telanjang dan menanggalkan kerinduan
dan mungkin mengirimnya kembali ke Tuhan

tersenyum melihat jasadku kaku kini
menjadi bagian dari album foto kenangan diri sendiri

Surakarta

6.9.16

In The Meantime, We Need to Be More Practical.

Betapa kehidupan terkadang menjadi lucu.
Misalnya, saya seringkali menginginkan untuk bertukar nasib dengan seseorang. Kadang saya lupa kalau ada effort dan disiplin yang luar biasa untuk menjadi sperti itu, dan saya hanya melihat enak' nya saja!

Kadang juga saya tidak menghargai dan merasa biasa saja, justru setelah mendapatkankan sesuatu yang saya idamkan. We tend to less appreciate things we have already.

Seperti minggu kemarin, saya hampir gila!
Maybe because I spent 2 days in row locked up in room, lacked of fresh oxygen while thinking why I chose this path of life?

Complaining isn't way to escape. Then luckily, I found a video from Gary Vaynerchuk that I think relevant with my case. The more practical way for me to start my own business venture is to have stability first, which is hold on to the current job which gives me monthly salary.

And then work!
Gladly, my current job provide that chance. I usually come home when the sky still blue, and the office workload is not that much for me to work for my business until 1 am  or 2 am executing the steps.

Hopefully someday the business will generate its own revenue that I can start working on it full time.
Here the video, I'd like to share to some of you, to my folks 20 something who confuse because everybody seems run their own startup.

Be patient, my friend.
Patient is strong word. In the meantime, we need to be more practical.

3.5.16

Akan Tetap Menceritakan, Hidup Yang Tidak Terlalu Menarik Untuk Diceritakan Ini

Termasuk diri sendiri yang tidak percaya bahwa kehidupan bisa membawa saya ke dalam kubikel kantor, bekerja from 7 to 5, senantiasa berpakaian formal, Senin sampai Jumat, berkutat dengan itu-itu lagi, lalu merayakan Sabtu dan Minggu sebagai sebuah hari raya!

Ada sesuatu dalam kepalaku yang mulai mendebat: Apa salahnya hidup seperti ini?

Tidak ada yang salah.

Saya yakin Tuhan tidak pernah salah tempat, salah orang dan salah waktu. Mungkin, seperti ini harusnya sekuen kehidupan saya di Bumi.

Lalu pikiranku mengembara bersama nurani yang kosong ditelan lelah bekerja.
Apakah, hidup sampai tua harus seperti ini?

Ada sesuatu dalam dadaku yang mulai merasa: Ada yang lebih besar yang mampu ku lakukan, lebih dari hidupku yang seperti ini.


3.11.15

Tentang Pengalaman Kerja di Amatoa Resort

Me on duty

Dalam sebuah pejalanan kereta, antara Bandung dan Solo. Pendar-pendar cahaya di kaca jendela dan teriakan pedagang pop mie kopi dari luar pagar stasiun melempar ingatan saya sehari setelah hari wisuda saya, yang saat itu saya juga sedang menempuh perjalanan di atas kereta menuju Kota Malang. Saat itu kepala saya dipenuhi tentang konsep dunia yang ideal. Saat itu, saya resmi menjadi pengangguran.

Menjadi pengangguran adalah satu fase hidup yang penuh kegalauan. Saya jadi ingat rekan saya di Indonesian Future Leaders, Gigih, selalu bilang kegalauan adalah sumber penemuan dan awal dari gebrakan besar. “Soekarno pasti galau saat bagsa kita dijajah 350 tahun oleh Belanda, lalu bersama dengan kegalauan dia melahirkan pledoi Indonesia Menggugat dan kemudian mencetuskan proklamasi.”

Dari statement dia, saya jadi bisa menghubungkan kegalauan dengan sejarah dunia. Mungkin Che Guavara juga galau saat berkunjung ke Kuba, galau karena dia menemukan kesewenang-wenangan Amerika terhadap nasib buruh dan industri tebu di sana. Maka muncullah gerakan revolusi Kuba. Mungkin Mahatma Gandhi juga galau, maka muncullah ajaran Budha. Mungkin Rasulullah Muhammad galau, melihat hidup jahiliyah bangsa Arab saat itu, kemudian Malaikat Jibril menyelamatkan dia dari kegalauan dan muncullah ajaran Islam.

Mungkin kita sebaiknya bergembira, kalau kita sedang galau. Ya?

Ada pola yang sama pada tokoh-tokoh di atas, bila kamu mengamati. Kegalauan mereka disertai oleh keadaan sunyi, sepi dan seorang diri. Yang terlintas dalam benak saya saat menjadi pengangguran, saya mungkin harus seperti tokoh-tokoh di atas. Menemui jalan sunyi saya. Mencoba merenung dan bergembira bersama kegalauan.
Saya pun memutuskan menerima tawaran kerja dari sebuah resort di Bulukumba. Di Amatoa Resort saya mengasingkan diri dari dunia yang ramai, setiap hari melihat laut, yang kadang berwarna biru, kadang berwarna hijau. Tanggung jawab saya selama di resort cukup banyak, mulai dari mengatur shift pegawai, kontrol pegawai, sampai kontrol reservasi. Melelahkan sekali, sampai suatu hari saya bangun dari tidur dengan mata sebelah kanan berdenyut-denyut. Semakin saya googling kenapa berdenyut-denyut, saya semakin takut sendiri karena hampir semua artikel kesehatan yang saya baca menyimpulkan kalau mata berdenyut-denyut adalah pertanda stroke ringan.

Saya memimpin 11 orang staff dengan karakter yang beragam. Meskipun, tempat ini tidak mengantarkan saya menuju jalan sunyi yang saya inginkan. Cukuplah membuat saya melatih diri menjadi seorang pemimpin. I did strectching my own comfort zone, leading people way older than me and gaining their trust to let me be their leader. Itu susah sih. Dan itu bisa jadi penyebab kenapa saya struk ringan. Memimpin mereka bukan saja memastikan mereka sudah melakukan kewajiban mereka sesuai SOP, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan hak mereka dan terlindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Yes, I just mention Undang-undang ketenagakerjaan. It sucks, when you witness injustice happen in front of you, and you can’t do many things but pray, because the management is not fully your authority. Saya mengerti bahwa undang-undang adalah sebuah konsep tatanan ideal, dan dalam usaha sebuah perusahaan mencapai tatanan ideal tersebut, tidak serta merta menjadikannya bisa mengelak memenuhi tanggung jawab dalam memenuhi hak-hak pekerja.

Yang paling mengganggu saya adalah perumusan besaran gaji berdasarkan ijazah. Karena si A hanya punya ijazah sampe SD, maka dia bukan orang yang berpendidikan baik, oleh karena itu pantaslah kita gaji sekian ratus ribu per bulan. Ratus ribu per bulan adalah angka yang akan membuat geram aktivis buruh karena tidak sesuai dengan UMK.

Menyaksikan hal tersebut, saya bisa saja mencontoh Che Guevara, memimpin mogok kerja pegawai, menuntut sampai hak-haknya terpenuhi. Tetapi, tidak semudah itu, kalau urusannya sudah urusan perut. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengundurkan diri dari Amatoa Resort, setelah memastikan kalau saya sudah banyak belajar. Saya pun kembali galau, dan kembali mencari jalan sunyi. Semoga teman-teman saya di Amatoa Resort tetap gigih berjuang mencari nafkah dan berani memperjuangkan hak-hak mereka.

Apabila ada teman-teman yang berencana berlibur ke Amatoa Resort, sampaikan salam saya kepada teman-teman saya di sana. Semoga dengan keterbatasan, mereka bisa membantu Anda mendapatkan ketenangan melihat laut, yang warnanya terkadang biru, terkadang hijau. Saya juga masih mempunyai ‘previlege’ untuk memberikan Anda diskon 10% apabila menginap di sana. Just hit me through email if you need one.

Ibu Santi, hamil 8 bulan dan masih semangat kerja
Ritual sebelum tidur, melihat langit minim polusi cahaya
Berpose seperti horang kayah

Ibu Tuti, kalau saya puji makanannya enak, besoknya pasti saya dimasakin lagi
Aktivitas terfavorit di resort: Membersihkan kolam renang!

13.9.15

Euforia Perayaan Wisuda dan Menjadi Pengangguran Setelahnya

Saya masih ingat. 20 Februari 2015 jam 7 pagi, saya mematut diri di kaca dengan kemeja putih satu-satunya yang kupunya, bersiap berangkat ke kampus lalu menyiapkan slide presentasi untuk sidang skripsi. Ini hari besar saya!

Hari itu tidak banyak sahabat yang tahu tentang sidangku. Saya memang sengaja merahasiakannya, karena saya merasa tidak layak untuk persembahan selamat dari teman-teman yang saya pun jarang peduli tentang sidang mereka.

Berkali-kali slide presentasi saya cek. Kemudian kemungkinan-kemungkinan pertanyaan saya putar dalam pikiran berulang-ulang sampai rasanya mulas dan berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Saya merasakan ketegangan nyata di semua sendi-sendi, tetapi di dalam dada ada semacam getar halus kebahagiaan, akhirnya sebentar lagi saya lulus.

Saya mulai melatih pernapasan dan mencoba untuk tenang. Tidak berapa lama, pintu ruangan diketuk oleh dosen pembimbing saya, ibu Mia disusul oleh penguji saya Profesor Ratna. Saya meminta izin sekali lagi ke kamar mandi sebelum presentasi benar-benar dimulai.

Singkat cerita, sidang skripsi saya yang berlangsung satu jam lebih membuahkan senyum. Saya dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. Saya berjalan keluar gedung sambil mengetik pesan kepada orangtua dan teman-teman saya yang akan lulus di bulan Maret. Beberapa menit kemudian, Auda Aganti, orang yang pernah menyaksikan saya depresi sambil makan soto ayam depan kampus datang memberikan selamat. Waktu itu saya depresi karena karena mengulang matkul Pendidikan Agama. Lalu setengah jam kemudian datanglah Mahatma Waskitadi, sahabat seperjuangan skripsi membawa seikat bunga yang wangi, lalu mengajak foto wajib di depan tulisan: "School of Business and Management".

Percayalah, saat Anda baru saja melawan ketakutan terbesar Anda, Anda akan merasa sangat menang dan kaki terasa tidak menapak di tanah. Itulah yang saya rasakan. Skripsi adalah ketakutan yang saya ingkari, akan tetapi saya harus hadapi. Setelahnya, saya merasa perasaan yang terang benderang seperti mentari, dan jasad yang ringan seperti awan putih. Saya ditemani Auda pergi ke Tokema untuk beli surat kabar, saya ingin seperti Harry Hart di film Kingsman yang merekam hari bersejarahnya dengan potongan headline surat kabar.

With Mahatma Waskitadi yang sekarang sudah jadi bos besar
Saya masih ingat duduk sebentar di payung mengobrol bersama Fadhila Hasna, junior yang baik hati, yang hatinya tidak bisa kudapatkan sebelum pulang ke kosan melalui gerbang depan ITB. Di atas angkot Caringin Sedang serang, saya berharap segera tiba di kosan untuk tidur bercumbu dengan kasur yang sudah lama tidak kurasakan kemesraan di atasnya gara-gara mengejar deadline sidang skripsi. Saya mengabaikan ucapan selamat yang berkedip-kedip di layar handphone.
******

Mempersiapkan hari wisuda, adalah satu ketegangan yang lain, namun menyenangkan. Hari wisuda adalah hari penuh suka cita yang sangat menguras banyak biaya. Tidak seperti rekan-rekan saya yang menyewa hotel untuk orangtuanya, saya cukup senang bisa menyewakan kamar kosan di samping kamar saya untuk bapak, ibu, dan Yudha yang ikut ke Bandung dalam rangka melihat saya pakai toga. Hari wisuda adalah hari dimana kau ingin tampak sempurna. Untuk itu, saya pun merasa harus menjahit setelan jas. Setelah browsing sana-sini, saya memutuskan menjahit setelan di Pasar Baru, pada sebuah kios kecil bernama Seruni di lantai 3. Hasil jahitannya rapih, dan pelayanannya cukup memuaskan. Untuk setelan ini saya mengeluarkan budget 850 ribu. Itu dulu sih, waktu dollar masih seharga 13ribu-an.

Hari wisuda adalah hari yang ingin kupanjangkan menjadi 48 jam, seandainya bisa. Hari itu perasaan saya penuh dengan segala macam keriangan dan kecemasan yang kuabaikan. Di hari itu saya dalam hati mengucapkan selamat tinggal untuk kampus tempatku belajar, mengucapkan selamat jalan kepada teman-temanku yang lapar pengalaman, dan selamat datang kepada rumahku yang telah kutinggalkan beberapa tahun ini.

Malamnya, sebelum benar-benar pulang. Saya menyempatkan bertemu dengan Ichan, Adib, Syiraz, dan Dinyol. Mereka adalah tempat sebagian ceritaku dan pengaruh besar dalam hidupku di Bandung. Kami menghabiskan malam dengan bandrek hangat yang lezat di Lembang sambil mengenang cerita kejayaan dan berandai tentang masa depan.

Kutinggalkan Bandung dengan segala kerinduan. Semoga suatu hari berjumpa lagi dengan kenangan-kenangan yang bisa diputar ke belakang.

Bersama Nasha, si ambi yang selalu rendah hati

Foto bersama keluarga Gubernur Jabar

Noraknya! Berfoto di tugu wajib wisudawan

Bersama Egin, teman rokok-rokok ku di payung. Suka kupanggil ibu polwan.

Juniorku si ambi Evita, saya banyak belajar dari sikapnya yang riang

Bersama Inggrit, suka kuajak ke Bulukumba, tapi tidak pernah kejadian. Yaaa kasiaan...

Yudha, saya, ibu, dan bapakku. My best supporting system!

Alika, Surya, Saya, Ahza, Kodi, Inggrit, Rizki. Teman-temanku yang lebih dulu lulus

Shasa, temanku yang suka bikin horni karena rambutnya yang wangi

Hans, Puput, Mamatos, Auda, Saya, Vincya, Faisal. Kalau berkumpul, selalu gibah. Yang digibah biasanya Auda.

Teman angkatanku yang sekarang sudah tersebar dan terkenal!

Teman-teman Sigulempong, teman angkatanku yang kemarin sama-sama exchange ke USA

Dhila, gadis yang selalu menjadi objek kegalauan selama 2 tahun. Sekarang juga masih sih.


Yudha di Bandung

Yudha kali pertama naik kereta

Kakaknya Yudha dan adik kakaknya Yudha

Mau pura-pura candid tidur

sebelum terbang ke Makassar, saya ajak Yudha, ibu dan bapak berkunjung ke rumah om Budi di Malang.