20.8.17

E

Ingatan adalah bulan di pagi hari yang menolak hilang.
Dan luka-luka adalah musim hujan pada jalanan berlubang.
Kombinasi keras kepala kau bilang.

Aku pernah bilang, ciuman menyalakan kembang api di dalam kepalaku.
Dan kau bilang, itu karena bibirmu adalah malam pekat yang didamba pengelana.
Bagi sebagian pengelana, semua tempat adalah rumah.
Bagi sebagian yang lain, mereka mengembara mencari rumah.
Aku adalah sebagian yang lain.

Ingatan menyimpan sejarah.
Dan luka-luka adalah paragraf panjang yang kita temukan di halaman pertama sebuah buku.
Ada semua nama di sana, setelah Allah SWT yang memberikan rahmat.

Terima kasih.




5.8.17

D

Setiap dering pesan yang datang, aku berharap itu kamu.
Masing-masing meruntuhkan ego sekadar bertukar kabar tentang ingatan-ingatan indah yang mulai melupakan kita. Kita tidak pernah sedekat nadi dan tak juga sejauh matahari. Hanya pernah berbagi bahagia bersama, lalu kembali menjadi asing yang bertekad melupakan dan memaafkan.

Pada suatu dering pesan yang datang, akhirnya itu kamu.

"Jangan bunuh diri kaya pacar Awkarin yaaa kak"




1.8.17

C

Maka jadilah ia, sebuah losmen penginapan.
Biasa saja untuk tiap-tiap selamat datang dan sampai jumpa yang terlalu sering diucapkan.

Ia menanti pulang,
membawa hanya cerita tanpa kalimat kepunyaan.
Didengarkan bersama hening yang panjang.

Raganya berubah menjadi pemuda renta.
Hidup yang tidak ia ingini, menghisap semua kemudaan.
Usianya  menjadi ujung pangkal yang tak bertepi.
Dia ingin merasa abadi untuk setiap jemari yang bisa menyelesaikannya.

Sekali lagi.
Ia ingin mencoba lagi.

25.7.17

B

Di detik orang-orang berbahagia,
adalah detik yang sama orang-orang ingin bunuh diri.
Detik-detik kesendirian yang membuat sakit jiwa.

Kecuali,
ada ruang yang kita sediakan untuk Tuhan hadir di sana.

19.7.17

Tidurlah

Dan jangan bersedih, untuk hal-hal yang belum bisa kau miliki.
Dan tidak semua hal memang akan kau miliki.
Seharusnya, itu adalah kesadaran pertama.

Tidurlah.
Dalam tenang.
Dalam damai.
Dalam segenap hal-hal yang kau miliki hari ini.
Dalam kepasrahan dan keberserahan.


Tidurlah,
di lelap yang terdalam.
Dalam merdeka yang sejati kau punya.

1.6.17

Titik Pertemuan


Kudengar suara menderu di dalam hatiku,
seketika wajah tak akan pernah cukup tampan lagi untuk kutatap di depan cermin.

Kurasakan nyeri menjalar di kaki sampai ulu hati,
oh kamu yang kudamba dan tidak pernah ada keberanian untukku hari ini.

Selalu ada keraguan,
Selalu ada kenangan.

Aku takut, sebenarnya aku tidak sedang jatuh cinta.
Padamu hanya, aku sedang mereinkarnasi kenangan dirinya.
Dia yang kutemukan pada caramu menyapa.
Matanya yang kulihat saat kita bersua.
Padamu, kumenemukan potongan dirinya.

Tetapi tetap saja,
perasaan ini indah.
Semoga memang karenamu,
bukan karena kenangan yang digdaya.

2.4.17

A

Seperti kuduga, menua bukanlah proses alamiah yang menyenangkan. Ambisiku, tekanan sosial, dan ekspektasi dari orang-orang sekelilingku adalah racun yang kucecap dan pelan-pelan membuat hidupku seperti tak punya gravitasi. Aku ada, tapi tidak sepenuhnya menjejak ke bumi. Ragaku adalah jasad yang ditumpangi oleh kegelisahan-kegelisahan. Mereka yang tak seharusnya ada. Dan sering menarik diriku pada kecemburuan masa lalu, penyesalan, dan andai-andai yang tidak mengerti cara menjadi.

Aku mulai sering berbicara pada diriku sendiri, hanya untuk memastikan ia tetap di sana. Masa lalu sering membuatnya lupa, kalau ada hari ini yang berarti. Masa depan selalu membuatnya risau, selalu saja ia menganggap hari ini adalah kesalahan yang ingin segera ia sudahi.

Aku baru saja mendapatkan telepon dari ibu. Dia bilang suaraku lesu dan tidak bersemangat.
Aku bilang, seperti biasanya hari ini tidak ada cerita yang bisa kubagi padamu bu. Hanya ada, amarah dan kebingunganku yang tidak ingin kubagi. Mereka tidak akan pernah bisa kau pahami. Mereka adalah hewan liar, bagian diriku yang tidak pernah kau inginkan untuk pulang ke rumahmu.

Telepon kami sudahi.

Aku kembali melihat kalender, mengamati tanggal-tanggal baik untuk bunuh diri.

9.2.17

The misery is just state of mind



Yeh.
I managed to live here for a month and I am sure a great life waiting for me ahead. It is easy to look back, but I want to assure you that for me one month here been so long. I personally think Jayapura is a perfect combination between nature and modern life. Although, too many stereotypes I've heard from my parents, friends, and everyone I have met regard the local people which most are not too pleasant to hear and very uncomfortable for me because somehow affect my subconscious to start believing all the rumors  are all true. It restraint me to explore this very beautiful land, be brave, lost my self into density of forest vegetation.

For a moment, I want to forget all the rumors. I want to see Jayapura as a friendly city, has a high tolerance among religions, and offer me a friendship that I will always remember, when the day come and I should leave this place. I want to question everything moreover to any assumptions or opinions of others.

Anyway, my work life is the worst than any work experience I have ever tasted. But don't worry, I've prepared myself for this condition. I do not want to say in details, this past month I feel like a whipped horse that ran from morning to night. I despise the working environment that driven by the fear of the boss, long-winded bureaucratic and time consuming, does not create enough space for employee to innovate and take responsibility fairly. There is a sarcasm that always echoed that make the boss happy. It is very stressful because frankly we are running real business not an empire. Customer is someone I should mind!

Waking up in the morning and questioning all my motives, why am I going to work?
Yes, for money sake.
Yes, someday when I have enough money and courage, I'll leave this and start doing my own masterpiece. 
In the meantime, I want to condition my self to be very positive, show my best quality, because all of these are temporary and I want to leave good remarks behind.

Once again.
This is all temporary. Let's have fun.
For the uncertainty in upcoming days, let's embrace it.

&
...
The misery is just state of mind.

21.11.16

Mereka Hanya Kehilangan Penglihatan, Bukan Harapan.

Foto bersama - Penyandang Tuna Netra dan Relawan Pembisik

Sabtu (19/11/2016) saya menyempatkan diri menjadi relawan pada sebuah acara Bioskop Bisik yang diselenggarakan oleh Thinkweb dan British Council di Kota Tua, Jakarta. Bioskop Bisik pada dasarnya adalah sebuah kegiatan menonton film bersama penyandang tuna netra dan para relawan sebagai pembisik yang mendampingi bertanggung jawab untuk membisiki penyandang tuna netra tentang alur dan keadaan visual film, sehingga penyandang tuna netra mampu menjahit setiap scene film menjadi sebuah cerita yang utuh,


Sebelum acara dimulai, kami diberi kesempatan untuk mengobrol sambil mengakrabkan diri dengan penyandang tuna netra. Saya berkenalan dengan Mas Adi, berusia 39 tahun, belum berkeluarga dan menyandang tuna netra sejak usia 7 bulan. Mas Adi sangat terbuka menceritakan keadaanya. Obrolan dimulai dengan bertanya: Bagaimana Mas Adi menjalani aktivitas sehari-hari?

Saya mengambil kesempatan ini untuk menyelami kehidupan Mas Adi, dan melihat kehidupan saya, sambil berpikir apa yang berbeda. Kalau Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, Kok Tuhan tega sih membuat saya buta? kira-kira seperti itu gugatan Mas Adi kepada Tuhan saat usianya belasan. Kemudian dalam proses hidup, Mas Adi menemukan kesadaran baru, bahwa semua ciptaan Tuhan adalah sempurna dan memiliki tujuan. Mas Adi pun memilih untuk merayakan kesadaran itu dan berhenti menggugat.

Dalam obrolan tersebut, saya bercermin dengan kehidupan sendiri. Saya menyadari banyak hal, termasuk keabaian saya dalam bersyukur. Mungkin, cara bersyukur yang paling baik adalah dengan menjaga anugerah Tuhan yang dititipkan kepada kita. I know it sounds cheesy and cliche, but it is the only thing I can convey regard this situation.

Saya melihat, mereka yang buta tidak nampak terlalu terpuruk seperti yang ada dalam bayangan saya. Mereka terlihat bahagia-bahagia saja. Mas Adi juga bilang, penyandang tuna netra tidak melulu sedih dan mengutuk keadaan. Mereka mungkin sama saja seperti kita, sering juga merayakan kebahagian dan terkadang sedih sampai meraung-raung. Mereka bisa saja hanya kehilangan penglihatan, tetapi tidak kehilangan harapan hidup.

Ini adalah kali pertama saya mengikuti kegiatan semacam ini. Saya merasa sebagai relawan pemula mempunyai banyak kendala dalam mengaudiokan elemen-elemen visual dalam film yang diputar. Tetapi tidak masalah, my story telling skill got better when film reach its half. Saya juga mau menyarankan kepada kamu, aktivitas volunteering seperti ini mungkin bisa jadi alternatif menarik saat weekend kamu hanya diisi kegiatan goler-goleran di kasur.

Suasana Menonton Bioskop Bisik

11.9.16

Setelah menelepon ibu


Aku ingin kembali mengulang,
pelukan hangat di depan pintu
pada subuh yang masih remang

doa-doa yang mengiringku pergi
tidak pernah memintaku untuk pulang
hanya agar aku terhindar dari nasib malang

harapan yang kau selipkan pada saku
telah menyimpan rahasia di ujung lidahku
yang tak sengaja kutelan dan menyekat kerongkongan

Setiap kita bertukar kabar,
perkataanku berubah menjadi puisi
yang menghibur uban di kepalamu
sedang kau baru saja menjentik kolam kesunyian dalam dadaku

Selalu seperti itu