10.12.17

H

sudah habis air mata, sia juga kata-kata.
dia yang ingin pergi, tak usah kau halangi
sewaktu dia kembali, apakah kau masih punya sisi untuk dibagi?

Mungkin masih.
Tetapi,
sudah habis air mata, sia juga kata-kata.




6.12.17

G

Pada ucapan selamat tinggal,
semua tentangmu muncul ke permukaan ingatan

aroma kakimu yang lembap,
urutan gerak syaraf di wajahmu sebelum kau tersenyum,
diammu saat sedang ingin didengarkan,
chicken carbonara,
ice lemon tea,
dan potongan-potongan peristiwa
secuplik kemesraan
bentang rindu yang menaklukkan kita
dan setiap jarak yang selalu ingin kita dekatkan.

Pada ucapan selamat tinggal,
kau ada di antara semua nama nama yang baru kukenal
kau ada di antara tumpukan buku-buku yang sedang kubaca
kau ada di antara semua keindahan yang kusaksikan dengan mata
kau ada dalam kepala
ada di dalam mata

ada di dalam usaha
ada di dalam setiap amuk dan remuk jiwa
ada di dalam doa
dan tidak pernah beranjak kemana-mana.

Ternyata duka adalah keindahan yang kulupakan.
semua tentangmu kuadukan kepada Yang Kuasa.

Kalau saja memang angan akan menjadi,
maka jadikanlah ia.

atau sembuhkanlah,


aku
yang
dirudung
lara.

25.11.17

Untuk Kekasih Baca di Akhir Pekan

Kekasih, kita adalah sejarah.
Selalu menemukan cara untuk menjadi fenomena yang berulang.
Kau boleh menganggap aku adalah kesalahan dan bukan kenangan.
Tapi bagaimanapun, aku selalu menganggap kamu masa depan.

Kekasih, waktu akan membuktikan kita adalah sejarah.
Nanti waktu bisa lupa kita sedang marah, kemudian diam-diam menyandingkan kembali kita.
Dua entitas asing yang ingin menjadi fenomena.

Saat proklamasi,
kekasih mau jadi Bung Karno atau Bung Hatta?

2.10.17

F



Sekarang tinggalah kisah kita yang mati dan lupa diberi nama.

Aku berubah menjadi layang-layang, dan aku lupa mengingat kau menjadi apa.
Kesendirian ini menenangkan,
adalah damai yang kusudahi.
Usai kasih kita, aku ingin terbang lebih tinggi dan mencipta ruang angkasa dalam hati, kehampaan yang tak berbatas sekaligus ketenangan yang ingin segera kutemui.

Hujan turun dari langit lalu menggenang di bawah kelopak mata.
Aku layang-layang dengan benang yang tak cukup panjang untuk kau ulur sampai jauh.
Sampai hilang keruh dari keluh.
Sampai nanti jatuhku, tidak akan pernah bisa dikejar dengan kaki kaki atau dengan kepala mendongak.

Dimanakah tempat dan jalan yang mengenang kita, dan lupa kita beri tanda?

Fak.
Fak.

Bukanlah sebuah nama tempat.

20.8.17

E

Ingatan adalah bulan di pagi hari yang menolak hilang.
Dan luka-luka adalah musim hujan pada jalanan berlubang.
Kombinasi keras kepala kau bilang.

Aku pernah bilang, ciuman menyalakan kembang api di dalam kepalaku.
Dan kau bilang, itu karena bibirmu adalah malam pekat yang didamba pengelana.
Bagi sebagian pengelana, semua tempat adalah rumah.
Bagi sebagian yang lain, mereka mengembara mencari rumah.
Aku adalah sebagian yang lain.

Ingatan menyimpan sejarah.
Dan luka-luka adalah paragraf panjang yang kita temukan di halaman pertama sebuah buku.
Ada semua nama di sana, setelah Allah SWT yang memberikan rahmat.

Terima kasih.




5.8.17

D

Setiap dering pesan yang datang, aku berharap itu kamu.
Masing-masing meruntuhkan ego sekadar bertukar kabar tentang ingatan-ingatan indah yang mulai melupakan kita. Kita tidak pernah sedekat nadi dan tak juga sejauh matahari. Hanya pernah berbagi bahagia bersama, lalu kembali menjadi asing yang bertekad melupakan dan memaafkan.

Pada suatu dering pesan yang datang, akhirnya itu kamu.

"Jangan bunuh diri kaya pacar Awkarin yaaa kak"




1.8.17

C

Maka jadilah ia, sebuah losmen penginapan.
Biasa saja untuk tiap-tiap selamat datang dan sampai jumpa yang terlalu sering diucapkan.

Ia menanti pulang,
membawa hanya cerita tanpa kalimat kepunyaan.
Didengarkan bersama hening yang panjang.

Raganya berubah menjadi pemuda renta.
Hidup yang tidak ia ingini, menghisap semua kemudaan.
Usianya  menjadi ujung pangkal yang tak bertepi.
Dia ingin merasa abadi untuk setiap jemari yang bisa menyelesaikannya.

Sekali lagi.
Ia ingin mencoba lagi.

25.7.17

B

Di detik orang-orang berbahagia,
adalah detik yang sama orang-orang ingin bunuh diri.
Detik-detik kesendirian yang membuat sakit jiwa.

Kecuali,
ada ruang yang kita sediakan untuk Tuhan hadir di sana.

19.7.17

Tidurlah

Dan jangan bersedih, untuk hal-hal yang belum bisa kau miliki.
Dan tidak semua hal memang akan kau miliki.
Seharusnya, itu adalah kesadaran pertama.

Tidurlah.
Dalam tenang.
Dalam damai.
Dalam segenap hal-hal yang kau miliki hari ini.
Dalam kepasrahan dan keberserahan.


Tidurlah,
di lelap yang terdalam.
Dalam merdeka yang sejati kau punya.

1.6.17

Titik Pertemuan


Kudengar suara menderu di dalam hatiku,
seketika wajah tak akan pernah cukup tampan lagi untuk kutatap di depan cermin.

Kurasakan nyeri menjalar di kaki sampai ulu hati,
oh kamu yang kudamba dan tidak pernah ada keberanian untukku hari ini.

Selalu ada keraguan,
Selalu ada kenangan.

Aku takut, sebenarnya aku tidak sedang jatuh cinta.
Padamu hanya, aku sedang mereinkarnasi kenangan dirinya.
Dia yang kutemukan pada caramu menyapa.
Matanya yang kulihat saat kita bersua.
Padamu, kumenemukan potongan dirinya.

Tetapi tetap saja,
perasaan ini indah.
Semoga memang karenamu,
bukan karena kenangan yang digdaya.