9.1.10

Kawan, Masihkah Kau Ingat Bualanku?

Setahun lalu,aku terpilih menjadi ketua kelas atas 44 anak yang belum ku tahu betul perawakannya seperti apa. Mereka sibuk satu sama lain, membentuk koloni-koloni yang tak jelas.
Walaupun begitu mereka adalah teman, sahabat, keluarga, bahkan ada pula musuhku.

Kelas X.1 yang penuh debu, kacanya berlapis debu walau tiap hari dilap, atau kelas yang sering dapat teguran karena paling dekat dengan ruang guru, dan kelas dimana salah seorang sahabatku mati akibat kekonyolannya.

Di kelas ini, aku selalu sibuk di bangku kayu yang menurutku telah dipakai berabad-abad, sana-sini nama manusia terpajang lewat tinta pena atau coretan pemutih dan akupun tak pernah sanggup dan sempat menghitungnya.

Kesenian tulis-tulis nama seperti itu mengingatkanku pada zaman prasejarah dan mezolithikum (entahlah apa yang tepat) yang sering diajarkan ibu Bau Opu dan aku jamin kalian bakal mengingatnya sampe mati (gimana tidak kalau materi itu terulang setiap minggu selama setahun). Atau tertawa terbahak-bahak kala mempelajari biografi yang seharusnya geografi oleh pak Basri. Karena pelajarannya di hari sabtu, maka beliau selalu menutup pertemuan dengan kata 'selamat bermalam minggu'. Di pelajaran ini aku jamin kalian tak pernah dapat nilai error karena dia sungguh sangat pemurah..hahaha

Sebenarnya masih banyak yang ingin ku ceritakan kepadamu tentang keadaan kelas kita setahun lalu, tetapi aku ragu, apakah kalian punya kenangan itu sama seperti yang kusimpan? ehmm..tidak! karena kalian punya mata, kalian punya sudut pandang sendiri, dan kalian mahluk spesial yang tak pernah terlahir untuk kedua kali.

Kelas ini selalu kuceritakan mimpi-mimpi besarku yang terkadang penuh bual dan kalian pun mengangguk setuju, walau suara sumbang di antara kalian berteriak tak masuk akal!

Aku mulai bercerita kepada kalian, tentang beberapa lembar kertas yang sama sekali aku tak tahu. Aku mulai beromong kosong di hadapan kalian, "Kawan ini formulir dan akan menjadi tiket bagi kita untuk belajar dan terpental jauh ke belahan dunia berbeda,"

Saat itu, kita bercerita tentang negara-negara besar di dunia ini, yang tak sekalipun kita pernah berada di sana, hanya streotype dari televisi yan kita punya. Aku dan kalian beradu pendapat, dan sering pula kita punya pikiran yang sama. Kita tak pernah sekalipun yakin, dan aku sampai menganggap ini mustahil! (eee..bukan mustapa nah! awasko sebut nama bapakku!)

Sekarang, aku mungkin yang terpental lebih dulu, sebagai bahan percobaankah atau sebagai anugerah, aku tak pernah tahu. Tapi aku yakin, semangat itu masih engkau simpan, semangat setahun lalu, atau mungkin sejak kalian lahir!

Kawan, hidup ini akan berputar, dan ku terdiam dalam sujudku semoga kita ada di puncak roda saat roda itu berhenti berputar!

worthington, ohio 25th august 2009 7.41 am

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan