9.1.10

Pelajaran dari Bocah Urban

Saat hujan mengguyur kota metropolis Makassar, aku sedang terduduk di salah satu pojok kompleks perumahan kumuh, tempat kaum korban keserakahan pembangunan yang menurutku sudah jdi mesin kapitalisme!

Di sini, bau amis menyengat hdungku. Bau penderitaan kanal besar yang membelah kota ini. Bau yang justru jadi kawan dari bocah-bocah yg malah asyik bersama cipratannya dan bersyukur atas nikmat dri-Nya atas hujan yang banyak membawa rezeki bagi mereka!

Di kanal besar ini,perjuangan mereka dmulai! Dari kanal yg tiap hari semakin dangkal karena lumpur dan sampah yg mengendap!

Tubuh kecil bocah itu,sungguh tak proporsional dengan tongkat panjang dengan jaring besar di ujungnya, mereka gunakan untuk menangkap sampah palastik yang terbawa arus kanal akibat hujan.

Ada senyum kebahagian, kadang pula ada rawut kecewa. Tidak peduli dengan bau, cipratan lumpur dan berbagai kuman penyakit yang siap menggrogoti tubuh mereka kapanpun!

Mengumpulkan pecahan rupiah sudah menjadi kewajiban mereka, sedang anak seumuran mereka masih merengek disediakan ini itu dan hidup tenang merasakan masa kecil yang nantinya menjadi seri literatur kehidupan.

Hujan smakin deras, aku branjak dr pojok yg telah memberiku bnyak sekali pelajaran!

Semangat juang bocah itu, adalah guru! Mengajariku untuk tidak jadi manja dengan fasilitas kemewahan, tidak menjadi lupa atas kewajiban yang sungguh telah tiba waktunya untuk tersandang ditubuhku yg tak punya gurat otot, hanya tumpukan lemak!

Aku berlari dtengah deras hujan, bocah-bocah itu melemparkan senyumnya dr tmpat yg sangat menjijikkan bgiku,tapi dimatanya kulihat terang harapan mereka untuk jadi lebiH baik. Hari ini mereka boleh menangis,tapi besok mungkin saja merekalah yang akan paling berbahagia!

04:01pm Wed 01/07/2009

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan