12.3.10

Indonesia punya banyak orang hebat! *ternyata

6 bulan. Sepertinya sudah cukup waktu untuk merenung soal Indonesia.

Q: "Pengalaman jadi exchange student gimana rasanya?"
A: "Aku serasa jadi pendusta".

Q: "Kok bisa?"
A: "Aku selalu bilang aku bangga dengan Indonesia"

Q: "Apa masalahnya?"
A: "Aku berbohong, aku berkata seperti itu bukan dari lubuk hati yang paling dalam. Aku berkata seperti itu hanya karena aku menanggung tanggung jawab sebagai perwakilan Indonesia. Orang di Indonesia berharap orang luar negeri memiliki kesan bagus tentang Indonesia. walaupun sebenarnya tidak sepenuhnya seperti itu."

Q: "Kalau menurutmu sendiri gimana?"
A: "Aku sebetulnya bangga dengan Indonesia. tapi tidak dengan pemimpinnya".

Q: "Mau bicara yang mana dulu, buruknya Indonesia atau baiknya Indonesia".
A: "Aku lebih suka bicara kelebihan negaraku lalu kelemahannya, sehingga pembicaraan ini meninggalkan pesan agar bangsa Indonesia berintropeksi diri.
Kalau membicarakan kelemahan dulu lalu kebaikan kemudian, aku takut mental kita saat ini membuat kita merasa kelebihan bangsa sudah menutupi kelemahan, sehingga membuat kita berleha-leha tanpa mau memperbaiki diri".

Q: "Lalu apa kebaikan Indonesia?"
A: "Aku senang dengan kultur Indonesia, adat istiadat dan pembawaan orang Indonesia".

Q: "Lebih rincinya?"
A: "6 bulan aku di Amerika, aku belum pernah melihat satu rumahpun dengan ruang tamu, sedangkan di Indonesia sepertinya tiap rumah memiliki ruang tersendiri untuk menjamu tamu. Harus diakui, Indonesia memang punya kelebihan dalam menjamu seseorang. Aku tidak heran kalau Indonesia mendapat gelar bangsa yang ramah".

Q: "Yang lain?"
A: "Adat Indonesia benar-benar menjunjung orang tua di tempat yang seharusnya".

Q: "Kok bisa?"
A: "Orang tuaku menegurku kala aku berbicara pada mereka dengan berdiri sedangkan mereka sedang duduk...orang tuaku marah apabila aku memotong pembicaraan mereka...aku kira dulu itu tidak terlalu penting. Tapi kini begitu aku jauh dari orang tuaku, aku menyesal aku belum bisa menghormati mereka seperti aku seharusnya menghormati mereka".

Q: "...menarik. Lalu apa lagi kelebihan Indonesia yang kamu banggakan?"
A: "Sumber daya alamnya. Sekali lagi sumber daya alam. Sejauh yang aku tahu, Indonesia adalah salah satu negara dengan sumber daya alam terkaya di dunia. Aku serius. Aku tidak sedang berbicara tentang Pt Freeport yang merampok emas kita, Exxon Mobil yang mengambil blok Cepu, atau perusahaan asing di Belitong yang mengambil Timah bangsa kita. Aku membicarakan betapa banyak kekayaan alam yang kita miliki...lihatlah sudah bertahun-tahun orang-orang luar memperkosa alam kita, namun alam kita masih berbaik hati terus membagi apa yang ia miliki."

Q: "Masih ada lagi yang ingin kamu bicarakan tentang kebaikan Indonesia?"
A: "Ya, ada. Tapi aku tidak mau membicarakannya saat ini. Biarlah siapapun yang membaca pembicaraan ini menelusuri sendiri apa saja kelebihan bangsa Indonesia".

Q: "Bukankah masih banyak kebaikan Indonesia?"
A: "Tentu, masih banyak kebaikan Indonesia. Terutama kultur dan adatnya. Ternyata Indonesia jauh lebih baikberharga daripada yang aku kira".

Q: "Berarti jauh dari Indonesia sedikit banyak merubah dirimu?"
A: "Kurang lebih seperti itu".

Q: "Aku sepertinya lelah kalau kita berbicara tentang hal-hal rumit tentang filosofi dan teologi. Ayo kita berbicara mengenai hal-hal yang ringan saja".
A: "Sounds good".

Q: "Lalu? apa yang berubah?"
A: "Aku malu, dulu aku selalu ingin makan fastfood Amerika seperti teman-temanku. Jujur saja, orang tuaku saat itu tidak punya uang cukup untuk membelikanku makanan mahal seperti itu..belum lagi aku harus berbagi dengan kakakku"...

Q: "......, lalu?"
A: "Entahlah, aku marah sekali pada orang tuaku saat itu. Aku ingin makan fastfood agar merasa keren, aku merasa makan makanan homemade tidak begitu istimewa."

Q: "Dan sekarang?"
A: "Entahlah, aku hanya bisa bilang kalau aku sekarang harus memilih antara martabak telor dan pizza, aku memilih martabak telor. Kalau disuruh milih antara batik atau kaus Nike, aku jelas milih batik walaupun juga tergantung kondisi".

Q: "Aku mengerti kalau soal makanan..tapi soal kaos?"
A: "Kaos, jaket dan mantelku mereknya Nike. Tapi di labelnya tertulis "made in Indonesia" dan aku tidak sedang bercanda. Ternyata barang-barang sport import dari Amerika bukan buatan Amerika. Lalu kenapa harus mengejar merk? apa sih yang kita beli dan pakai, merk atau pakaian?"

Q: "Kalau soal manusianya?"
A: "Maksudnya?"

Q: "Kalau kamu misalnya harus milih gadis bule atau gadis Indonesia, pilihanmu?"
A: "Kenapa kamu tanya?"

Q: "Aku pikir karena kamu sudah 6 bulan di sana, tentu mengerti beda, kelebihan dan kekurangannya, biarlah orang-orang menertawakan pertanyaanku".
A: "Hmm, kalau aku sih tergantung kriteriaku. Mengenai apa saja kriteriaku, itu bukan urusanmu...tapi aku sekarang sudah bisa melihat secara objektif".

Q: "Maksudnya objektif?"
A: "Mungkin banyak orang menilai gadis bule yang notabene berhidung mancung, berkulit putih, dan berambut pirang/cokelat lebih cantik...tapi menurutku tidak selamanya seperti itu. Anyway, bukankah pembicaraan kita di awal adalah tentang Indonesia?".

Q: "Ya, kurasa kita sudah cukup membicarakan kelebihan Indonesia".

1 comment:

  1. asli, keren! bener inspiratif *sok-sokan ceritanya*

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan