23.1.12

SNMPTN 2012, Bersiaplah!


Barusan saya ditelepon seorang sahabat, namanya Fred. Dia bilang, ia akan pulang ke Bulukumba.
Untuk apa?
Dia mau membantu adik-adik di smada beka mengurus SNMPTN Undangan.
Fred mengalihkan ingatanku ke tahun lalu saat mendaftar PTN lewat jalur ini.
Sudah bukan rahasia kalau sekolah saya ini memang defensif terhadap perubahan. Lambat dan sangat menikmati birokrasi belibet yang menurut saya sangat kaku dan tidak kondisional. Bercerita tentang ini, membuat saya selalu benci dengan sekolah ini dan juga dengan guru-guru yang mendukung sistem ini berjalan.
Well, kalau berbicara kebobrokan sih akan banyak dan membuang-buang waktu saya.
Saya jadi sempat berkeinginan, tidak akan merekomendasikan sekolah ini ke siapapun apalagi keluarga saya!

"PLEASE JANGAN BUANG WAKTUMU 3 TAHUN UNTUK SEKOLAH DI SMADA"

I don't say smada is not good at all. Atau mungkin beberapa dari kalian berpikir kalau saya tidak bersyukur bisa sekolah di sini. Well saya sangat bersyukur dan berterima kasih, saya hanya benci dengan sistemnya, noted it 'SISTEM-nya'. Saya sangat cinta sama guru-gurunya, but not all of them.

Nah, pas tahun kemarin untuk pertama kalinya Indonesia bikin sistem SNMPTN baru, which is 'SNMPTN Undangan'. Saya coba mengajukan jalur ini ke guru BK saya waktu itu, dengan sistem baru yang serba online registration ini  nampaknya sekolah saya tidak begitu tertarik. 'HOW DARE YOU!'
Untuk beberapa waktu, saya tidak mendapat kabar kelanjutan tentang SNMPTN Undangan dari guru saya. Saya terus memburu kelanjutannya, hingga saya mengambil sendiri inisiatif ' to TAKE CONTROL OF EVERYTHING' lalu saya kemudian utarakan maksud saya, dan meminta kelengkapan sekolah seperti sertifikat akreditasi ataupun leger nilai.

Saya rasa untuk registrasi SNMPTN Undangan memang ribet dan membutuhkan konsentrasi yang tinggi, soalnya menyangkut masa depan banyak teman-teman saya. Untungnya saya tidak sendiri, kala itu saya dibantu banyak oleh Izwar, Arfan, Risma, Aulia dan Fitri kalau tidak salah ingat. Mereka tim yang solid. Dan memang saat itu saya membutuhkan mereka!

Mulailah kita masukkan nilai leger, kemudian secara otomatis sistem komputer meng-sort nama-nama yang eligible untuk daftar.Kita lalu memasukkan nilai rapor dari semester awal juga membutuhkan ketelitian tinggi. Dan yang tak kalah melelahkan adalah menentukan pilihan atau urutan jurusan PTN.
Mungkin banyak yang tidak dipahami teman saya dalam mendaftar adalah strategi memilih jurusan berdasarkan minat dan statistik peluang. Itulah mengapa tidak lebih dari setengah teman-teman saya beruntung lolos di SNMPTN Undangan.

WELL DONE!
mungkin secara tidak langsung saya telah membantu membuka jalan masa depan mereka. Mungkin sekolah saya bangga, tapi kelihatannya biasa saja. Sekolah saya tidak terlalu begitu mengapresiasi ini, apalagi mengapresiasi kerjaan saya dan teman-teman. Pasti sebagian dari kalian yang membaca ini bilang saya gila penghargaan, well itu kodrat manusia.

Saya kembali tertawa kecil sambil menyeruput teh hangat saat menulis ini, mengingat betapa tipisnya batas antara mimpi kuliah di ITB dan ke-masa bodo'an sekolah saya. Apa yang terjadi jika kesempatan itu terlambat diambil, 'seandainya...seandainya...' adalah kata terakhir yang membuat kita semakin bodoh menyesali perginya kesempatan.

Siapapun kalian, mimpi kalian ada buat dipertahankan, orang lain pasti kurang suka melihat kalian gigih meraihnya. Tapi percayalah bahwa niat yang kuat dan ridho Orangtua adalah kunci Tuhan mengabulkan cita-cita kalian.

Sukses Fred, semoga adik-adik kita bisa lebih baik jenjang pendidikannya.
Amin

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan