5.2.12

Jarak.Hidup-Mati

Tempo hidup manusia itu sangatlah singkat, sebagaimana kita diadzankan ketika lahir lalu disolatkan ketika roh bercerai dengan jasad, maka begitulah hidup manusia tidak lebih panjang temponya dari Adzan dan Iqamat-anonymous  


Pagi ini sangat jarang saya bangun dan merenung.
Biasanya bangun tidur prosesnya; buka mata, buka BB, malas-malasan, dan buka laptop, tapi pagi tadi pas buka BB saya tersentak dan langsung dalam keadaan sadar mendengar kabar kematian Ayahanda sahabat saya Najwa Assilmi dipanggil Tuhan secara mendadak.


Berita kematian begitu mendadak, saya nggak suka!
sama seperti kuis tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
saya mungkin belum bisa memahami perasaan orang-orang yang ditinggal ayah atau/dan ibunya.
Tapi saya juga pernah merasa kehilangan karena kematian.


Kematian pertama yang pernah saya alami adalah, kematian nenek dari ibu ,
saya bingung banget mau ngapain, entah mau nangis atau biasa aja.
I refuse to cry, and I dont wanna cry
But still the missing path is real for me, my body was shaking while my eyes started to produce thing and later I figured out that I couldn't stop crying.


Kabar kematian selalu bawa peringatan kepada yang hidup.
Bagi saya kabar kematian semacam 'alert' kalau saya masih hidup dan saya harus siap untuk mati dan merelakan kematian.
Entah besok ayah, ibu, kakak, adik,teman, guru, siapapun yang mati, saya berdoa semoga diberi KESIAPAN.


Tuhan, semoga Engkau memberikan tempat terbaik kepada Ayahanda sahabat saya, dan memberikan ketabahan baginya dan keluarganya.
Terima kasih kematian karena telah ada dan mengajarkan arti hidup...

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan