29.6.12

Perasaan kita (aku saja) pagi ini

Sambil menikmat jalannya pertandingan sepakbola malam ini, Balotelli penyerang Italia telah memasukkan satu gol untuk gawang German di babak pertama.
Tidak ada kopi penahan kantuk, mataku masih terjaga.
Waktu menunjukkan 2.15am, laptopku masih menyala. Modem pemberian Jua sudah sedari tadi berkedip, sebentar-sebentar warna hijau lalu kemudian biru.


Aku masih  menghabiskan membaca semua tulisan yang pernah kau tulis di blog mu. Mengikuti perkembangan kedewasaan sekedar mengenal siapa dan bagaimana harimu berjalan.


Tentunya aku berharap kau yang menceritakan semua ini padaku. Dalam obrolan santai di sore hari, tanpa sebuah keterpaksaan. Walau hari sudah gelap, tak satupun ingin beranjak. Kita mencari alasan untuk tetap tinggal. Dan kau memilih untuk menghabiskan cerita.




Kadang aku berpikir kalau di jaman percintaan Chairil Anwar, perasaan cinta membuat laki-laki menjadi seorang lelaki. Tidak ada facebook untuk mengetahui apa yang sedang ia pikirkan, tidak ada twitter untuk tahu dia sedang berbuat apa, foursquare takkan membocorkan dimana keberadaannya dan tempat yang ia singgahi, apa pula dengan instagram.
Satu-satu hal yang harus dilakukan untuk menuntaskan rindu kepadanya adalah dengan menjelma jadi penguntit, mencari kabar dari kerabatnya, atau kalau saja keberanian masih ada, kau bisa saja langsung menjabat tangan dan berbagi nama dengannya.


Rasa-rasanya aku baru saja menjadi pengecut hidup dijaman ini. Aku mengenalmu dengan cara tak terduga, dan mulai mengikuti perkembanganmu tanpa kau pernah sadar. Ku pandangi semua galeri fotomu, tanpa pernah ku merasa canggung disorot oleh mata seindah itu.


Aku tahu kau sedang dimana, twitter memberi tahu ku setiap saat.
Aku tahu siapa teman dekatmu, kau berulang kali menyebutkan namanya dalam paragraf yang kau susun di blogmu.
Aku tak perlu berada dalam jarak pandangmu ketika rindu, kau sudah terlalu baik membagikan fotomu untuk dinikmati pengecut-pengecut lain dari kaumku.


Saat ku ketik kalimat ini, Balotelli baru saja memasukkan golnya yang ke dua. Masih dibabak pertama.
Bisa jadi perumpamaan. kau telah telah mengkali dua perasaanku, padahal kita masih ada di babak pertama. Aku dan kamu belum pernah sekalipun berbincang.


Saat aku nakal, imaji romansa ini masuk dalam skenario percintaan Inggit dan Soekarno. Aku lebih suka mengandaikan kamu adalah seorang Inggit Garnasih dan aku Soekarno. Kita berdua terlarut dalam perasaan yang sama yang dipinggirkan hening.


Lalu dalam ketidaksabaran kita, aku mengatakan hal yang sama dengan apa yang Soekarno katakan pada Inggit,
Soekarno bicara dengan perlahan: "Aku mencintaimu"
Inggit segera membalas dengan cepat: "Aku pun begitu"


sesederhana itu dengan maksud yang tersampaikan.
Tapi keadaan kita tidak sederhana, aku belum pernah sekalipun berbincang denganmu. Kau selalu berdiri di jarak pandangku, tanpa pernah merasa dipandangi padahal ujung mataku mengawasimu.


Terlalu cepat juga kalau ku ulurkan tangansekarang.
Aku tidak mau kisah kita seolah direncanakan. Aku sangat suka membuatnya mengalir sambil mengharap ada kebetulan yang menjadi sebab kita tertarik.


Pertandingan Italia malam ini semakin memanas. Buffon sangat telaten bergerak menepis terjangan bola.
Aku tidak mengharapkanmu seperti Buffon.
cukup kau seperti Inggit saja.


Kau tahu apa yang ku maksudkan di sini?


Aku hanya tidak ingin saat liga di hati ini memanas, kau kemudian bergerak menepisnya.
Bukan itu yang disebut menang. Menang itu sesederhana kau mempercayaiku dan aku percaya padamu.


Sudah lama kurindukan sosok yang penyayang, sejak kutinggalkan rumah ibu. Kupercayakan itu padamu.
Walaupun kita belum pernah berbincang.


Sudahlah, semua hasrat ini pasti bisikan setan.
Aku mau belajar mencintaimu sekali lagi, tapi tidak akan mengalahkan cintaku pada Tuhan dan Rasulullah.
Kubiarkan kebetulan itu diatur oleh Tuhan, karena cara Tuhan lebih baik dalam menyusun diksi yang tepat di penggalan kata yang akan kusampaikan padamu pada saat yang tepat.


Selamat pagi
postingan ini ku akhiri atas kemenangan Italia 2-1 atas German

3 comments:

  1. Ahh kawan, tulisanmu bikin saya termangu :0

    tapi juga ikut sedih karena jerman kalah -___-"
    Ahh, sudahlah sy ikhlaskan saja.

    Nice blog bro :)
    Serius, saya suka ini.

    ReplyDelete
  2. wah keren sekali, mengibaratkan Soekarno dan Inggit. Kagum sy dengan tulis mu ;). Sy juga sangat suka dngan argumen mu mengenai twitter dan facebook dngn menganalogikannya dengan sastrawan Chairil Anwar. Keren!!!

    btw sy penggemar bung Karno, situ?

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan