9.9.12

Ekspedisi Rinjani Part 1


14 Mei 2012


Perjalan dimulai.

Semua orang bersemangat untuk memulai pendakian ke Rinjani.
Carrier kami sudah siap. Sesak dengan berbagai macam peralatan dan makanan.
Dalam kepala, sudah berputar bagaimana indahnya lombok dan seperti apa horizon akan memeluk kami di puncak gunung tertinggi ke dua di Indonesia nanti.

Ide gila ini saya cetuskan bersama Salman, kemudian mengajak serta Ramadhan, Iqro, dan Barip.
Diantara kami, cuma Barip yang punya pengalaman memeadai dalam mountaineering, yang lainnya cuma punya semangat dan stamina.

Sebelum terbang ke Lombok, kami semua berkumpul di rumah Barip di daerah jakarta Barat.
Obrolan ringan dan kekhawatiran menjaga setiap kami hingga larut malam.
Tidur pun rasanya tak nyenyak. Gelisah menunggu besok sekaligus khawatir dengan susahnya medan di Rinjani.

15 Mei 2012

Perjalanan Jakarta - Lombok kami tempuh menggunakan pesawat Lion Air selama dua jam.
Harga tiket pesawatnya Tujuh Ratus Ribu Rupiah. Untuk pengalaman seumur hidup, saya rasa itu harga yang pas. Sebelum pesawat benar-benar menyentuh daratan Nusa Tenggara Barat, dari atas kami sudah bisa melihat gagahnya puncak Rinjani, menjulang seperti tiang raksasa yang menahan langit.


left-right : Salman and Me at Lombok International airport

Keluar dari Bandara Internasional Lombok, Waktu Indonesia Tengah saat itu pukul 11am.
Kami dijemput oleh mobil rental yang sebelumnya kami pesan saat di Bandung.
Sebelum benar-benar diantarkan ke kaki Rinjani di Sembalun, kami menyempatkan berkeliling ke Mataram, pusat kota di lombok.

Di perjalanan, kami singgah memanjakan perut untuk santap siang sebelum pendakian, pilihan pun jatuh pada Ayam taliwang, makanan khas Lombok. Makanannya enak, tetapi harganya tidak terlalu bersahabat.

kemudian kami lanjutkan perjalanan...

Perjalanan sesekali membuai saya dan tertidur, kemudian terbangun lagi, begitu seterusnya.
Pemandangan dari jendela sangat menghibur, gaya arsitek mesjid di lombok menjadi pusat perhatian saya.


Mesjidnya menyerupai 'pura'. Asumsi saya mungkin dulu lombok mendapat pengaruh kuat dari agama Hindu. tetapi sekarang mayoritas penduduk di sini beragama Islam.


*****


Desa Sembalun Lawang. Gambar diambil dari google, lupa sumbernya.

Sampailah kami di Pos Taman Nasional Rinjani,Sembalun Lawang, sudah terlalu sore dan matahari tidak hangat lagi.
Cuaca di ketinggian 1156 mdpl memang lumayan dingin. Kami di sambut hangat oleh mas Dibi, untuk registrasi. Cukup membayar Sepuluh Ribu Rupiah untuk tiket pendakian pendaki domestik.
Di Pos ini juga disediakan tempat menginap, harganya Lima Puluh Ribu Rupiah/ Malam/ Kamar.
Kamarnya bersih, airnya lancar, dan cukup luas untuk ditempati kami berlima.

Sembalun desa kecil yang dikepung oleh bukit dan gunung.
Dari sini, Puncak Rinjani bisa terlihat jelas. Kami tidak ada waktu untuk bercerita panjang lebar malam ini. Semuanya tidur lebih awal, tetapi saya masih gelisah. Rinjani Terlalu Tangguh Untuk Saya Daki.


16 Mei 2012


Perjalanan dimulai 7.08am.
Kami mengisi perut sebelum berangkat di warung dekat pos pendakian.
Cuaca masih dingin. Tapi hati saya panas.
Sejak subuh, saya berulang mengucapkan bismillah akibat pijar kerlap kerlip senter pendaki yang bergerak lambat mendekati puncak Rinjani. Bisa terlihat jelas dari pos ini.


First step to top of Rinjani. left-right: Ramadhan, Salman, Me, and Iqro. Barip was taken the picture.

Dipastikan lagi, semuanya sudah siap!
Saya melakukan pemanasan ringan sebelum menggendong carrier yang saya beri nama 'Pina'. Beratnya 20 kilogram.
Layaknya bayi, saya berbicara pada Pina untuk bekerja sama dan tidak rewel selama perjalanan.

Taman Nasional - Pos I

Menuju pos I kami berjalan dengan irama teratur. Mendaki dan beberapa kali penurunan. Kami melewati jalan setapak, bergerak bersama aktivitas penduduk desa yang menggeliat.
tak jarang kami bertatap muka dengan penduduk, melewati sungai kering dan diterpa sinar  matahari langsung di padang savanna.

Untuk tiga puluh menit pertama tangan saya mati rasa.
Beratnya carrier membuat aliran darah menuju lengan dan tangan tersumbat. Saya terus menggerak-gerakkan tangan dan sedikit melonggarkan tali sanggahan carrier.
Perjalanan menuju pos I memang sangat menegangkan. Perjalanan rasanya tidak berujung, baju sudah basah dengan keringat, saya mulai sangsi dengan rute belum ketemu Pos I.
sehabis itu yang kamu perlu cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa
Quotes dari buku '5cm' terus saya ulangi dan berpendar di kepala.
Saya yakin ini rute yang benar. Belakangan saya tahu, memang banyak pendaki yang tersesat di sini.
Nama rute ini adalah 'simpang sesat'.
Yang dibutuhkan adalah terus lurus dan ikuti setapak yang lebih jelas track nya.
berjalan selama dua jam tiga puluh menit, kami beristirahat di pendakian yang panjang.
Pos I belum juga ketemu. Nafas saya mulai tidak beres.
Permen Asam Jawa masih tersisa banyak. Inilah obat saya satu-satunya.




Cukup beristirahat 5 menit, kami melanjutkan perjalanan. Kami menjaga agar tubuh tetap panas dan tidak kembali dingin karena istrahat yang lama.

Setan!
ternyata Pos I terletak setelah pendakian panjang. POS I juga dikenal sebagai Pos Pemantauan terletak di 1300mdpl. Tidak ada sumber air di sini.
Kami terus berjalan menuju Pos II, jalan mulai berkelok-kelok melewati aliran lahar dan sungai kering. Nafas mulai tidak teratur. saya memperpanjang langkah, dan membatasi udara keluar dari mulut.

POS I - POS II
Waktu menunjukkan pukul 10.30am.
Kami sampai dengan selamat di POS II. Pos ini juga dinamakan Pos Tengengean .
Letak Pos II agak menjorok  ke dalam. Persis di depan pos ini ada jembatan beton dan dibawahnya sungai yang mengering,
Tenang saja, di sini ada toilet dan sumber mata air. Tapi, dari luarnya, saya tidak yakin WC di sini layak pakai.
Ada tiga orang pendaki dari Malaysia plus seorang porter bersama kami di sini.
durasi istirahat lumayan lama di sini, 15 menitan. Saya membuka sepatu dan bertelanjang kaki menapak tanah. Segar sekali. tiga jam dalam sepatu memang membuat penat si kaki.

Pos II - Pos III

Seperti tingkatan game. Medan perjalan semakin 'menantang'.

cuaca terik membuat perjalanan kami sangat meriah oleh sinar matahari.
Di perjalanan, kami bertemu beberapa pendaki asing dan domestik.
Seperti sudah kenal lama, mereka saling bergantian menyemangati kami.

"semangat ! dikit lagi pos III"
"dibalik bukit ini pos III"

Sungguh tidak disarankan untuk percaya seratus persen.
Karena semua orang yang kami tanya, mereka bilang sebentar lagi pos III.
Matahari sudah segaris lurus, bayangan mulai kami injak.
Pos III belum ketemu. Sedangkan perjalanan sudah sejam.
Menuju Pos III, kami terkadang memanjat karena medan terjal.
Saat kami memanjat, dengan santai Porter mendahului kami. Tangan mereka tidak menyentuh tanah, akar pohon,apapun, seperti jalan datar kaki para Porter mencengkram mantap setiap pijakan.

GLEK!
AMAZING

Di perjalanan ini kami bertemu kawan, namanya mas Adi dari Denpasar Bali.

Dia hanya sendiri, eh berdua sama porter nya. Sweet banget deh mereka berdua.
Yang paling iri adalah melihat tas bawaannya cuma backpack biasa, sedangkan kebutuhan dia yang lain dibawa oleh Porternya dalam dua keranjang besar yang dipanggul menggunakan bambu.

Saya mencoba memancing dia dengan statement terencana.
"Enak yah mas, bawaannya gak banyak", ujarku sambil menarik tali carrier agar merapat erat ke punggung.
"Oh itu tasnya berapa kilo? saya juga mau coba", mas adi berhasil terpancing. Dengan sok berberat hati saya bertukaran tas dengan mas Adi."lumayan juga yah!"

sombong banget pake kata lumayan. Itu BERAT woyyy...
Saya yang menggendong tas mas Adi berasa sedang tidak membawa apa-apa. Refleks, saya berjalan cepat meninggalkan rombongan anggota tim.

Belum 10 menit, mas Adi sudah meminta tasnya lagi.
Ah payah !
"Berat juga yah!" katanya sambil mendudukkan carrier.

you don't say mas.
Sebenarnya berat tas ini akibat saran sahabat saya Nasha yang memaksa kami membawa 10 liter air setiap orang. Saya hanya membawa lima liter, dan itu cukup berlebih, karena sepanjang perjalanan selepas pos II banyak sumber air (akibat genangan air hujan).

satu setengah jam berjalan, kami akhirnya sampai di POS III.
Hore! waktunya makan siang.
Kami belum mengeluarkan panci, kompor atau apapun.
Santap siang ini disponsori oleh warung nasi di dekat kantor Taman Nasional Rinjani di Sembalun.


  POS III. Ada kisah dramatis, Salman kehilangan jaketnya di Pos ini, kemungkinan terjatuh di jalan. Saya masih mengecap asam jawa.

Pos III ( Padabalong )

Pos ini persis berada di aliran sungai kering bekas lahar. Kami sudah di ketinggian 2000 mdpl.
Ternyata perjalanan kami belum ada apa-apanya.
Apa yang selanjutnya akan kami hadapi adalah medan tanjakan tanpa henti.
Harusnya di pos ini ada persimpangan jalan ke Bukit Penyesalan dan Bukit Penderitaan.
Kami tidak melihat ada track ke bukit Penyesalan, dan kami memilih simpang kiri, Bukit Penderitaan.
Mendengar nama bukitnya, saya merasa seperti korban TKW ilegal yang disiksa majikan.
bergidik!

Menuju Pelawangan Sembalun


Tepat jam 1.15pm kami melanjutkan perjalanan menuju Pelawangan Sembalun.

langkah-langkah kaki kami kembali ritmis teratur.
Pendakian ini sudutnya bervariasi, 60-70 derajat dan jalannya sempit.

Saya masih ingat lagu apa yang saya putar di rute ini. Paradise- Coldplay.
Sungguh saya begitu takjub. Mata saya seolah sedang menggunakan lensa fisheye . Bumi melengkung, kami sudah di atas awan!

Cuaca di rute ini sangat cepat berubah. Panas terik kemudian langsung kabut.
Sudah sejauh ini,sangat tidak lucu kalau kami turun lagi.
TIDAK LUCU
Padahal, dalam hati saya meraung-raung minta turun.

Yang lucu adalah rutenya!
untuk mencapai pelawangan sembalun, ada sembilan bukit yang harus di lewati.
saya ulangi, sembilan bukit!
seolah tanpa ujung, saat kami di bawah melihat ke atas, seolah-olah bukit terakhir, lalu naik lagi, sampai di puncak ternyata masih ada puncak bukit ke-dua, ke-tiga, dan seterusnya.

Stamina kami menurun!
jalan sebentar, berhenti. langkah mulai mengecil. Setapak demi setapak, sambil atur pernapasan.
engkel kaki mulai kering dan butuh pelumas.
Normalnya perjalanan 3,5 jam , kami baru sampai di pelawangan sembalun jam 6-an.

Somehow saya merasa seperti ada di hutan terlarang Harry potter saat melintasi rute ini. Vegetasi tumbuhan di sini merupakan cemara gunung (casuarina junghuhniana) sambil ditemani kabut.
Saya mengucapkan assalamualaikum berkali-kali, karena takut ditegur penunggunya.


Ramadhan Satrio - Menghela Nafas
Arief Syakur Sutedjo - Membuang Nafas
Iqro Dewantoro - Bernafas Dalam Doa
Salman - Bernafas itu Pakai Mulut

Pelawangan Sembalun
Pelawangan Sembalun 2639 mdpl. sunset

Akhirnya sampai juga kami di Palawangan Sembalun. Pos Terakhir dalam pendakian gunung Rinjani. Palawangan adalah daratan yang berada tepat di gigiran punggung gunung yang menyatukan puncak Rinjani.
Saat kami tiba, sepanjang gigiran sudah terpancang tenda-tenda pendaki lain.
Persis seperti tenda di bumi perkemahan, sayangnya di sini pas malam hari tidak ada penjual bakso seperti pengalaman berkemah saya pas SD - SMA.

Angin bertiup sangat kencang. entah berapa knot kecepatannya. saya merasa tulang pun ikut merasa dingin.
Ini karena baju saya basah karena keringat. Jalan pun makin dipercepat mencari spot untuk menginap.
Sudah gelap untuk mendirikan tenda sekarang. Saat sampai dilokasi, mager pun menjangkiti.
Semua orang mager, semua orang ingin kehangatan dalam tenda, tapi apa boleh buat kami harus masak untuk makan malam.

Menu yang sangat menggiurkan, Nasi liwet dan Kornet!
Sumber api dari spiritus dan parafin. Parafin sangat mudah dan praktis pemakaiannya, tapi membuat misting dan alat masak jadi hitam.
Iqro, Rama, dan saya berjuang menepis dingin (lebay tapi beneran dingin banget).
Barip dan Salman menghangatkan diri dalam tenda. Katanya sih merapihkan barang

Masakan pun jadi, Nasi Liwet gosong, dan Kornet bercampur pasir cukup untuk memberikan energi.
Malam ini saya terlelap dengan sangat mudah. Menyempatkan sebelum tidur buka twitter dulu, gila memang, di ketinggian seperti ini masih ada sinyal, yang tidak ada adalah battere hape.

17 Mei 2012
Summit Attack

Ramadhan Satrio - Dalam Cahaya Senter menuju puncak

Kami bangun pukul 1am  untuk bersiap dan berkemas.
Sebelum berangkat, kami memasak indomie goreng dan meneguk secangkir energen.
Gelisah mulai membayangi saya. Dalam rute menuju puncak cahaya senter berpendar seperti lalu lintas kota.
Dini hari di palawangan memang sangat pekat. Tetapi dengan jagonya, sahabat saya Iqro membawa senter yang cahayanya juga sama pekat dengan malam. Entah baterenya yang suap karena dalam tas menyala terus atau bohlamnya yang memang wattnya segitu,menyentuh tanah pun cahaya gak bisa.
Mennnnn, are you kidding me?

Saya semakin gelisah. Seperti biasa, saya gelisah pasti pake acara boker. Saya pamit untuk boker saat teman se-tim sudah bersiap berangkat.
Gila aja, yang namanya darurat, WC dibelakang tenda saya seketika jadi harum karena sugesti.
WC nya itu cuma galian tanah, dari lubangnya saya bisa lihat tokai-tokai pendaki saling menyapa. Hueek
Bau tokai dan pesing tidak jadi masalah. Saya tidak mau membawa tokai yang sudah saatnya keluar ke puncak suci Rinjani. Saya tidak mau tokai saya menderita kalau dibuang di kawah Rinjani, kan panas!
Saya sungguh tidak menikmati proses boker ini.
Segera ingin menyelesaikan dan jalan!

*****
3.10am
Kami sudah memulai langkah menuju puncak. Pekat sekali malam itu. Di depan saya ada Iqro yang senternya tetap dinyalakan walaupun nggak ngefek sama sekali.
Jalan ke puncak kami berjalan beriringan.
sangat hati-hati, di punggungan menuju puncak yang berpasir, kami selalu waspada karena kanan dan kiri jalan adalah jurang.
Dari sini kami bisa menikmati kota lombok yang bercahaya, gunung baru jari, dan danau segara anak yang tenang.

Perjalanan ke puncak adalah perjalanan mengalahkan batas diri dan meyakinkan mental.
Pagi menyambut kami sebelum kami sampai di puncak. Angin tidak ramah menyambut. Bibir saya membeku, puncak terlihat dekat tapi jalan masih jauh.

Sudah ada beberapa pendaki yang turun dan melewati kami. Ingin rasanya ikut turun bersama mereka. Tapi saya tidak mau sejarah mencatat bahwasanya saya 'hampir' menuju puncak. Hampir dan tidak kepuncak itu artinya sama saja.
jalan setapak demi setapak, saling semagat menyemangati, kami yakin puncak rinjani tidak akan bergeser.
tetap jalan!

Setelah kurang lebih empat jam jalan, akhirnya kaki-kaki kami mendarat di Puncak Rinjani.
17 Mei 2012, sebuah perjalanan mengalahkan batas diri!

 
 

Salam Kecup dan Peluk dari puncak Rinjani, doakan semoga saya sempat menuliskan Rinjani Part 2, berenang di segara anak dan menyusuri Hutan Senaru.

6 comments:

  1. subhanallah... Rinjaniii.. selamat ya mas, sudah bethasil memijakkan kaki di puncaknya. doakn saya segera menyusul. kemarin cum ngantr teman aja sampe sembalun lawang. hehe...

    anwy, sedikit koreksi. setau saya, rinjani itu gunung tertinggi ketigadi Indonesia, yg kedua tu kerinci, di sumatera. *moga gak salah. hehe..

    salam kenal dari tanah Sumbawa.. :-D

    ReplyDelete
  2. subhanallah rinjani... idem ka mae, doakan saya segera menyusul.. target tahun depan, semoga allah memudahkan ^_^

    salam rimba..

    ReplyDelete
  3. armae: iya yah Rinjani yang ke tiga. ralat :D

    Salam kenal Armae


    Azie : Amin, jangan lupa share ceritanya yah :D

    ReplyDelete
  4. oce.. tp catper ke gede aja gk kelar2, hehehe

    ReplyDelete
  5. semoga segera terealisasikan ke rinjani, amin, mampir sob di perjalanan ke semeru

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan