28.10.12

LULUS.KERJA.MENIKAH (LAH) SBM ITB 2012





Perasaan ini datang tiba-tiba.
Ini tahun ke tiga saya menjadi mahasiswa bisnis manajemen.
ITB angkatan 2009
SBM angkatan 2012
Dalam beberapa waktu saya tidak akan lagi menyebutnya seperti itu. ini adalah hari terakhir tahun ketiga saya. esok pagi mungkin saya sudah tak bisa disebut mahasiswa lagi.

Pada akhirnya hidup harus terus menerus berubah.
Kita sebagai manusia, begitu takut akan perubahan.
Untuk bisa terus berjalan, berarti ‘terbiasa’ dengan perubahan yang terjadi.
Namun itu butuh waktu.
Dan saya takut waktu waktu itu akan menyakitkan.

Saya harus siap dengan itu.

Seperti ketika kita terpaksa siap diperkenalkan dengan pelajaran Art Recollection,
Haha…pelajaran paling absurd.
PA pertama yang gerakan mesin itu siapa yang menang  yah?
Ehmmm….
Saya sama sekali tidak ingat!
Yang saya ingat saat itu semua orang tertawa amat kencang.
Dan yang menang menjadi tidak penting,
Yang penting adalah tentang kita dan bagaimana saya mengingat kalian.
Saat memerankan peran kaisar, ratu, dewi langit, dan yang pasti ada banci.

Tidak akan mungkin di masa nanti kalian akan memerankan itu lagi.
Ini tontonan mahal!
Sebelum kalian semua duduk di kursi kebanggan,
Kalian ini calon calon direktur masa depan, ‘bapak’ dan ‘ibu’ kehormatan.
di luar sana.
Semua orang akan segan padamu.
Tapi saya mungkin tidak. Kalian tetaplah kalian. Saya mengenal kalian, sama seperti lorong-lorong SBM ini mengenal kita.
Sekolah bisnis manajemen, begitu banyak mendefinisikan hidup saya.
Di tempat ini karakter saya dibentuk, disaksikan lorong dan dinding yang telah mendengarkan setiap pembicaraan kita.
Pembicaraan yang kita suarakan dengan hati-hati, atau sekedar kita biarkan lepas dan berlalu.

Kemudian lorong-lorong iseng bercerita tentang siapa saja yang putus cinta,
kemudian diam-diam ia menjodohkan kita,
lalu salah satu diantara kita pun saling jatuh cinta.
Meski begitu, kadang lorong juga tak segan berlaku apatis.

Saya kemudian tertarik untuk tahu apa yang dirasakan gedung ini.
Di depan dinding bertuliskan ‘SEKOLAH BISNIS DAN MANAJEMEN’
sudah lama ia saksikan berbagai kejadian.
Setiap tahun orang bangga berfoto didepannya
Bangga untuk sebuah kedatangan. Juga kepergian

Gedung ini menjadi saksi
Mendengarkan obrolan santai sore hari,
Menyambut riuhnya presentasi IBE
hingga sampai pada hari ini ia memeluk kita dengan senyuman bangga atas kelulusan

Tapi pernah pada suatu ketika dia kurasa tidak begitu ramah
Dalam langkah berat yang cepat saat saya terlambat kuliah
Ia menatap dingin tidak bersahabat. Ia marah.

Aku mau bersahabat dengan Payung saja
Payung selalu menerima ku apa adanya
Saat  bolos, dia selalu hangat menerima
Larut dalam obrolan sederhana penuh mereka yang tertawa
Kadang sesak juga dengan asap rokok
Tapi itu tak masalah.

Yang penting Payung selalu terbuka untuk siapa saja.
Termasuk mereka yang menemukan cintanya di sini
Mereka pula yang terpaksa mengakhiri cintanya di sini
Payung menyaksikan dan bercerita semuanya.
Kadang cinta. Kadang tawa. Atau hidup yang biasa saja.

Masa ini akhirnya tiba,
Waktu yang kukira akan sangat lama saat masih duduk di tingkat pertama.
Sekarang, saya sadar akhirnya melihat kebelakang selalu terasa singkat,
Kemudian masa depan?
Saya takut.
Begitu ketakutan akan apa yang nanti akan datang, dan apa yang terpaksa saya tinggalkan.
Ini tentang tempat saya setiap hari datang. Bertemu orang orang yang saya sayangi.
Dan meskipun disebut ‘pergi kuliah’, saya tetap merasa saya berada di rumah sendiri.


Akhirnya banyak saya ceritakan kekhawatiran pada teman teman,
bahwa saya bingung mau kemana saya sehabis ini.
Tapi teman, untuk siapapun dari kalian yang merasa,
saya hanya takut kehilangan…
Semua suasana, kata kata dan tawa sesekali di siang hari..
Masa masa ketika saya bisa menyebut diri saya, ‘masih mahasiswa SBM 2012′
Masa itu telah usai.
Dan kita harus pergi, teman teman.

Karena  Seberapa kuatpun salah satu dari kita
Mencoba mengulang kembali,
senyum serta tawa yang terjadi.

semua telah menjadi cerita di masa lalu

yang kita punya hanya Satu.
Yaitu berbagi ingatan akan suatu hari

Dan kita bersyukur bahwa  ingatan akan hari-hari itu bisa selalu kita bawa hingga nanti.

ditulis oleh Try Juandha,
editor: Sutansyah


Salam Kecup dan Peluk

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan