26.2.13

Tulisan untuk hati. Apa kabar ia hari ini?



Tulisan ini untuk hati ,

Tulisan kepada sebuah instrumen yang dipakai untuk mempertimbangkan rasa dan menawar racun dalam tubuh.  Saat ini, saya punya pandangan lain tentangnya. Untuk apa keberadaannya dan tujuan penciptaanya. Sebenarnya.

Sejak lama adu pendapat para ilmuwan tidak menghasilkan keseragaman pendapat, dari mana asal manusia. Turunan adamkah, atau teori genesis bahwa kita semua adalah mahluk hasil evolusi itu benar adanya? Entah.
Saya hanya bersyukur, selain akal, kita ‘manusia’ diberkati hati. Keberadaannya membuat manusia bersemangat, lalu kadang menangis tersedu-sedu, dan menciptakan bahasa yang universal, bahasa hati.

Kembali ke teori revolusi. Pada mulanya kita semua adalah purba. Tubuh dipenuhi bulu, jalan membungkuk, dan fisiologi rahang kita menyerupai hewan karnivora. Lalu ajaibnya, di abad milenium fisik kita berubah. Seenaknya kita menertawakan peradaban itu, di manapun, disetiap obrolan dan candaan yang keluar di sekolah, rumah makan, ataupun tempat lokalisasi.

Boleh saja kita mengingkari peradaban purba. Karena fisik telah berubah, tidak ada bukti tersisa, hanya beberapa kemiripan. Lalu, kita semua abu-abu, peradaban itu apakah nyata.

Hanya hati yang tidak berubah. Itu menurutku.

Padahal tidak bisa dibilang demikian juga, tidak ada seorangpun yang pernah melihatnya ada. Mungkin itu tujuan Tuhan menciptakan hati jauh di dalam sana. Bukan dalam bentuk organ yang dibedah di ilmu kedokteran. Hati adalah semesta jiwa. Tidak akan pernah habis digali. Hanya ada prediksi tentang keberadaannya.

Manusia purba. Kita semua. Sejauh apapun kita mengingkari. Kita adalah purba. Tidak disadari, hati kita bekerja secara aturan purba. Hidup nomaden. Berpindah-pindah. Mencari tempat aman. Loncat dan menari mencari hati siapa saja yang layak ditempati. Ada makanan di sana. Untuk bertahan hidup. Untuk merasa aman. Untuk berkembang biak.

Lalu, berapa lama lagi kita akan menyombongkan diri dan memaksa lupa kehadiran peradaban purba. Tanyakan hati masing-masing. Apa kabar ia hari ini? Ia masih mencari, seperti purba berkelana, belum ada tempat yang ia merasa aman.


No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan