29.3.13

Kakak saya menikah.


Kemarin, kakak ku menikah.
Menegakkan setengah tiang agama dan menerima menjadi pelayan yang berbakti bagi seorang lelaki.
Rasanya baru kemarin sore ia pulang dari sekolah, bawa botol air minum, dan memakai ransel bewarna menyolok.

Waktu itu ia masih SMP, duduk di kelas dua dan aku masih SD kelas enam.
Setiap habis pulang sekolah, aku sering penasaran apa yang ada dalam tas bewarna menyolok.
Aku selalu senang dengan sesuatu yang bukan milikku. Seperti, buku-buku pelajaran miliknya yang waktu itu sangat menarik karena banyak gambar di dalamnya. Berbeda dengan buku-buku teks punyaku, milik negara dan tidak diperjualbelikan.

Dalam ransel yang menyolok, aku juga menemukan sebuah buku diary punya dia.
Tulisannya kacau. Penuh dengan angka-angka, beberapa tulisan menggunakan aksara Cina, dan banyak rupa yang lain. membingungkan. Susah dimengerti.

Aku yang pada saat itu sudah aktif di Pramuka, sadar kalau tulisan-tulisan dalam diary ini adalah sebuah sandi. Butuh waktu yang lama untuk memecahkan sandi-sandinya. Tapi setelah berhasil membaca semua tulisan dalam diari-nya, aku merasa menang.

Jadi, isi tulisan kakak saya di diary ini kira-kira tentang perasaan dia kepada seorang cowok, Sumarlin, teman sekolahnya yang begitu menawan. Tentang kado topi yang ia kasih ke Sumarlin. Tentang Sumarlin yang selalu membantunya menimba air sumur saat giliran ia piket di kelas. Dan betapa ia kecewa, karena Sumarlin seperti tidak pernah sadar kalau ada yang suka padanya.

Lalu, buku ini kusalin kembali dan kubacakan keras-keras di hadapannya.
Ia marah sekali. Sejak saat itu, aku tidak pernah dizinkan lagi untuk menengok tasnya yang bewarna menyolok. Aku kehilangan informasi Sumarlin.

*****

Lalu, seperti dipaksa untuk hidup di masa sekarang. Melupakan kisah Sumarlin, kini di depanku Bapak dengan bergetar berusaha membenarkan lisan untuk memberikan wali nikah ke penghulu.
Bapak saya sangat berusaha untuk terlihat tegar. Sedang saya tidak peduli dengan air yang membuat penglihatan saya nanar. Saya menangis.

Tuhan sudah begitu baik mempertemukan jodoh untuk kakak saya.
Semoga mereka hidup berbahagia.
Saya sudah tidak sabar menjadi om untuk anak-anak mereka.



5 comments:

  1. ciyeeeee semoga happily ever after :D Kapan nyusul oom tju?

    ReplyDelete
  2. hahha, belum ada jodohnya ini. Belum tau kapan. hehe

    ReplyDelete
  3. jadi ikut terharu, semoga yang punya blog segera nyusul !:)

    ReplyDelete
  4. ciie,, yang jadi Ipar...
    kapan nyusul,, :P
    moment nya,, kye nikahan adat sulawesi..
    memang Sulsel yak ???

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan