28.4.13

Inggit Garnasih Yang Berani Tidak Dimadu Oleh Soekarno dan Rela Tidak Menjadi Ibu Negara Pertama Indonesia



Saat ini saya sedang kagum dengan luasnya hati seorang Inggit Garnasih.

Saya baru saja membaca literasi tentang kehidupan asmara Soekarno, presiden pertama kita yang sampai penghujung hayatnya di usia 69 tahun berhasil memperistri 9 perempuan.

Mengutip tulisan dari sebuah website berikut , saya tahu kalau Inggit Garnasih adalah istri ke-dua Soekarno setelah menceraikan Oetari Tjokroaminoto, dan Inggit merupakan satu-satunya istri Soekarno yang dinikahi dalam keadaan janda.

Soekarno saat menikahi Inggit masih berusia 20 tahun, sedangkan Inggit saat itu sudah menginjak usia 33 tahun. Kematangan dari sosok Inggit lah yang membuat Soekarno terpesona.

Jadi ceritanya begini, Soekarno muda datang dari Surabaya setelah lulus Hoogere Burger School di akhir Juni 1921. Ia mempunyai mimpi besar untuk menjadi insinyur di bidang teknik sipil, Technische Hoogeschool te Bandoeng kemudian dipilih sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikannya.

Tjokroaminoto sekaligus mertuanya membantu mencarikan tempat tinggal di Bandung, dan rumah Haji Sanusi kemudian menjadi tempat tinggalnya saat itu. Haji Sanusi adalah salah satu anggota Sarekat Islam, sedangkan Inggit Garnasih adalah istri dari Haji Sanusi yang waktu itu menjadi ibu kos Soekarno.

Katanya, Soekarno memang sudah mengagumi Inggit sejak pandangan pertama. Dia tidak pernah lupa saat Inggit menyambutnya di pintu rumah Jl. Ciateul, Bandung.

"Keberuntungan yang utama itu sedang berdiri di pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang. Dia memiliki tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona. Dia adalah istri Haji Sanusi, Inggit Garnasih. Oh, luar biasa perempuan ini," kata Soekarno dalam biografinya yang ditulis Cindy Adams.

Gayung bersambut, rupanya Inggit pun terkesan dengan pertemuan pertama.
"Dia mengenakan peci beledu hitam kebanggaannya dan pakaian putih-putih. Cukupan tinggi badannya. Ganteng. Anak muda yang bersolek, perlente." kata Inggit dalam novel biografi Kuantar ke Gerbang yang ditulis Ramadhan KH.

Lalu singkat cerita,  Soekarno dan Inggit menjadi sahabat. Soekarno kerap menceritakan kehidupan pernikahannya bersama Oetari yang hambar kepada Inggit. Menurut Soekarno, sikap Oetari yang kekanak-kanakan tidak sesuai dengan visi dan mimpi besarnya. Masih kekanakan?, iyalah wong si Oetari saat itu masih berusia 16 tahun, menurutku sih wajar aja.

Dari Inggit, Soekarno juga tahu kalau pernikahan Inggit dan Haji Sanusi juga tidak berjalan harmonis. Kerap Haji sanusi meninggalkan Inggit untuk bermain bilyar dengan teman-temannya sampai larut malam. Dan dalam masa-masa itu, cinta mereka tumbuh subur.

"Hanya Inggit dan aku dalam rumah yang sepi. Dia kesepian, aku kesepian. Perkawinannya tidak betul. Dan perkawinanku tidak betul. Dan, sebagai dapat diduga. Hubungan ini berkembang," kata Soekarno dalam buku biografinya.

Soekarno pun mengutarakan maksudnya untuk menikahi Inggit kepada haji Sanusi. Ia meminta Haji Sanusi untuk segera menceraikan Inggit. Entah apa yang dirasakan Haji Sanusi saat mendengar keinginan Soekarno, tapi tidak lama setelah itu Haji Sanusi dan Inggit pun akhirnya resmi bercerai.

Tahun 1923 Inggit dan Soekarno resmi menikah, dan kini kita mengenal Soekarno sebagai orang besar, penyambung lidah rakyat, singa podium yang menyuarakan rakyat, dan bermacam-macam julukan kebanggan untuknya.

Setelah membaca-baca dari berbagai sumber, menurut saya keberhasilan Soekarno tidak terlepas dari jasa-jasa Inggit Garnasih, seseorang dibalik layar yang mendukung pergerakan Soekarno  secara non materi dan materi. Ia menyediakan rumahnya untuk Soekarno dan teman-temannya berkumpul, serta membiayai kegiatan politik Soekarno pada saat itu.

Ketika Soekarno menjalani hukuman penjara di Banceuy, dia menjadi tulang punggung keluarga dengan cara meracik jamu, bedak, menjahit kutang, menjadi agen sabun dan cangkul, serta membuat rokok berlabel 'Ratna Djuami' sambil tetap rutin mengunjungi Kusno (panggilan sayang untuk Soekarno) di penjara Banceuy sambil membawakan buku-buku. Dari dalam penjara itulah Soekarno kemudian lahir bersama pledoinya yang dikenal dengan nama Indonesia Menggugat.

Inggit mampu melakoni tiga peran, sebagai ibu, sahabat, dan kekasih Kusno. Ketika Soekarno harus diasingkan ke Pulau Endeh Flores dan Bengkulu. Inggit ada di sana. Menemani Kusno yang ia sayangi.

Mungkin tanpa Inggit Garnasih, Soekarno sudah selesai di penjara dalam keadaan putus asa dan pemikiran-pemikiran besarnya tidak pernah kita dengar.

Tahun 1942, Saat itu usia Inggit 53 tahun, ia memutuskan jalannya sendiri. Dengan tegas ia menolak untuk dimadu saat Soekarno mengutarakan niatnya untuk mempersunting Fatimah, atau lebih dikenal Fatmawati. Fatmawati sudah Inggit anggap sebagai anak sendiri ketika mereka berada di pengasingan Bengkulu. Alasan Soekarno logis, ia menginginkan keturunan, sedangkan Inggit sudah tidak bisa memberikan keturunan padanya.Ia kemudian meminta diceraikan dan dipulangkan ke Bandung.

1 juni 1943 Soekarno menikahi Fatmawati. Dan saat Indonesia merdeka, Fatmawati adalah wanita ibu negara pertama yang banyak kita kenal dan tercatat di buku-buku sejarah. Sedangkan, kita kehilangan kabar apa yang terjadi dengan Inggit setelah Indonesia merdeka?

Bagi saya, ini adalah kisah roman yang sakit. Saya hanya tidak percaya ada hati yang selapang Inggit Garnasih, begitu ikhlas dan kuat. Kabarnya, Inggit Garnasih setelah diceraikan masih menyimpang rasa sayang kepada Kusno. Hingga Soekarno tutup usia, ia masih datang melayat dan memberikan penghormatan terakhir kepada mantan suaminya itu.

… sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. [Inggit Ganarsih, Kuantar ke Gerbang -  Ramadhan K.H.]

Inggit sendiri menghabiskan masa tuanya di Bandung hingga tutup usia pada 13 April 1984 di usia 96 tahun.

Perlu diingat bahwa tulisan ini banyak dicampuri oleh opini pribadi saya. Jadi penasaran kan untuk membaca buku tulisan Ramadhan Karta, Kuantar ke Gerbang yang ditulis tahun 1981, semoga itu bisa membuat saya mengerti betul apa yang sebenarnya terjadi antara Soekarno dan Inggit.

*Tulisan ini merupakan saduran dari berbagai sumber di Internet.

8 comments:

  1. keren ya Ibu Inggit sangat luar biasa...dan sangat menginspirasi...terkesan sangat dalam pada beliau

    ReplyDelete
  2. Salut sama Ibu Inggit, Semoga kebaikannya mengantarkan kesuksesan salah satu pembesar negri mendapat pahala yang berlimpah.

    Lina
    www.sierrasavanna.blogspot.com

    ReplyDelete
  3. … sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai. [Inggit Ganarsih, Kuantar ke Gerbang - Ramadhan K.H.]



    saya suka dua kalimat di atas...

    ReplyDelete
  4. kalo tidak salah
    ada museumnya Bu Inggit di Bdg
    Bekas tempat bikin jamunya dulu...

    ReplyDelete
  5. terkesan banget dengan kisah hebat ini.
    rideral.blogspot.com

    ReplyDelete
  6. terkesan banget dengan kisah iini
    rideral.blogspot.com

    ReplyDelete
  7. Inggit adalah perempuan tegar dan tegas....
    Saya suka kalimat ini...

    "Sesungguhnya aku harus senang karena dengan menempuh jalan yang tidak bertabur bunga, aku telah mengantarkan seseorang sampai di gerbang yang amat berharga. Ya, gerbang hari esok yang pasti akan lebih berarti, yang jauh lebih banyak diceritakan orang secara ramai"

    ReplyDelete
  8. luar biasa, saya berkali kali membaca "Soekarno, Kuantar ke gerbang" dan semakin salut akan Ibu Inggit Ganarsih..luar biasa

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan