15.4.13

Kandang Macan Juandha


Ini adalah satu-satunya tempat aku merasa jinak.
Tempatku selalu merasa baik-baik saja.
Di dalam sini selalu ada saja hal yang menyenangkan dan membuatku bertahan berlama-lama.
Satu-satunya merdeka yang ada dan kupercaya ada.
Aku bisa melakukan apa saja, kecuali memaku dinding dan membawa tamu lawan jenis untuk menginap.
karena ini adalah aturan kamar 3x4 yang kusewa dari seorang pensiunan kolektor burung, namanya Pak Koswara.

Saya menamakan kamar kosan ini, 'Kandang Macan Juandha'.
Seperti macan dalam kandangnya, kerjaanya cuma makan dan tidur.
Saya pun begitu, dalam kamar ini, hampir semua aktivitas yang kulakukan, semuanya sambil tidur.
Baca buku sambil tidur, nonton TV sambil tidur, ngemil sambil tidur.
Hanya satu aktivitas yang kulakukan di sini tanpa menggunakan kata 'sambil'.
Apakah itu?
Tidur itu sendiri.
Karena tidak mungkin saya menulis 'tidur sambil tidur'.
Saya memang orangnya sangat teliti dengan pemborosan kata.



Kosan ini di daerah Dago-Kanayakan Bandung, letaknya men-jorok jauh ke dalam (tapi lingkungannya tetap bersih terawat kok). Terpencil dan tidak terjangkau oleh kawan-kawan.
Bisa dihitung jari, siapa saja yang tahu kosan ini.
Hanya tujuh orang. Mungkin, salah satu cara untuk menambah jumlah kunjungan ke kosan saya adalah dengan membuat teknik daya tarik yang berbeda. Salah satunya dengan memberikan sertifikat keberhasilan kepada siapa saja yang berhasil menemukan dan mengunjungi kamar ini, semacam ucapan selamat.

Tapi, sayang saya tidak se-niat itu. Lagipula, saya tidak senang dengan kehadiran orang asing di teritorial pribadi. Lalu kalimat barusan saya tulis hanya untuk membuat tulisan ini genap lima ratus kata. "Yah, lima ratus kata", saya ulangi sekali lagi biar cepat memenuhi target lima ratus kata.

Kalau pun saya harus memberikan sertifikat selamat, orang pertama yang saya akan kasih adalah kurir delivery PHD 24 jam Dago, karena setiap kali saya order makanan, pasti selalu dapat voucher 1 pizza original atas keterlambatan dan bentuk pertanggung jawaban mereka atas slogan:
" 30 Menit Tiba, atau Gratis 1 Pizza"
Lalu kemudian kesimpulanku: Kurir-kurir ini adalah orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang rendah dan tidak pernah belajar dari sebuah kesalahan. Kasihan sekali.

Kembali membahas kandang saya yang letaknya terpojokkan, sehingga di sini kamu bisa merasa seperti ada di antah berantah. Lalu dengan dramatis berteriak sambil memegang kepala,
"Oh Tuhan! Aku dimana?!"

Aku juga tidak mengerti kenapa bisa memutuskan untuk nge-kos di sini.
Selain faktor harga, faktor yang mendominasi keputusan itu adalah aura tempat ini.
Asyik.

Saya memang suka dengan perasaan terasing.
Dengan begini, saya bisa melihat kehidupan dari luar dengan imaji bulat penuh.

Saya dalam tulisan ini tidak akan menyertakan foto untuk menggambarkan situasi di Kandang Macan Juandha, saya ingin Anda menggunakan daya dan nalar imajinasi Anda sebaik-baiknya untuk membuat gambaran melalui deskripsi yang saya berikan. Lalu, kemudian simpan gambar itu dalam benak Anda untuk Anda saja. Saya tidak butuh.

Saya lanjutkan.
Kamar ini letaknya di lantai dua, terdapat balkon yang penuh dengan kandang burung.
Si empunya kos, pak Koswara memang penggemar burung yang sangat fanatik. Dia tampaknya lebih sering memperhatikan kondisi burungnya daripada kondisi Mahasiswa yang ngekos di rumahnya.
Maaf kalau kalimat di atas terasa ganjil, saya mohon Anda tetap bisa fokus.

Lalu iseng saya mau lanjutkan dengan kalimat ini: Burung pak Koswara tidak terlalu besar, tapi punya daya tarik. Tiap pagi ia melompat-lompat gelisah seperti mau keluar dari kandangnya.
OKE CUKUP!

Salah satu kegemaran saya di kosan ini adalah naik ke tempat jemuran di atas atap.
Dari sini saya bisa menjadi pengamat pagi yang rupawan atau sebagai penikmat malam yang menawan dengan kerlap-kerlip lampu malam penduduk berpendar dari kejauhan.
Ini adalah tempat saya menciptakan sajak-sajak melankolis dan ber-sendu-sendu.
Di sini cuma ada saya, Tuhan, dan pakaian-pakaian masih basah yang dijemur. Disaksikan atap-atap genting tanah liat dari rumah di sekitar yang lebih rendah sebagai penikmat yang berinteraksi lewat bahasa dengan medium lain.

Satu hal yang saya sesalkan.
Persis disebalah kosan saya berdiri juga kosan khusus Putra.
Mungkin semacam kebetulan atau memang sudah suratan Tuhan, bisa-bisanya pintu kamar saya terletak persis menghadap dua kamar mandi kosan sebelah yang diperuntukan untuk putra.
Sekali lagi, kamar mandi untuk kosan putra.
Itu membuat saya  serta merta menjadi penikmat tak sengaja atas putra-putra kosan sebelah yang sering ke kamar mandi.
Setiap pagi dan sore hari, Mereka yang kelaminnya sama dengan punyaku seakan menggoda dengan balutan handuk keluar masuk kamar mandi.

Entah berapa lama lagi waktu yang dibutuhkan sampai orientasiku berubah.
Setelah itu, mungkin saya akan menyisipkan kata betina di antara 'Kandang Macan Juandha'.
Menjadi: 'Kandan Macan Betina Juandha'.
Yey mengerti maksud eyke kan?!

Di tempat 3x4 meter persegi ini kemudian aku bilang rumah.
Tempat paling nyaman setelah seharian letih dengan rutinitas kuliah.
Kalau kau ada waktu, bolehlah singgah.
Nanti aku kirimi itenary perjalanannya, semoga tidak tersesat.

1 comment:

  1. beberapa paragraf terakhir, kok malah jadi aneh? -_-

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan