11.4.13

Hamil Muda Setelah Bersenggama dengan Bahasa

Aku sedang bersenggama dengan bahasa.
Akhir-akhir ini begitu menggairahkan.
Rasa-rasanya aku bisa bercinta dimana saja dengannya.
Di ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, sampai bilik ibadah.
Tidak masalah buatku. Kapanpun.



Bahasa menjelma menjadi jantan.
Inspirasi adalah vitalitas yang menjaga hubungan ini harmonis.
Lalu peristiwa-tragedi-duka-bahagia, direkayasa sedemikian rupa menjadi kode DNA.
Walau begitu, nanti hasil pembuahan kita tidak bisa dilacak bagaimana awal mulanya.


Tapi, senggama saja tidak cukup.
Aku butuh dinikahi olehnya.
Mengikatkan diri dalam komitmen, lalu membebaskan dalam pengawasan.



Dari senggama-senggama berbulan-bulan, aku berharap lahir mereka.
Mereka yang akan abadi dalam ukuran kekal manusia.



Aku tahu sayang,
Ini akan menjadi ujung senggama kita.

Aku akan menguatkan rahim, supaya mereka yang keluar menjadi karya terlahir dalam rupa dan akal yang sebaik-baiknya. 



Bukankah klimaks itu candu?
Repetisi adalah tanda kita haus dengan kesempurnaan.
Dan, yang pertama selalu menjadi alasan untuk melahirkan yang ke-dua.



Wahai Bahasa, aku merasa waktu itu masa suburku.
Saat kita bersenggama.
Sekarang aku mulai merasa mual, dan muntah-muntah kecil.
Kata dokter, "Selamat, kau hamil muda"
Semoga tidak keguguran saja.
Aku takut sekali.
Wahai aksara-aksara yang masih ada dalam semesta pikiran
Sudah ada banyak calon nama untukmu.
Lahirlah menjadi karya abadi, hasil senggama ku dengan biangmu; bahasa.


referensi gambar dari sini

3 comments:

  1. tulisannya kereeennnnn,....
    walopun sedikit hilang fokus gara2 gambarnya, hehe

    ReplyDelete
  2. Selamat bertumbuh, teman! Semoga liang peraduan itu bisa jadi saksi lahirnya orok-orok yang nantinya menggugah, menggerakkan.

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan