1.5.13

Ableh dan cerita sampai pagi

Namanya Ableh, dipanggil Bleh. Saat ini kami sedang terlibat percakapan seru. Ada persamaan antara saya dan dia. sama-sama bebas dan tidak ada ikatan dengan lawan jenis. Saya tidak sedang berdua dengan Ableh. Tenang saja. Ada Syiraz dan Idham dalam ruangan 4 x 4 meter ini. Penuh asap rokok. Bikin mata perih. saya adalah perokok pasif di sini. Dan saya sedang dalam usaha berhenti untuk merokok. Merokok dengan duit sendiri. Yah, saya lebih suka minta rokok sama orang. Sama seperti Ableh.

Ableh, dipanggil Bleh.
Dapat julukan Bleh, karena pas masih kecil, pas pertama kali bisa ngomong, dia cuma bisa bilang Beh!
Namanya siapa?
Beh!
Ini punya Siapa?
Beh!
Setelah huruf A?
Beh!
Keluarga berencana, disingkat Kaaa
Beh!

Potongan bibirnya Jebleh, sama teman-temanya sampai sekarang dipanggil Ableh!
Ableh cerita pas SMP dia termasuk keren banget, karena sering diajak tawuran sekolah sebelah. Senjata utamanya adalah mistar plastik. Dia pernah dilempar penghapus kayu sama guru bahasa Inggris gara-gara ngomongin Tsubasa dalam kelas tapi dikira lagi ngomongin siasat buat gebukin sekolah mana. Pas SMP saya malah suka jadi sasaran tawuran. Kali ini tidak sama seperti Bleh.


Dia lanjutin pendidikan di STM. Namanya berganti jadi Jabley.
Saat di jamannya anak-anak pada ke sekolah bawa buku, dia ke sekolah bawa pedang. Kalau yang lain ke sekolah bawa botol air minum, dia bawa tupperware isi anggur merah. Hidup is about M3. Makan, Minum, dan Mabok.
Tapi setiap ada duit lebih, dia paling anti hanya ngabisin buat mabok dan ngobat. Dia habisin buat apa dong? naik gunung! yo man, gue suka nih anak.

Kali pertama pengalaman naik gunung pas SMA, dia harus bohong sama orangtuanya dengan dalih ada tugas pramuka di Cibubur. Obrolan pun berputar dari kriminalitas ke pengalaman dia naik gunung, cara menghargai alam, cara bertahan hidup di gunung.

Cerita gunung dia gak bisa habis-habis. Sekarang pukul 3.28 am. Pagi Buta. Ableh masih punya banyak cerita tentang kisah-kisah dia dan gunung. Pernah pas pendakian Gunung Kerinci di Jambi dia menemukan momen terhening paling khusyuk seumur hidup. Saat dia berpapasan dengan harimau Sumatera dan gak tau mesti ngapain.

"Pas di Kerinci, gue gak butuh cewek dengan rok pendek buat nyemangatin jalan, 'ayo semangat Bleh!'. Cukup dengan papan peringatan 'Percepat langkah Anda, jalur ini sering dilewati harimau'"

Sekarang saya sudah agak paham, apa yang orang cari dengan capek-capek naik gunung?. Semua orang yang naik gunung punya motivasi pribadi. Ableh juga. Apa motivasinya?
Suatu hari kamu pasti ketemu Ableh, dan Ableh akan cerita langsung ke kamu. Sampai pagi. Tentang apa motivasi dia. Karena menurut Ableh, Dunia itu sempit. Manusia akan ketemu-ketemu itu lagi itu lagi.

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan