8.5.13

Cinta-cinta Monyet Juandha


Sampai sekarang saya tidak pernah berhasil mengerti makna harfiah dari istilah 'cinta monyet'. Cinta monyet itu apa?. Apa hubungannya cinta dengan monyet?. Apakah anak-anak monyet yang dilahirkan oleh induknya terlahir karena ibu-bapak mereka bersenggama secara iseng-iseng berhadiah?

Saya menyederhanakan cinta monyet itu adalah label buat suatu hubungan dilakoni oleh anak-anak kecil lawan jenis atau sesama jenis (serem juga ada anak-anak yang homo sejak kecil) yang belum bisa bepergian keluar rumah tanpa ditemani orang tua.


Nah, saya salah satu dari sejuta anak yang pernah mencicipi fase cinta monyet ini. Well, who doesn't?
Tapi saya nggak mau menyebut masa-masa itu sebagai masa cinta monyet. Sadar nggak sih kalian, dibalik kata cinta monyet ada metafora yang disisipkan, berusaha untuk menarik kebiasaan yang sama antara umat manusia dan spesies monyet. Konspirasi. Saya tidak setuju. Saya lebih senang kalau masa itu kita labeli sebagai 'Aku-Kamu Dini' , sebuah penjabaran dari tahap yang lebih serius, 'Pernikahan Dini'.

Memang kenapa kalau ada anak-anak yang sudah 'Aku-Kamu Dini' ?
Nggak apa-apa sih, heroik aja, kesannya tuh terlalu cepat dewasa. Mungkin pengaruh media dan TV. Padahal  pas jaman saya, FTV belum semeriah sekarang loh!. Yah mungkin karena rasa ketertarikan pada lawan jenis itu sudah kodratan Tuhan dan saya tidak berani menyalahi kodrat Tuhan. Kamu berani?. Kalau saya sih ummat yang taat yah.

Mengingat momen-momen Aku-Kamu Dini , memang gak pernah habis lawaknya. Pas kelas 4 SD saya pernah naksir anak kelas 3 dari SD tetangga. Namanya Nira. Kami suka naik sepeda-sepedaan pas istrahat sekolah. SD kami berdua emang persis sebelahan. Sejak saat itu, kalau lapar saya selalu rela memlilih untuk berbelanja di kantin yang lebih jauh, milik sekolah sebelah. Soalnya, kalau jalan ke kantin sebelah saya sekalian bisa senter-senter si Nira dari jauh.

Saya bukanlah satu-satunya yang suka sama Nira. Saingan saya adalah teman-teman saya sendiri. Kami adalah perkumpulan anak yang menyukai gadis yang sama. Keren juga yah, sejak usia dini kami sudah dilatih untuk berkompetisi.

Waktu itu perasaan rindu yang menggebu-gebu tidak didukung dengan kemujuan teknologi informasi dan selular yang memadai. Satu-satunya sarana untuk berkomunikasi hanyalah telepon koin umum punya Telkom. Sering banget saya nelpon hanya untuk mendengar suaranya.

"halo", suara Nira dari seberang, bukan suara mamaknya.
"ya Halo, ini Nira anak kelas 3 di SD 322?", walaupun sudah tau itu Nira saya masih perlu make sure kalau ini Nira yang saya maksud. SOP ini penting, jangan disepelekan!

"iya, ini dengan siapa yah?". Nah, kalau udah ditanyain ini dengan siapa, saya biasanya langsung diem, takut untuk ngomong apa-apa. Yang bisa saya lakukan hanya menunggu sampai dia menutup telepon. Habis itu biasanya saya telepon lagi, kali ini saya menjual nama teman sendiri.

"iya ini Nira, ini dengan siapa yah?"
"Hai, ini Anugrah anak kelas 4, kenal gak?"
"Anugerah siapa ya?".  YUHUUUU BRO!. Satu kompetitor berhasil disingkirkan. Anugerah adalah teman sebaya saya yang juga suka sama Nira. Ternyata, Anugerah dan Nira adalah hubungan suka tanpa saling mengenal. Potensi saya jauh lebih bagus dong kalau gitu,soalnya  udah sering sesepedaan bareng.

Selain dilatih untuk berkompetisi, dalam masa Aku-Kamu Dini, saya juga dilatih untuk banyak bersabar. Karena telepon umum di kompleks rumah itu hanya satu, jadinya kalau mau menelepon Nira habis pulang sekolah saya harus ikut mengantre. Sering antreannya sama bocah-bocah lagi, ada yang nelepon karena mau request lagu di radio lokal, dan selebihnya anak-anak seperti saya. Mau menelepon pacar. Ceuhileeee!

Kalau teleponnya kebetulan kosong, rasanya tuh legaa banget. Ibarat pas di jalan mau boker, terus tiba-tiba nemu McD. Kenapa McD? Yah karena McD selalu ada dimana-mana, di tempat  strategis dan di WCnya kita bisa boker gratis tanpa beli apa-apa kalau tega. Saya salah satu yang tega dan itu rasanya LEGA.

Kalau antrian teleponnya panjaaang, saya biasanya minta uang tambahan sama ibu bilang mau jajan, padahal duitnya mau dipake nelpon Nira di Wartel. Asal tau saja, Wartel pas jaman saya kecil adalah barang mewah. Mungkin kalau sering-sering nelpon di Wartel, teman-teman saya bilang kalau Juandha anak HEDON, selalu memilih wartel untuk menelepon. Yah mau gimana lagi, wartel menyajikan eksklusivitas dan bisa telepon sampe jarak jauh lewat saluran SLJJ pulak. Tapi yah itu, harganya 300 perak semenit. MAHAL! Kan kalau telepon Umum 300 perak saya sudah bisa ngobrol 3 menit.

*****
Siang itu saya ingat banget mau menelpon Nira sepulang sekolah. Seperti biasa telepon umum biru punya Telkom penuh. Antrian padat  merayap, tapi gak merayap juga gak apa-apa, bisa nunggu antrian kelar sambil duduk-duduk di warung dekat situ. Sudah ada beberapa teman sebaya ikut mengantri, nama disamarkan. Lumayan lama juga sih nunggu mereka selesai, ketika giliran saya tiba dengan penuh semangat saya menekan tombol dan menunggu sampai telepon diangkat. Belum sekali nada sambung Tuttttt.. telepon seberang sudah diangkat.

"ya, ini dengan siapa lagi?", suara Nira diseberang, bergetar merdu di kuping.
"hemm ini Andha, kok dengan siapa lagi"
"Oh, kenapa kak?"
"Cuma mau tanya kabar, Nira apa kabar?"
"Baik, tapi Nira mau bobok siang dulu. Nelponnya uduh dulu yah!" telepon ditutup sepihak.

Recehan saya cuma ketelen 100 perak, padahal udah banyak bawah receh nih. Tapi, kok penasaran juga  sama kalimat pembuka pas nelpon Nira barusan, dia bilang, "ya, ini dengan siapa lagi?". Emang siapa lagi yang suka nelpon?. Usut punya usut, curiga punya curiga, cemburu punya cemburu, saya punya saya, receh punya receh, disambung menjadi usut curiga dan cemburu saya punya receh ,saya kemudian kembali ke warung, sudah ada bocah-bocah teman sebaya yang barusan menelpon juga. Satu-satu saya introgasi. "Siapa kau telepon barusan?".

Satu-satu menjawab. Jawabannya sama. "Nira".

OWH PANTESAN DIA NANYA INI DENGAN SIAPA LAGI?!

Kemudian, receh-receh di tangan, sisa budget buat nelpon Nira kemudian saya beliin permen karet yang berhadiah stiker tatto Dragon Ball. Apa yang terjadi selanjutnya ? Saya kurang ingat lagi.

Sekarang, mari fokus belajar menyongsong UAS minggu depan. terima kasih sudah membaca.
Wassalam.

4 comments:

  1. Hehe...lucu jika d kenang yaa... Mengingatkan saya saat kelaas 3 SD di taksir sama anak kelas 4 juga. Namanya Ali. Kami bertemu di lokasi perkemahan. Setelah itu tidak pernah bertemu lagi... :)

    ReplyDelete
  2. lam kenal, ternyata dek nira tho, lucu banget bacanya, polos abis hehe, jadi inget laskar pelangi hehe

    ReplyDelete
  3. Permen karet hadiah tato.. :') Rindu oooh rindu.. #Jeder.

    ReplyDelete
  4. istilah2nya lucu banget siiih...
    ibarat pgn boker, ketemu McD :D Kenapa gak bilang ketemu pom bensin? itu kan jg ada di mana2. ketauan bgt nih suka kentang gorengnya yaaa, take away... :p

    salam manis,
    arga litha

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan