6.5.13

Dansa Terakhir?



I go through all this
Before you wake me up
So I can feel happier
To be safe up here with you

Saya baru saja pulang dari event Focal Point Bandung, membawa pulang alunan lagu-lagu riang Mocca dalam kepala. Lagu Hyperballad, lampu-lampu, balon warna-warni, pohon-pohon bercahaya. Saya tidak percaya!. Taman Ganesha yang biasa saja kini disulap seperti pasar malam. Saya sendiri. Merasa asing dengan orang-orang yang sibuk menyanyi mencoba lebih merdu dari suara Arina atau mencoba lebih keras melawan pengeras suara.

saya membayangkan sosok lawan dansa yang imaginer. Tiba-tiba, leherku terasa hangat, ada tangan melingkar di sana, pelan-pelan kaki ku melangkah silang-silang. Kemudian, sepanjang lagu saya melihat matamu. Kau cantik sekali. Bukan main. Kau cantik bukan karena pencahayaan yang temaram, tapi karena malam ini cahaya benderang mampir mengapit hidung rampingmu. Matamu terang sekali. Pupil di sana terbuka lebar. Saya gembira sekali melihatnya.

Beberapa saat sebelum adegan rekaan ini dimulai. Saya tidak tahu bagaimana cara menikmati musik dan cahaya-cahaya ini?. Di atas kepalaku pohon mengahalangi pandang untuk melihat malam yang kebetulan cerah. Saya berniat menceritakanmu tentang angkasa, betapa luasnya ia, betapa rumit sistem yang sebenarnya ada, tapi kita senang sekali menyederhanakannya dalam formula matematis.

Saya terkejut dengan apa yang ada di balik punggungmu. Kau merentangkan sayapmu di detik pertama  tanganku mencoba memegang pinggulmu lebih erat. Kau juga terkejut?

Tanganmu dileherku kini meraba-raba punggung belakangku. Gelisah sekali. Saya mengernyitkan dahi saat kau mengajak untuk terbang.

'Mari berdansa disaksikan bulan. Bentangkan sayapmu, kita terbang!'
'Kau ini bisa saja, aku tidak punya sayap, kenapa tidak lebih lama saja menjejak tanah. Ini namanya dansa. Bukankah kau menikmati?', ucapku mencoba meyakinkanmu.

Kau diam. Tangan di leherku sudah tidak ada. Tanganku pun pelan-pelan melepaskan pinggulmu. Kita berdiri hadap-hadapan. Dalam kedipan mata, kau berubah menjadi seekor burung. Tenggorokanku tercekat di detik saya ingin berteriak,'tidak!'. Tanpa peduli kau kini terbang menghadap bulan.

Perumpamaan burung dan pemburu itu terlalu kejam. Dalam kisah ini, saya tidak ingin disebut pemburu. Saya hanyalah penikmat. Tidak menembak. Tidak Menangkap. Saya hanya duduk. Melihat.

Sampai di sini saya tersadar, kalau sangkar bukanlah tempat yang indah. Seperti sebuah ikatan, komitmen bisa saja menjadi rantai yang membelenggu. Karena hati manusia tidak cukup hanya diikat dengan kata 'aku setia padamu' , saling percaya bukan satu-satunya yang mencukupkan hati manusia. Dan banyak orang tertipu.

Dear you, aku sudah sampai di kosan. Bagaimana dengan dansa kita tadi? Kalau kau sudah sampai di bulan, aku akan menjadi pemuda yang memuja malam. Terima kasih sudah membaca ini.



1 comment:

  1. Karena hati manusia tidak cukup hanya diikat dengan kata 'aku setia padamu' ...
    arrggg kereen... :3

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan