5.5.13

Masih bersyukur hanya buta warna.



Warna kulit si bapak agak gelap. Sudah lama ia menghabiskan waktu berdiri di depan loket stasiun yang ditutup. Ia tidak ditemani siapa-siapa. Dan semua orang terlalu sibuk untuk memperhatikan dia siapa.

Stasiun di sore hari memang selalu ramai, apalagi ini akhir pekan. Orang-orang pulang kerja membawa beban-beban kerjaan pulang ke rumah, mungkin untuk dikubur, dibakar, atau  dihidangkan bersama masakan istri di meja makan.

Oh iya, si bapak itu masih di sana. Di depan loket yang tidak ada siapa-siapa. Kalau sudah akhir pekan seperti ini, loket memang hanya buka di lantai dua. Tapi kenapa bapak itu masih di sana?, apakah dia lupa?

Aku memutuskan menghampirinya. Dan tak perlu kutanya, aku sudah tahu kalau bapak ini ternyata buta.

"Bapak mau kemana?" kataku hati-hati.
"Mau pulang," ujarnya sambil memutar badan mencari tahu dari mana asal suara datang.
"Naik Kereta?"
"Iya. Saya sudah lama sekali di sini menunggu petugas loket, tapi tidak ada siapa-siapa"
"Kalau hari Jumat, loketnya memang pindah ke atas di lantai dua. Bapak mau saya antar?", tanpa menunggu lama persetujuannya aku menuntun si bapak ke loket tiket di lantai dua.

Aku tidak sempat menanyakan namanya. Tidak apalah, yang penting sekarang di tangannya sudah ada tiket kereta jurusan pulang ke rumahnya. 

"Bapak dari Papua kah?", tanyaku memastikan karena melihat warna kulitnya yang gelap.
"Iya, saya dari Raja Ampat"
"Wah, bapak saya baru saja pulang dari Raja Ampat. Saya senang dengan Raja Ampat, pemandangannya bagus sekali bapak". Tidak cukup sampai di sini, kalimatku berlanjut. Aku terus menceritakan keindahan Raja Ampat yang menjadi tempat asalnya. Niatku sederhana, ingin membuatnya bangga. Ternyata ada orang yang berjarak ribuan kilometer pernah ke tempat dimana ia lahir, di Raja Ampat.

Bapak hanya senyum-senyum. "Wah memang, Raja Ampat memang cantik sekali. Beruntung jadi kamu yang bisa ke tempat saya dan melihat indahnya. Saya lahir di sana, sampai sekarang cuma bisa diceritakan indahnya saja" balasnya yang membuat saya jadi tertegun.

Dia lama tinggal di Raja Ampat dan sampai sekarang cuma bisa mendengar sambil membayangkan sendiri bagaimana Raja Ampat. Ibarat punya Ferarri , tapi tidak tahu cara mengendarai. Mungkin kenangan Raja Ampat olehku dan olehnya akan berbeda. Semoga, kenangannya sama baiknya dengan kenanganku.
*****
Cerita di atas bukan pengalaman pribadiku. Kisah ini diceritakan kembali oleh Mbak Dayu Hatmanti pada saat kami bertemu beberapa hari yang lalu di Jakarta. Kemudian, cerita ini meninggalkan saya pada perasaan bersalah karena terlalu banyak mengeluh hanya karena buta warna.

Saya adalah penderita buta warna parsial, Red-Green Color Blind. Kenyataan yang baru kutahu pas kelas 3 SMA, pas minta surat keterangan bebas buta warna dari seorang dokter rumah sakit umum di Bulukumba. Saya merasa selama ini tidak pernah ada masalah dengan warna. Saya merasa baik-baik saja. Dan kenyataan ini membuatku kaget. 

Tadinya berniat daftar jurusan kuliah Desain Komunikasi Visual, tapi karena buta warna saya akhirnya di sini, kuliah di SBM ITB. Kuliah di sini menyenangkan dan hobi saya masih bisa diakomodasi dengan baik lewat mata kuliah Business Communication atau Integrated Business Experience. Kuliah yang saya sebutkan barusan adalah kuliah yang kerjanya bikin poster, TVC, poster, pamflet, dll.

Soal warna, bagi saya itu adalah urusan selera, rasa, dan intuisi masing-masing saja. Lagi-lagi saya bersyukur, selera dan intuisi saya cukup jitu untuk urusan seperti ini. Walaupun buta warna, saya tetap sering dipercayakan untuk urusan desain loh!

Berikut adalah beberapa karya yang (bisa) saya bangga-banggakan.


Eliminasi - Ilustrasi untuk pertunjukan Mimesis di Oddisey 2012



Layout website Ekspedisi Rupiah

Jadi kenapa harus mengeluh?
Harus banyak-banyak bersyukur mestinya, selagi color picker tools di Corel Draw masih ada, urusan pilih warna bisa diatur. Oh iya, buta warna adalah penyakit genetis. Kasihan calon anak saya nanti.

3 comments:

  1. kita memang harus bersyukur dalam kondisi apapun :)

    ReplyDelete
  2. kita memang harus bersyukur dalam kondisi apapun :)

    ReplyDelete
  3. thanks, saya adalah seorang ibu dengan anak yang memiliki buta warna parsial, anda membuka wawasan saya, kebetulan saya sedang mencari profesi dan jurusan kuliah apa yang bisa anak saya ikuti...

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan