6.6.13

Jatuh cinta seperti batuk berdahak atau mungkin mirip ingus dalam hidung

Sudah seminggu saya didera batuk berdahak. Rasanya tidak enak!

Terkadang rasanya seperti ada biji kedondong yang nyangkut di leher dan tak beranjak pergi. Tetap di sana.

Dalam situasi seperti ini, saya senang membayangkan penemuan teknologi tingkat tinggi. Sebuah alat 'vaccum' yang bisa menyedot semua dahak habis. Habis. Tak bersisa. Pasti lega sekali rasanya.

Mungkin ini juga rasanya jatuh cinta. Saya tidak suka. Saya sakit. Rasanya mirip batuk berdahak, sumpah!

Atau, seperti ingus yang ada dalam hidung. Rasanya tidak habis-habis. Sama-sama menyiksa. Sama-sama membuat sesak.

Ketika saya merasa hidung sedang banjir ingus, menggunakan kekuatan dorongan nafas, ingus-ingus itu coba kukeluarkan supaya bisa bernafas lega. Setelah itu, beberapa menit kemudian, ingus-ingus kembali datang.

Apakah di dalam sana kita punya pabrik yang memproduksi ingus, sampai tidak habis-habis? Sepertinya iya.

Jatuh cinta sialnya juga begitu. Saya merasa sesak. Dengan logika saya mencoba merasionalisasi prasangka dan isyarat yang selalu berlebihan diartikan untuk bisa bernafas lega. Tidur dengan posisi terlentang tanpa kepikiran apa-apa.

Huh, jatuh cinta punya caranya sendiri. Dia tidak habis-habis, seperti ingus dalam hidung.

Aku mencinta kepadanya.

Walau rasanya seperti batuk berdahak. Kali ini aku berharap tidak punya obat untuk hal satu ini. Biarpun sakit, tapi pada saatnya nanti ingus yang kental akan mengering dan berubah menjadi kotoran hidung bukan?. Lalu kenapa tidak bersenang-senang dulu saja?

Slurrp...
Cukup sekian yah, saya harus kembali ke kamar mencari tissue, mau buang ingus.

5 comments:

  1. hem...
    perumpamaannya lucu dan agak geli-geli gimana gitu bacanya hehehe ^_^

    ReplyDelete
  2. ini benar. dan aku yakin ini jujur.
    semangat untuk perjuangan mendapatkan cinta yaa, jangan kalah dengan keadaan :)

    ReplyDelete
  3. ini pernah aku alami,
    terus semangat perjuangkan cinta yaa jangan mau kalah sama keadaan

    ReplyDelete
  4. hahahah terima kasih semuanya, kisah ini hanya bualan belaka kok

    ReplyDelete
  5. gueeeeeee banget wkwkw, perumpaannya pas sebenernya.

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan