25.6.13

Present The Past

Ini adalah beberapa hasil dari Toycam saya, namanya Diva. Menggunakan film standar, Fujifilm Asa 200. Tapi bagi saya ini bukan gambar biasa, karena selalu ada memori dan momen yang berhasil ditangkap lalu dihadirkan dalam medium apa saja. Memutar apa yang sudah lewat, membuat saya selalu bersyukur untuk apa yang sudah terjadi.

Dari seberang jalan. Dia menatap penuh sigap, berjalan lincah menghampiri kaca jendela. Kemudian saya mengerti, dialah anak-anak yang kecanduan belas kasih.
Menghampiri kaca penderma. Anak pecandu belas kasih, berharap tangannya yang kecil menenteng recehan atau uang kertas setelah ia menjual iba. 
Bangunan tua, andai mereka bicara. Setiap melewati mereka, saya selalu berani bertukar rasa dengannya. Ikut merasakan banyak peristiwa yang mereka saksikan.


Membaca membuatku ada di tempat yang sebenarnya tidak ada. Sore adalah waktu yang tepat untuk menjadi siapa saja, berada dimana saja, dan mengalami apa saja. Lewat buku, saya mendapatkan itu semua.


Perspektif wanita, dari mereka saya tahu wanita itu mahluk apa. Ipeh dan Rizka, perbincangan suatu sore di Warung Pasta.

Satu senja bersamaku. Melihat apa yang orang-orang sibuk lakukan lewat dinding kaca. Kemudian, sesekali anak gadis penjual kembang datang menghampiri, menempelkan mukanya di kaca, dari sana saya tahu harga bunganya cuma sepuluh ribu rupiah.


Satu senja bersamamu. Mendengarkan sahabat bercerita, tentang betapa hebat ia akan berupa, tentang betapa berat, kini apa yang menjerat. Faruq Adib sore-sore di Mcd.


Lalu dalam perjalanan pulang ke rumah kosan, melihat mereka yang beda profesi. Ada keragaman dan itu menarik. Walau tampak di gambar, mereka sedang mendorong.


Jejak kaki Serigala. Di lantai berubin? 

Menjejak Tanah. Membawa ke ketinggian, dan saya tidak bisa berpikir untuk meminta apa-apa lagi .
Menjejak langit. Dalam hitungan detik, saya hanya akan tampak seperti lalat di langit yang biru.


Kerajaan dalam air. Pasti di sana tumbuh mikroorganisme yang bisa mengajariku apa itu semesta dan tak terhingga.
Gantengnya gak kuat.


Arief Syakur Sutedjo, dipanggil Barip menghabiskan rokok kretek. Dari belakang aku mencuri gambar.


Masih bersama Arief Syakur Sutedjo, dipanggil Barip. Katanya, "Ju, fotoin!" 
Lagi-lagi Arief Syakur Sutedjo, dipanggil Barip. Saat naik Gunung Gede dan malam menjelang, dia tidak percaya dengan sensitivitas night vision eyes yang kupunya.


Corak daun. Saya tidak pernah bosan melihat mereka, dan saat yang tepat ada sulur matahari merambat dari celah-celahnya.


Tumbuhan pakis. Saya suka dengan tunas mudanya yang terlihat seperti lidah naga.


Telaga. Di dalam sana ada kehidupan. Ikan-ikan, siluman, atau mungkin buaya.


Arief Syakur Sutedjo, dipanggil Barip, tangannya lebih panjang dari tangan saya. Untuk mengambil gambar kita berdua, dibutuhkan tangan yang panjang, agar dua kepala yang sama-sama besar bisa masuk dalam satu frame yang sama.
Kalau sudah menjadi 'Bapak'. Saya mau seperti sepasang mereka di atas. Seorang bapak dan anaknya, berpegangan tangan, dalam perjalanan menuruni Gunung Gede.
Polisi di sana, jangan sampai matanya bertemu matamu. Itu pertanda kurang baik, percayalah!


Ini 2013, sebelum berapa tahun lagi jalan raya menjadi seperti neraka. Kendaraan dimana-mana, bergerak sedikit-sedikit, sampai menua di jalan.


Gedung tinggi di simpang Dago. 


Anak-anak entah mencari apa. Kasihan sekali, sudah lama ia membeku dengan posisi yang tidak enak di dalam foto, pasti capek sekali.




4 comments:

  1. gambarnya kamu ambil sendiri?
    keren...^_^

    ReplyDelete
  2. keren :)
    saya sedang rencana untuk beli aquapix juga. tapi mau tanya, ini pindahin filenya jadi soft copy gimana ya?

    ReplyDelete
  3. Hai Sulyana Erma, ntar roll nya di cuci scan aja. Biasanya harganya 25 ribu-40 ribu, tergantung nge-scannya di mana :))

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan