27.8.13

Monolog Kepada Nona-Nona



Aku suka Nona memakai pakaian berbunga-bunga, rambut digelung ke atas.
Tapi aku selalu tidak tahan digoda oleh rambut Nona yang nakal menyentuh leher panjang.

Nona duduk di dalam kendaraan berkaca tebal yang larinya kencang, melintas di daratan Jawa. Melewati apa saja, tak peduli itu belakang rumah, kupanggil namanya kereta.

Sudah malam begini, kereta seperti lari bergairah menyusuri senti rel besi.
Tidak butuh terang, kereta sudah hapal dan yakin. Tergesa-gesa ia, maka panaslah dia.

Bukankah Nona suka bunyi kereta meleguh panjang yang menggerutu "tuku...dutu...tu..."

Meninggalkan stasiun, pergi entah kemana.
Lalu Nona mungkin berkata: "Tuan di sini seharusnya engkau berada"


Ah,
Nanti juga ada banyak yang duduk di samping Nona, di dalam kereta.
Nona tidak akan mencariku lagi, Nona mungkin tidak lagi berkata: "Tuan di sini seharusnya engkau berada"

Juga, kalau Nona sudi keluar, ada mereka, penuh jajanan kopi di tangan dan panganan ringan menawan.

Kata mereka: "Nona keluarlah, karena kami dilarang masuk ke sana. Ke kereta eksekiutip. Bising saja kami nanti, atau dikira pencuri. Biarlah Nona keluar sebentar saja, ayo Nona!"


Kalau Nona mendengar mereka teriak: "Kopi...kopi..kopi," itu artinya mereka juga menjual popmi.
Selarut ini mereka masih berjualan,
bukan diri,
bukan diri,
cuma kopi dan popmi.
Bisa juga aneka gorengan, seperti tahu.

Kini jauhlah Nona melaju. Kereta kembali menggesek rel. Tergesa-gesa dalam gelap yang merelakan diri dilibas saja.

Nona mengunyah tahu, duduk mendengarkan lagu. Pasti Nona tidak tahu, aku terus mengunyah rindu.
Karena, katanya rindu yang manis adalah rindu yang dikunyah dan tidak tertelan.
(Atau sebentar lagi rindu kumuntahkan saja?)
Rindu pada Nona

Tunggu sebentar Nona,
ada sisa susu coklat menggaris tebal di bawah bibirmu.
Sebenarnya sejak kecil aku diajarkan hidup hemat, sudah terbiasa menghabiskan sisa.
termasuk sisa itu, kalau saja Nona bolehkan, di bawah bibirmu.

Terantuk, aku ingin kepala Nona yang ringan menyandar di bahu.
Kepala yang juga mabuk karena menyimpan perasaan sendirian.
Sudah kuingatkan, ada aku!

Nona, di langit, bintang tidak muncul setiap malam.
Tidak usah mencari dan menunggu-nunggu.
Jangan Nona memaksa merendahkan langit. Setelah Gelap selalu ada tempat pulang.
Lelap.

Nona, merebahlah denganku.
Ucapkan nama Tuhanmu, bersyukurlah dan mintalah sama banyaknya.
Kalau tak punya Tuhan. Kau hanya punya dirimu.

Kalau tak punya Tuhan.
Nona di mana?
Nona tidak ada.
Karena Nona, none. Kata Tuhan, begitu.

Nona tidak sendirian.
Beristirahat bersama kenangan yang digdaya.
Memeluk perasaan yang belum ketemu tempat beristirahat.

Aku pun begitu.

Di dalam kereta, Nona terlelap.
Kenapa Nona memilih naik kereta, bukan pesawat saja?

Padahal,
aku akan lebih senang melihat Nona memakai pakaian berbunga-bunga, rambut digelung ke atas.
Tapi aku selalu tidak tahan digoda oleh rambut Nona yang nakal menyentuh leher panjang.
Duduk dalam pesawat yang tinggi terbangnya.

Ehm, Nona.
Mungkin alasan pesawat terbang tinggi, tinggi sekali, agar masing-masing kita melupakan jarak.
Dan melihat lebih jelas apa yang dari dekat tidak kita mengerti, sekaligus mengaburkan sebenar apa perasaan masing-masing kita di bawah sana.

Selamat malam.
Nona, kau kukecup!

1 comment:

  1. paling suka bagian ini,

    "Karena, katanya rindu yang manis adalah
    rindu yang dikunyah dan tidak tertelan"

    *kemudian menikmati rindu yang katanya manis jika dikunyah* :))

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan