1.9.13

Apa Yang Tidak Sempat Tembakau Ceritakan Pada Djamari.


Merapatlah kemari, aku hendak menceritakan rahasia besar Tembakau.Tidak banyak yang tahu masalah ini. Ada cerita Tembakau yang tidak pernah kalian, manusia tahu. Juga oleh manusia yang membakar tembakau dengan alasan sebatas candu. Setelah kau tahu rahasia ini, diam saja. Karena di luar sana penuh manusia yang mencari alibi untuk kebenaran walaupun alam bawah sadar mereka mengatakan iya.

Tembakau tumbuh besar di ladang-ladang punggungan gunung daratan tinggi. Di sana, ia tenang dan bergurau sepanjang hari dengan kekasihnya, Tari. Karena hanya di tempat itulah, ia menjangkau Tari sepuasnya, lepas, binal, dan panas. Kecuali ketika awan sedang tebal, hujan atau malam yang terlanjur turun.

Tari tidak tinggal bersama Tembakau di punggung pegunungan. Dia berada jauh tak teraih. Di atas udara, di sana Tari menggantung begitu saja. Tari menandakan pergantian hari, oleh manusia kini ia disebut Matahari.

Tari punya daya pikat yang abadi.
Selama ini Tembakau juga tidak pernah yakin seperti apa rupa Tari. Apakah Tari punya paras yang manis. Tembakau cuma berani mencuri tatap. Tembakau tidak pernah bisa lama menatap. Terik dan silau sekali. Kalaupun bisa, Tembakau tidak bisa menatap lama-lama. Entah, mungkin karena ia takut ketahuan pipinya memerah karena malu.

Oleh ilmuwan, daya pikat Tari disederhanakan dengan nama kalor, bentuk energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke suhunya lebih rendah, ketika benda bersentuhan. Teori ini tidak bekerja pada apa yang Tembakau alami. Tari membakar Tembakau sampai batangnya besar dan terpanggang sampai daunnya matang, memindahkan panas tubuhnya tanpa pernah ia (Tembakau-Tari) bersentuhan, sekalipun.

"Bukan kalor yang ada pada Tari, ilmuwan-ilmuwan mabuk itu hanya ingin menyederhanakan apa yang terlalu sulit untuk dijelaskan kepada anak-anak mereka di sekolah." Acuh Tembakau. Baginya, Tari nyata walaupun tanpa pernah mereka bersentuhan, sekalipun.

Diam-diam Tembakau jatuh hati pada Tari. Seperti orang yang bisu, apa yang membuncah dalam dada Tembakau tidak pernah terucap. Seperti Tuli, kalaupun Tembakau tidak bisu, Tari juga tidak pernah bisa mendengar apa yang di bawah sana Tembakau ucapkan, sekeras apapun.

Tuhan, lupa menciptakan mulut untuk Tembakau, dan telinga untuk Tari. Tuhan, tapi tidak lupa menciptakan hati bagi keduanya.

Di sini rahasia itu dimulai. Misi Tembakau untuk naik menemui Tari di tempat ia menggantung begitu saja, di atas sana. Dengan cara bagaimana, bisa ia?

Di sebuah tempat, di tanah Hanacaraka. Di tempat ini banyak orang yang lebih percaya pada keyakinan dan pengalaman penutur daripada teori ilmuwan mabuk. Tembakau punya rencana, Tembakau juga punya rekan manusia, namanya Djamari. Lewat Djamari, Tembakau meminta bantuan agar ia mau berbohong dan menyebarkan berita, ia sembuh dari asma karena mendapatkan wangsit dari Hyang Jagad, kalau Tembakau adalah obat. Djamari setuju.

Ada harga yang harus dibayar Tembakau untuk naik menemui Tari di tempat ia menggantung begitu saja, di atas sana. Dengan menjadi asap.

Tembakau pun akhirnya merelakan diri dikeringkan oleh Djamari, digarang sampai menjadi serabut, lalu dilinting dengan daun jagung, direkatkan pakai ludah, dikasih tambahan saus cengkeh. Oleh Djamari, Tembakau dirubah menjadi klobot. Klobot yang sudah siap dibakar ujungnya, lalu diisap syahdu Djamari di bale-bale agar semua orang-orang lihat. Dan orang-orang Hanacaraka percaya klobot adalah obat. Sedangkan Tembakau kini menjadi asap.

Memang seharusnya Tembakau harus menjadi asap, itulah satu-satunya cara untuk menemui Tari. Karena sekeras apapun Tembakau teriak memanggil, ia tahu kalau: Tuhan lupa mencipta telinga untuk Tari

Juga beruntunglah Tuhan lupa mencipta mulut untuk Tembakau,
agar orang-orang Hanacaraka tidak pernah menanyakan muslihatnya, apakah benar ia obat asma?


*****


Aku tidak pernah lagi mendengar bagaimana kabar Tembakau yang sudah menjadi asap. Setelah Tembakau kukira pergi, ternyata Tembakau masih berjelaga menempel di bibir diisap orang-orang. Dengan cara yang tidak kumengerti, apakah ia berusaha mendekatkan kita kepada Tari, kekasihnya yang tuli itu. Kekasihnya yang kalau mendekat akan membuat kita mati?

Tapi sebelum Tari berbuat itu, aku pasti sudah mati lebih dulu karena orang-orang sekitarku yang percaya pada Djamari. Percaya pada Djamari walaupun mereka tidak asma. Sehingga kelak, aku menjenguk mayat rekanku satu-satu, dan mayatku sendiri karena divonis  kanker oleh ilmuwan mabuk, istilah kanker adalah peristiwa yang menjelaskan proses ketidakteraturan perjalanan hormon dalam tubuhku.

Kematian.
Inilah hilang nyawa, apa yang tidak sempat Tembakau ceritakan pada sahabat manusianya, Djamari.

sumber gambar: Behance

1 comment:

  1. Gan, gw sangat menyukai semua tulisan anda ! Terus update !
    Kalau bisa buat bukunya

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan