8.9.13

Menjadi Bapak (Tulisan Untuk Saya di Masa Depan)





Ini yang terus hadir di kepalaku, atau juga mungkin di kepala sebayaku yang saat ini usianya tidak lagi muda. Jenjang kuliah yang pertama sebentar lagi usai. Hidup tidak akan lagi lebih mudah dari ini.

Salah sedikit, kita menghamba menjadi mesin. Budak untuk rupiah.
Salah sedikit, di umur tiga puluh kita baru peduli dengan jati diri.

Saya tidak pernah tanya bapak, bagaimana hidupnya di usia dua puluh satu tahun. Yang tadinya sendiri, kini ditemani istri, lalu satu...dua..tiga...empat orang anak, saya termasuk salah satunya. 
Saya tidak pernah tanya bapak, pak apa rasanya jadi bapak?
Mungkin nanti saya tanya bapak.

Pasti menjadi bapak itu tidak mudah. Butuh banyak persiapan, kematangan berpikir, keberanian dan tanggung jawab selalu ada di kepala, pundak, tangan, kakinya. Dan saya mau menjadi bapak yang lebih tangguh daripada bapak!

*silakan sambil memutar audio ini sebelum melanjutkan membaca

Saat saya menuliskan ini, bayangan saya beranjak maju ke 4-7 tahun yang akan datang. Bila sampai waktunya nanti, saya sudah (harus) siap.

Menyiapkan rumah


Rumah yang sederhana saja, tidak perlu besar. Di ruang tengah punya rak yang panjang untuk menaruh buku. Ada banyak jendela di rumah kami, angin dan sinar matahari masuk menghangatkan.

Rumah kami punya taman. Di taman belakang kami membuat jemuran pakaian. Di samping rumah ada pohon teduh yang rantingnya kuat dan panjang. Di sana akan kami buat ayunan untuk anak-anak. Kalau mereka sudah besar dan bisa memanjat, di atas pohon akan kami buatkan rumah pohon yang kokoh, muat untuk 5-6 orang.
Rumah kami punya dapur dengan meja makan. Di sana istriku akan menghidangkan makanan yang enak-enak. Di sana juga setiap pagi, kami berdua menyaksikan anak kami tumbuh besar, lalu mendapati diri kami yang juga tumbuh semakin tua dan menjadi lebih sederhana.

Menyiapkan Liburan

Liburan bersama keluarga, mungkin salah satu hal yang hilang di masa kecil saya. 
Dan itu tidak akan terjadi dalam keluarga kami nanti.

Saya senang membayangkan kami akan sama-sama tidur melihat bintang, di tampar angin di atas ketinggian puncak-puncak yang kami daki bersama, atau berenang di danau, laut, sungai yang airnya belum kena sabun. Oleh karena itu, setiap Jumat malam kami sibuk menyiapkan tas dan keperluan untuk liburan, sabtu pagi kami berangkat, Minggu sore kami sudah tiba di rumah. Saya membayangkan, di akhir pekan kami sekeluarga akan berteriak: Selamat tinggal televisi!
*Kalau punya duit lebih, bolehlah sekali-kali kami ke luar negeri. Ke Skotlandia?

Menyiapkan Nama dan Jumlah

Kalau bisa berencana, saya sih maunya punya anak dua saja, atau maksimal empat. Komposisi  cowok-cewek terserah Tuhan sajalah, saya tidak ada masalah. Nanti, kami akan memberikan nama yang beda dan tidak ada duanya buat mereka, biar guru-guru, dan teman-temannya di sekolah mengingat mereka. Satu nama yang saya bayangkan untuk anak laki-laki kami adalah Azka Aldric


*****

Nanti, tulisan ini akan menjadi sangat lucu untuk dibaca.
Tulisan ini merekam seperti apa saya dan bagaimana pola pemikiran saya saat ini.
Pada saat tiba waktunya, semoga saya akan melihat diri saya sebagai pribadi yang jauh sekali kemajuannya, dalam berpikir dan berperasaan.

Sekarang, adalah waktunya untuk menjadi sebaik-baiknya diri. Untuk sebaik-baiknya keluarga di masa depan. Untuk calon istri di luar sana, we dont need to get rush. All we can do now, sing! Because He already planned the best for us.

Dan semoga, saat saya jadi bapak, bapak masih ada dan melihat saya menjadi seperti dia. Seorang Bapak.

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan