13.12.13

Berteman Dengan Hujan


Hujan membuat saya melankolis. Menghabiskan segelas cokelat panas dan menatap setiap tetes hujan lekat-lekat. Setelah hujan berhari-hari, hidung saya kini tidak peka dengan aroma petrichor. Kecuali aroma segelas cokelat panas yang tinggal setengah dan meninggalkan kerak.

Hujan membuat jendela menjadi buram. Kutempelkan wajah sampai hidung menjadi segaris pipi. Setiap uap yang keluar dari mulut menjelma serupa mantra. Saya mau hujan yang lebih deras daripada ini! Sehingga, membuatku salah setiap kali menebak ketukan tempo dari suaranya di atap rumah. Alangkah hujan yang tidak terurai.

Hujan pun menjadi teman. Sepanjang hari aku belajar, mungkin hanya hujan yang benar-benar mengerti cara meresap dan mengalir. Sebelum ia jatuh, ia sudah tahu akan kemana.



No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan