1.1.14

Catatan 1 Januari 2014. Tidak Tahu Sedang Merayakan Apa.


Ada apa dengan 31 Desember?
Lalu kenapa kalau malam tahun baru kita harus heboh, semarak, dan meriah?
Apakah kita semua benar-benar yakin dengan apa yang sedang kita rayakan?
Atau mungkin tidak yakin tetapi begitulah biasanya, kita ikut saja!

Seriusan, saya ingin tahu. Ada apa dengan tahun baru?

Apakah memang perlu dimeriahkan semeriah itu? Harus menyalakan kembang api segermelap itu? Harus meniupkan terompet seriuh itu? (Hmm, untuk mainan kertas berbunyi khas menyerupai terompet yang selalu ramai di penghujung tahun, saya sungkan menyebutnya terompet sebagai terminologi, saya lebih senang menyebutnya Sangkakala Kecil)

Saya bisa maklumi ketika Yudha adik saya yang masih duduk di kelas lima,  merengek meminta dibelikan Sangkakala Kecil. "Kan di rumah sudah ada Pianika dek?, bisa kita tiup, ada nadanya lagi!"

"Tapi beda, ini terompet bentuknya Naga" katanya sudah tidak bisa ditawar, Yudha dengan gaya mutung yang khas, mengancam semua penghuni rumah seolah 2014 tidak akan datang tanpa terompet bentuk Naga.



Sejak kapan kita mengenal terompet untuk pergantian tahun?

Atau karena memang orang-orang sekarang jarang pakai otak untuk sekedar mengikuti apa yang sudah biasa. Bagaimanapun, saya hanya geli sekali melihat orang yang sudah dewasa ikut latah meniup-niup terompet. Dalam bayangan saya, mereka sedang gladi kotor untuk kedatangan Hari Akhir. Begitu waktunya tiba, semua sontak meniup terompet. 12 am, Happy New Years! Sangkakala kecil dibunyikan meriah.
Mirip kondisi Hari Akhir dalam imajinasi saya, Kiamat! Sangkakala Asli dibunyikan menggaung, sampai jumpa di Padang Mahsyar.

Dimana-mana orang tumpah ruah, bau parfum beraneka rupa, di sudut-sudut keramaian yang minim cahaya pasti ada bau alkohol dan wanita. Apakah ini yang dirayakan di malam tahun baru? Dan malam ini kemeriahan masih berlangsung di detik, menit, jam awal 2014. Saya bisa pastikan, besok adalah hari yang lengang setelah kegilaan malam ini.


Meski begitu, saya tidak terganggu dengan selebrasi tahun baru.
Menonton TV rasanya lebih baik karena selalu banyak hiburan, selalu banyak yang bisa ditertawakan, walau tidak melulu hal yang patut.

Selamat Tahun Baru. Semoga tidak semua seperti Yudha, adik saya yang umurnya baru 11 tahun, tidak mengerti sedang merayakan apa. Satu-satu yang ia pedulikan hanya terompet bentuk naga.

1 comment:

  1. Miris ya, saya juga tak merayakan apa-apa kok. Salam buat Yudha yang merefleksikan keadaan yang sama seperti adikku Putri.

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan