8.7.14

Menang Tanpa Ngasorake!


Berbahagialah kepada kalian yang besok menjadi bagian dalam pesta demokrasi Indonesia.
Tulisan ini, semoga tidak akan mempengaruhi kemantapan hati teman-teman dalam menentukan Capres-Cawapres jagoan. Siapapun pilihan Anda, saya berdoa pilihan itu datang karena proses yang melibatkan hati dan akal. Bukan karena modal kuota internet dan apa kata media.

Kebahagiaan saya bertambah, pemilu kali ini mampu menghangatkan hubungan saya dan bapak di rumah. Akhirnya ada topik yang bisa saya dan bapak bicarakan panjang lebar.

Bapak  yang kini Purnawirawan, sudah kembali mendapatkan hak politiknya. Bagi bapak, mudah saja  untuk menentukan pilihan. Dia tahu benar calon presiden jagoannya. Sewaktu bertugas di Irian Jaya dan Timor Timur, bapak pernah dikomandoi oleh jagoan presidennya dalam Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) atau kini berganti nama menjadi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang berbaret merah. Dari situ bapak melihat kalau sosok capresnya adalah pribadi yang bertanggung jawab, berani, dan tulus mencintai NKRI.

Jadi bapak setuju dengan semua tindakan represi, supresi, dan opresi calon presidennya selama operasi di Irian Jaya dan Timor Timur?
(Saya barusan menggunakan istilah canggih, berjaga-jaga kalau kamu bingung maksudnya represi = penekanan, supresi = pendindasan, dan opresi = penganiayaan)

Ada banyak yang bapak ceritakan tentang detail perisitiwa operasi militer mereka di Irian Jaya dan Timor Timur, saya enggan menuliskan itu di sini. Intinya adalah NKRI harga mati! Sebagai aparat negara, semua itu dilakukan untuk mempertahankan kesatuan NKRI whatever it takes.

Saya jadi ingat statement jagoan calon presiden saya, beliau menganggap kalau penjualan aset negara itu adalah sebuah usaha untuk menyelamatkan kondisi ekonomi Indonesia yang saat itu tidak stabil. Kita tidak bisa pakai kacamata sekarang untuk menilai kebijakan itu.

(Dua-duanya berbeda konteks, tapi sama-sama untuk mempertahankan NKRI)

Lalu setelah capek pake logika, kami pun membahas jagoan presiden dengan emosi. Kami membahas karakter capres jagoan masing-masing. Bapak punya poin lebih di sini. Dia benar-benar pernah kontak langsung dengan jagoannya, sedangkan saya tidak pernah. Saya mendefinisikan jagoan saya melalui rekam jejaknya, pemberitaan di media, dan aksinya di debat Capres-Cawapres.

Saya setuju, kalau dilihat dari debat capres, jagoan bapak memang terlihat lebih santun, sportif, dan kesatria. Sedangkan, jagoan saya terlihat selalu lebih tau, detail, dan punya konstruksi jawaban yang rapih. Meski agak sedikit kecewa dengan Cawapres jagoan saya, yang lebih senior, beberapa kesempatan dia terlihat sangat agitatif dan agresif. 

Kami berdebat panjang lagi dan membahas program kerja. Saya tidak suka dengan gagasan yang diusulkan jagoan bapak. Membuka lebih banyak lahan pertanian agar kita bisa swasembada pangan. Jelas sekali terlihat kalau jagoan bapak tidak paham dengan karunia Indonesia sebagai negara maritim yang jumlah proporsi lautnya 80% dan 20% daratan. Kalau kita bisa produksi ikan lebih banyak, kenapa tidak kita barter dengan bahan pangan dari negara tetangga. Ini prinsip competitive advantage!
Jagoan saya justru lebih unggul karena membawa gagasan poros maritim dunia. Dengan letak strategis, kita bisa menjadi sangat diperhitungkan dalam liga bangsa-bangsa. 

Setelah diskusi saya jadi gamang. Saya mulai suka dengan figur jagoan bapak, tapi di saat bersamaan saya suka dengan program kerja jagoan saya.

Tadi sehabis buka puasa saya menelpon bapak di rumah. Untuk pencoblosan besok, saya akan coblos jagoannya. Bapak pun tanya pertimbangan saya. Sederhana, menurutku program kerja adalah hasil rodi seminggu jadi, sedangkan karakter (kalau apa yang bapak bilang benar) itu bukan ciptaan menahun, itu adalah anugerah dan pasti susah didapatkan di sosok pemimpin manapun. Artinya, program kerja bisa saja diadopsi, kalau toh memang itu yang dibutuhkan negeri kita.

Lalu, nasib jagoan saya bagaimana?
Jagoan saya bisa menunggu untuk jadi presiden periode mendatang. Sedangkan jagoan bapak cuma punya kesempatan periode ini saja. Saya ingin rasakan bagaimana dipimpin oleh jagoan bapak, dan membuktikan kalau apa yang dikatakan bapak tentang jagoannya itu benar.

Kami telah menentukan pilihan!

Pemilu ini membuat saya jadi teringat dengan film The Croods. Film ini adalah metafora dari situasi sekarang. Pada zaman Croodacious saat alam masih dalam proses evolusi, hidup keluarga Croods yang tinggal dalam gua selama berminggu-minggu. Grug sang kepala keluarga selalu berpendapat bahwa dunia di luar tempat persembunyian mereka sangatlah berbahaya. Sementara Eep, anak perempuan Grug selalu penasaran dan ingin tahu tentang dunia luar dan mencari cahaya. Perselisihan antara Eep dan Grug terus menjadi, ditambah lagi dengan kehadiran Guy, orang yang pemikirannya selalu bertolak belakang dengan Grug.

Grug dan Guy ibarat dua sosok capres kita. Sedangkan Eep adalah simbol kegelisahan masyarakat Indonesia. Semoga pada akhirnya, kita sadar kalau kita harus bersinergi untuk selamat dari bencana alam di zaman Croodacious.


Catatan:
Saya mungkin tidak tahu banyak tentang sejarah dan kebangsaan. Tetapi, semoga tulisan ini tidak terlihat menyerupai kebodohan-kebodohan yang bergerak bebas di timeline sosial media. Semoga jagoan bapak menang tanpa ngasorake! *menang tanpa merendahkan.

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan