24.10.14

Masa Depan Yang Baik Untuk Tikus Got


Sering saya menemukan, apabila pulang malam dan melintasi lorong menuju kosan, banyak sekali mamalia coklat melintas cepat (tidak lebih 30km/jam). Mereka berhamburan saat melihatku mendekat. Ada yang masuk ke dalam pipa, menyelip di tumpukan kayu, masuk ke selokan, atau tetiba hilang bermimikri dengan gelap. Banyak sekali!

Mereka adalah tikus got. Iseng saya berpikir, kalau daging tikus itu laku dijual di pasar, saya mungkin akan menjadikan kegiatan berburu tikus adalah profesi sampingan selain kuliah, lumayan banget tiap malam bisa panen sampai puluhan kilogram daging tikus.

Lalu, saya berpikir, apa iya daging tikus got ga bisa dimakan? Apa iya Tuhan menciptakan tikus got begitu banyak di muka bumi ini hanya untuk kita liat-liat saja, atau kita racuni, dan sisanya kita maki-maki karena jadi hama dalam rumah?

Saya ingat sekali ketika saya tinggal di asrama Kodim (pas masih SD), banyak sekali tikus dalam rumah. Bapak saya yang paling semangat menangkap tikus-tikus itu dengan cara memasang perangkap kotak yang didalamnya ada umpan ikan asin. Perangkap-perangkap ini akan ditaruh dipojok-pojok ruangan sebelum tidur, dan kemudian tiap pagi, saya berlomba dengan bapak untuk mengecek perangkap mana yang berhasil menjerat tikus. Lalu tikus yang terjerat, kami siram air panas sampai si tikus mencicit-cicit lemas tak berdaya karena mendapatkan sauna semacam ini.

Ternyata, tikus yang ada di rumah saya di Kodim belum ada apa-apa jumlahnya dibanding tikus yang ada di sepanjang lorong saya menuju kosan. Perbandingannya itu ibarat jumlah jamaah sholat di mesjid kabupaten, dengan jamaah haji di Mekkah. Yah kira-kira segitulah.

Dengan jumlah tikus sebanyak ini, apa iya mereka hadir tanpa punya manfaat?

Saya tahu kalau menjadikan tikus sebagai panganan bukanlah hal yang baru. Ada kelompok etnis Musahar di India yang terbiasa makan tikus sebagai upaya untuk pemenuhan gizi mereka. Lalu di dalam negeri, orang-orang Minahasa juga memakan tikus sebagai santapan kuliner yang biasanya dicampur dengan santan.

Tapi, tikus yang mereka makan adalah tikus sawah dan/atau tikus hutan.

Lalu bagaimana dengan tikus got? Ia adalah sumber penyakit. Setidaknya begitu yang saya ketahui dari hasil googling. Tapi bisakah kita musnahkan penyakitnya dan ambil dagingnya saja? Teknologi apa yang tidak kita punya sekarang? (Selain teknologi mesin waktu, menghidupkan orang mati, dan penyakit Ebola dan HIV AIDS)

Seriously, saya penasaran bisakah kita mendayagunakan tikus got? Apabila bisa, dia akan menyelamatkan banyak kasus kelaparan dan malnutrisi. Tidak percaya? Silakan googling deh kadar gizi daging tikus. Katanya punya kadar protein tinggi dan zat antioksidan yang bisa mencegah kanker (katanya website ini)

Islam pun tidak menyatakan terang-terangan memakan daging Tikus itu haram atau halal. Seperti pada kutipan alquran berikut, yang penting hewan tersebut disembelih:

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya" (QS. Al-Maidah: 3)

Terlepas kamu melihat tikus itu jijik atau biasa aja, pasti ada dalam hatimu membenarkan tulisan ini. Tikus harus bisa diberdayagunakan, setuju?



1 comment:

  1. Ihsan sanmu musliminOctober 6, 2016 at 8:05 PM

    Kapan ya tikus got bisa diterima masyarakat sbg daging konsumsi manusia?

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan