20.11.14

Gara-gara Puan



Aku ingin tulisanku ini menulis dirinya sendiri.
Menemukan diksi yang indah dan menyisipkan tanda baca yang tepat untuk melengkapi.
Bisakah kau menjadi seperti jantung, paru-paru, atau semua organ tubuh yang bekerja tanpa pernah aku tahu?

Tulisanku, tulislah tentang dirimu, bukan tentang aku dan dadaku yang sedang bergejolak.

Bukan tentang aku dengan senyumku yang mengembang.
Bukan tentang perasaanku yang girang bila tiba-tiba handphone berdering karena puan di sana.
Bukan juga tentang cermin yang sering melihat merah wajahku berseri.

Tulisanku, tulislah tentang dirimu sendiri.

Karena kau tidak akan mampu terlibat di tengah perasaanku seperti ini.
Perasaan yang ingin menuntaskan rindunya sendiri.
Perasaan yang tidak meminta untuk ditemukan sebagai bilangan ganjil sehingga memaksa untuk segera digenapkan.

Melainkan, hanya ingin ditemukan sebagai adverbia,

unsur yang terlibat di dalam inti dan bisa menerangkan sejelas-jelasnya kenapa dada bergejolak, senyumku mengembang girang bila tiba-tiba handphone berdering oleh puan di sana, dan wajahku merah berseri?

Tulisanku, tulislah tentang dirimu sendiri.

Sementara perasaanku, menuntaskan rindunya sendiri.
Rindu yang sudah tahu karena apa dan untuk siapa.


-Tjuandha, Bandung 2014



No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan