25.1.15

Laki-laki yang Kembali ke Rahim


Laki-laki itu belum mengerti caranya menjadi manusia. Dia selalu menyempatkan waktu menikmati Cahaya yang terpancar lewat mata setiap manusia yang ia temui saat berpapasan, saat sedang bercakap, atau Cahaya dari mata yang bergairah sebelum tertutup karena bibirnya mencecap bibir yang lain. Ia masih belum mengerti, kenapa orang-orang ini di sebut manusia. Kenapa dirinya menjadi manusia.

Semua Cahaya itu sama. Cahaya yang ia benci. Cahaya yang wujudnya menjadi sebanyak udara, hadir dalam setiap rongga, mengepung dan memberikan lebih banyak dari yang laki-laki itu butuhkan. Untung saja, Cahaya tidak seperti air, kalau iya sudah dari kemarin laki-laki itu tenggelam walaupun ia tahu caranya berenang.

Karena Cahaya, banyak hal di dalam diri laki-laki itu muncul ke permukaan menyerupa musafir yang lelah dan sangat kehausan. Sebanyak apa pun air yang disuguhkan, banyak hal dalam dirinya tidak pernah tuntas dengan dahaganya sendiri. Air-air itu diteguk dan tak rela dikeluarkan. musafir-musafir itu tidak peduli, kalau sebentar lagi kandung kemihnya meledak!

Laki-laki itu belum mengerti caranya menjadi manusia. Ia masih sering mengamati Cahaya yang terperangkap dalam mata setiap orang yang ia kasihi. Di mata bapaknya, di mata ibunya, di mata pacarnya, Cahaya itu serupa, cahaya yang ia tidak terlalu senangi.

Cahaya yang juga terperangkap di matanya. Cahaya yang penuh atas hasrat kepemilikan. Berada di antara Cahaya, dia berkali-kali kecewa, tentang banyak hal yang tak semuanya bisa dia peluk dalam dua rentang tangan. dia berkali-kali kecewa, tentang kedua tangan yang tak menjadi panjang begitu saja dan merangkul semua banyak hal dalam satu pelukan.

Setiap orang yang ia kasihi dan mengasihinya, sama seperti dirinya. Belum mengerti caranya menjadi manusia.

Setiap orang yang ia kasihi dan mengasihinya, terjebak dalam perasaan penuh kepemilikan. Membendakan manusia. Seperti perhiasan-perhiasan, manusia-manusia dijadikan serupa benda yang menyenangkan hatinya. Mereka memberlakukan aturan kebendaan kepada manusia-manusia yang mereka kasihi, sehingga kadang bersedih apabila benda-benda berwujud manusia itu punya kehendak sendiri, di luar aturan kebendaan yang mereka ingini.

Laki-laki itu mencari jalan pulang, kembali ke rahim yang gelap. Cahaya menjadi terlalu menyilaukan dan menakutkan baginya.

Di perjalanannya menuju rahim yang gelap, ia masih mencoba mengerti caranya menjadi manusia. Laki-laki itu mencoba mengingat kembali hari-hari pertamanya menjadi manusia. Ingatan masa kecil kembali padanya dalam potongan-potongan kisah yang menjadi sangat tidak beraturan. Dia pun khawatir, kalau ternyata potongan-potongan kisah itu tidak benar-benar nyata, hanya karena ingatannya keliru menyimpan potongan mimpi-mimpi yang membekas saat ia membuka mata setelah tidur panjang.

Laki-laki itu setiap hari ada dalam perjalanan menuju rahim yang gelap.
Dia sekarang gelisah, satu-satunya tempat ia tidak akan melihat Cahaya lagi,  apakah di sana tempat yang ia cari?

Ia masih terus mencoba mengerti, bagaimana menjadi manusia.

******

Suatu hari, aku melihat tanah di samping rumah laki-laki itu digali. Semua orang yang dikasihi dan mengasihi laki-laki itu belum kehilangan Cahaya di mata mereka. Semakin bersinar terang memancarkan ketidakrelaan, sambil air mata terus turun ke pipi dan masuk ke dalam mulut mereka. Laki-laki itu sekarang dipeluk oleh tanah, tempat yang selalu ia sebut sebagai rahim yang gelap. Aku pun tidak pernah tahu, kalau ia pernah benar-benar menjadi manusia.

4 comments:

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan