13.1.15

Le Fidossa: Sudah Hampir Selesai



Setelah menikmati malam yang panjang, pagi hari bobot badan saya terasa seperti menguap ke udara. Kaki saya menapak, tapi seperti melayang. Kasur pun kini sudah tidak menjadi kekasih di kala gelap, atau terang gara-gara suara-suara dalam kepala, ribut sekali!
"Ayo, ketik lagi...ketik lagi!"
"Ayo, satu bab lagi!"
"Ayo, sidang sebentar lagi!"

***

Di perjalanan menuju kampus, saya menyesap satu bok susu Ultra Milk. Saya Tidak tahu kenapa harus Ultra Milk. Padahal, saya cuma ingin minum susu. Mungkin, karena samar-samar susu Ultra Milk tersirat makna yang pas buat laki-laki dewasa. kombinasi kata 'ultra' yang berarti teramat sangat, dan 'milk' berarti susu, keduanya berarti susu yang teramat sangat?

Okay. Saya terlalu banyak memikirkan hal yang tidak penting untuk masa depan Indonesia.
Saya mau kencing. Jangan halangi, saya mau kencing.

Di toilet saya melihat keajaiban bagaimana alam ini bekerja. Saya yang detik ini mengeluarkan air seni hangat bewarna kekuningan bau pesing, masuk ke saluran air, lalu menguap ke langit, lalu kemudian bercecer bersama uap air lainnya (air bekas cucian piring, bekas cuci baju, dan sisa kuah bakso) di atas langit mereka siap menjadi hujan yang menyuburkan tanah, atau membuat komplek perumahan kebanjiran.

Oh, berarti mungkin saja saat saya menikmati mandi hujan-hujan, sebenarnya saya menikmati mandi dengan kencing-kencing manusia. Kencing saya sendiri, kencing abang-abang terminal. kencing-kencing selebritis, kencing-kencing hewan peliharaan, dan juga kencing-kencing presiden dan jajaran mentrinya.

Saya mau tahu, kemana kencing Maudy Koesnaedi menguap?

*****

Setelah selesai dari kampus, hari sudah malam dan saya sudah tidak kuat. Ngantuk sekali tapi dalam kepala ribut sekali.
"Ayo, ketik lagi...ketik lagi!"
"Ayo, kerjakan hasil revisi!"
"Ayo, sidang sebentar lagi!"

Saya menyetop angkot Kalapa-Dago dan pulang ke kosan.
Tidak melihat kunang-kunang di jalan raya. Mungkin kunang-kunang juga sudah pulang ke sarang. Saya mendongkol dalam hati, ini jalan raya penuh sekali kendaraan.
Kendaraan beroda jadi percuma, kalau dia berjalan sejengkal demi sejengkal, seperti ulat bulu.
Sampai kosan, mungkin angkot saya sudah jadi kupu-kupu?

Dan, dalam hati saya sebenarnya agak sedih.
Entah sampai berapa lama lagi saya akan menikmati Bandung seperti ini. Lalu kemana lagi hidup akan membawa saya pergi.

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan