28.2.15

Menuju Rumah

Kini, aku tidak tahu kemana jalan pulang,
menuju rumah yang pernah menjadi rumah.
ataupun menuju rumah yang akan menjadi rumah.

Mungkin, pernah diriku mengingat kemana arah jalan pulang.
Tetapi, selalu ada kepergian yang membuatku lupa.
Atau memang, jalan pulang tidak pernah menjadi menarik untuk aku ingat.

Tetapi, kemana aku harus pulang saat ingin pulang?
Aku tidak bisa bilang.

Seperti Adam dan Hawa yang dihukum Tuhan untuk mencari jalan pulang,
aku pun sudah memutuskan untuk membuat sendiri jalan pulang.
Dan kini, dalam perjalanan aku berhenti sejenak, menurunkan ransel di pundak, dan melihat adakah 'kebahagiaan' atau 'beban' di dalam ransel yang mungkin bisa kumakan.

Lalu, kutemukan kotak makanan berwarna biru hitam.
Isinya adalah cerita kita.
Bukankah itu makanan kita yang gagal dimasak?
Saat kita berniat membuat 'kebahagiaan', tetapi kita mungkin saja tidak pas dalam meracik bumbu, atau aku yang tidak rata dalam mengaduk adonan.
Yang pasti, kita berdua sudah terlambat mematikan kompornya.

Aku masih akan melanjutkan perjalanan,
'Beban' ini kumakan dulu saja untuk energi.
'Kebahagiaan' kumakan nanti saat tiba di rumah. Atau di tengah perjalanan.

Urusan kumakan sendiri atau kubagi, tidak menjadi masalah apabila sudah tiba.
Atau tidak pernah tiba.

No comments:

Post a Comment

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan