1.3.15

Matahari Yang Tidak Pernah Kita Lihat

Sekarang, kamu memintaku menyebutkan satu per satu hal indah sebelum dirimu berangkat untuk tidur. Aku bilang, banyak sekali. Lalu kamu tersenyum dan mengulang perintahnya.

"Okay, kalau begitu coba sebutkan hal-hal indah dalam hidup kita saja," katamu.

Aku tidak bisa ingat banyak. Tetapi, hal indah di antara kita selalu tentang matahari yang tidak pernah kita lihat.

Matahari itu adalah matahari yang terlewat kita saksikan karena asyik berbincang sampai dini hari, kemudian tertidur sampai lapar membangunkan. Di masa lidahku masih kelu mengucapkan "aku-kamu". Di masa kita sama-sama masih melihat hidup tidak ubahnya bola yang digelindingkan, selalu kontrol penuh ada di tangan dan kaki kita. Atau seperti air yang merambat ke segala arah dan tidak pernah menolak gaya gravitasi. Hidup kita yang naif.

Matahari itu adalah matahari yang terlewat tetapi kita sadari. Saat menemanimu mengerjakan tugas skripsi yang kamu bilang berulang-kali dapat revisi. Aku duduk sambil menghabiskan sekaleng biskuit, dan kamu dengan jidat berkerut tidak berhenti panik karena harus bertemu dosen pembimbingmu pagi-pagi. Lalu aku meluruskan kerutan jidatmu, mungkin juga gelisahmu, saat ku bilang tahu tempat jilid yang cepat dan bisa ditunggu.

Matahari itu adalah matahari yang kita sengaja lewatkan, karena ternyata ada di dalam dada kita yang jauh lebih menghangatkan untuk dituntaskan, dan kita memilih untuk berada di sana beberapa menit lebih lama sebelum beranjak dari tempat tidur.

Matahari yang selalu kamu lewatkan setiap pagi di dapur dan meja makan rumah kecil kita, menyiapkan sarapan untukku dan anak-anak kita. Seperti biasa, kamu selalu saja direpotkan mencari botol minum dan dasi yang hilang di setiap pagi sebelum mereka berangkat ke sekolah.

Di ruangan ini saat menemanimu, matahari yang sudah biasa kita lewatkan, dan hanya bisa ditebak dari jam yang menggantung di atas tempat tidurmu.

"Aku sudah terlalu mengantuk, ceritakan hal indah itu saat aku bangun," ucapmu pelan sekali. Aku mengiyakan dan kuantarkan  kamu tertidur sampai garis kehidupan layar monitor di sampingmu sudah tidak bergelombang.

Saat itu, matahari tidak pernah lagi datang untuk kita.
Semoga kamu masih bahagia. Aku pun begitu.

Anak-anak kita datang dan kuberitahu tentang hal-hal indah dalam hidup kita.
Aku tidak bisa ingat banyak. Tetapi, hal indah di antara kita selalu tentang matahari yang tidak pernah kita lihat.

Matahari yang terlewat saat aku pun siap pergi ke galaksi di mana iman kita berada.

4 comments:

  1. Manis, dan hangat.

    ReplyDelete
  2. Love it.. yang gak keliatan tapi kerasa.. :')
    semoga sesegeranya dipertemukan digalaksi yg sama.. ^^

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan