19.3.15

Temanku dan Batu Akik


Temanku sekarang punya benjolan berkilau di jari-jarinya. Bila hanya memperhatikan jari-jarinya, kukira saja dia adalah om-om pecandu batu. Saat kulihat wajahnya, oh ternyata dia temanku. Temanku yang sekarang rupanya sudah bergabung dalam gerakan lifestyle paling happening: koleksi batu akik!

Dia senang kalau aku tanya-tanya tentang batu akik. Dia malah menambahkan informasi yang tidak juga bermanfaat aku tahu.

"Masih ada 35 lagi batu di rumah, tapi belum semua dibatangin," katanya.

Dia tersenyum saat kubilang kalau batu-batu itu cocok ada di tangannya. Tapi, bagaimana mungkin dia punya koleksi sebanyak itu, sedang jari tangannya cuma ada sepuluh. Dia bilang, kalau sudah main batu akik, koleksi bisa datang darimana saja. Bisa dari pemberian, dari supir, tukang parkir, atau memang sengaja beli batu untuk kemudian digosok sendiri.

Aku manggut-manggut saat dia mulai menceritakan bentuk representasi dari setiap motif batu akik di jarinya. Cara bertuturnya sederhana, tidak pongah seperti bapak-bapak yang pernah kutemui saat duduk di bale-bale, mereka berpongah, dan tak mau kalah mendefinisikan serat di batu masing-masing.

Sebelum dia pergi, aku tanya karena sangat penasaran.

"Bagaimana caranya coli dengan cincin sebanyak itu ditangan?"

Dia bilang, yah harus dilepas. Apalagi cincin dengan batu berwarna putih susu yang punya lafaz Allah sebagai motif. Katanya, cincin itu haram dipakai masuk WC pun. Lagi-lagi, dia menambahkan informasi yang tidak juga bermanfaat aku tahu.

1 comment:

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan