13.9.15

Euforia Perayaan Wisuda dan Menjadi Pengangguran Setelahnya

Saya masih ingat. 20 Februari 2015 jam 7 pagi, saya mematut diri di kaca dengan kemeja putih satu-satunya yang kupunya, bersiap berangkat ke kampus lalu menyiapkan slide presentasi untuk sidang skripsi. Ini hari besar saya!

Hari itu tidak banyak sahabat yang tahu tentang sidangku. Saya memang sengaja merahasiakannya, karena saya merasa tidak layak untuk persembahan selamat dari teman-teman yang saya pun jarang peduli tentang sidang mereka.

Berkali-kali slide presentasi saya cek. Kemudian kemungkinan-kemungkinan pertanyaan saya putar dalam pikiran berulang-ulang sampai rasanya mulas dan berkali-kali keluar masuk kamar mandi. Saya merasakan ketegangan nyata di semua sendi-sendi, tetapi di dalam dada ada semacam getar halus kebahagiaan, akhirnya sebentar lagi saya lulus.

Saya mulai melatih pernapasan dan mencoba untuk tenang. Tidak berapa lama, pintu ruangan diketuk oleh dosen pembimbing saya, ibu Mia disusul oleh penguji saya Profesor Ratna. Saya meminta izin sekali lagi ke kamar mandi sebelum presentasi benar-benar dimulai.

Singkat cerita, sidang skripsi saya yang berlangsung satu jam lebih membuahkan senyum. Saya dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan. Saya berjalan keluar gedung sambil mengetik pesan kepada orangtua dan teman-teman saya yang akan lulus di bulan Maret. Beberapa menit kemudian, Auda Aganti, orang yang pernah menyaksikan saya depresi sambil makan soto ayam depan kampus datang memberikan selamat. Waktu itu saya depresi karena karena mengulang matkul Pendidikan Agama. Lalu setengah jam kemudian datanglah Mahatma Waskitadi, sahabat seperjuangan skripsi membawa seikat bunga yang wangi, lalu mengajak foto wajib di depan tulisan: "School of Business and Management".

Percayalah, saat Anda baru saja melawan ketakutan terbesar Anda, Anda akan merasa sangat menang dan kaki terasa tidak menapak di tanah. Itulah yang saya rasakan. Skripsi adalah ketakutan yang saya ingkari, akan tetapi saya harus hadapi. Setelahnya, saya merasa perasaan yang terang benderang seperti mentari, dan jasad yang ringan seperti awan putih. Saya ditemani Auda pergi ke Tokema untuk beli surat kabar, saya ingin seperti Harry Hart di film Kingsman yang merekam hari bersejarahnya dengan potongan headline surat kabar.

With Mahatma Waskitadi yang sekarang sudah jadi bos besar
Saya masih ingat duduk sebentar di payung mengobrol bersama Fadhila Hasna, junior yang baik hati, yang hatinya tidak bisa kudapatkan sebelum pulang ke kosan melalui gerbang depan ITB. Di atas angkot Caringin Sedang serang, saya berharap segera tiba di kosan untuk tidur bercumbu dengan kasur yang sudah lama tidak kurasakan kemesraan di atasnya gara-gara mengejar deadline sidang skripsi. Saya mengabaikan ucapan selamat yang berkedip-kedip di layar handphone.
******

Mempersiapkan hari wisuda, adalah satu ketegangan yang lain, namun menyenangkan. Hari wisuda adalah hari penuh suka cita yang sangat menguras banyak biaya. Tidak seperti rekan-rekan saya yang menyewa hotel untuk orangtuanya, saya cukup senang bisa menyewakan kamar kosan di samping kamar saya untuk bapak, ibu, dan Yudha yang ikut ke Bandung dalam rangka melihat saya pakai toga. Hari wisuda adalah hari dimana kau ingin tampak sempurna. Untuk itu, saya pun merasa harus menjahit setelan jas. Setelah browsing sana-sini, saya memutuskan menjahit setelan di Pasar Baru, pada sebuah kios kecil bernama Seruni di lantai 3. Hasil jahitannya rapih, dan pelayanannya cukup memuaskan. Untuk setelan ini saya mengeluarkan budget 850 ribu. Itu dulu sih, waktu dollar masih seharga 13ribu-an.

Hari wisuda adalah hari yang ingin kupanjangkan menjadi 48 jam, seandainya bisa. Hari itu perasaan saya penuh dengan segala macam keriangan dan kecemasan yang kuabaikan. Di hari itu saya dalam hati mengucapkan selamat tinggal untuk kampus tempatku belajar, mengucapkan selamat jalan kepada teman-temanku yang lapar pengalaman, dan selamat datang kepada rumahku yang telah kutinggalkan beberapa tahun ini.

Malamnya, sebelum benar-benar pulang. Saya menyempatkan bertemu dengan Ichan, Adib, Syiraz, dan Dinyol. Mereka adalah tempat sebagian ceritaku dan pengaruh besar dalam hidupku di Bandung. Kami menghabiskan malam dengan bandrek hangat yang lezat di Lembang sambil mengenang cerita kejayaan dan berandai tentang masa depan.

Kutinggalkan Bandung dengan segala kerinduan. Semoga suatu hari berjumpa lagi dengan kenangan-kenangan yang bisa diputar ke belakang.

Bersama Nasha, si ambi yang selalu rendah hati

Foto bersama keluarga Gubernur Jabar

Noraknya! Berfoto di tugu wajib wisudawan

Bersama Egin, teman rokok-rokok ku di payung. Suka kupanggil ibu polwan.

Juniorku si ambi Evita, saya banyak belajar dari sikapnya yang riang

Bersama Inggrit, suka kuajak ke Bulukumba, tapi tidak pernah kejadian. Yaaa kasiaan...

Yudha, saya, ibu, dan bapakku. My best supporting system!

Alika, Surya, Saya, Ahza, Kodi, Inggrit, Rizki. Teman-temanku yang lebih dulu lulus

Shasa, temanku yang suka bikin horni karena rambutnya yang wangi

Hans, Puput, Mamatos, Auda, Saya, Vincya, Faisal. Kalau berkumpul, selalu gibah. Yang digibah biasanya Auda.

Teman angkatanku yang sekarang sudah tersebar dan terkenal!

Teman-teman Sigulempong, teman angkatanku yang kemarin sama-sama exchange ke USA

Dhila, gadis yang selalu menjadi objek kegalauan selama 2 tahun. Sekarang juga masih sih.


Yudha di Bandung

Yudha kali pertama naik kereta

Kakaknya Yudha dan adik kakaknya Yudha

Mau pura-pura candid tidur

sebelum terbang ke Makassar, saya ajak Yudha, ibu dan bapak berkunjung ke rumah om Budi di Malang.


5 comments:

  1. senangnyaaa... doakan segera menyusul akhir tahun ini

    ReplyDelete
  2. gadis yang kukirimi surat itu kenapa tak ada di foto? *eh


    selamat ya walaupun telat asal tulus :)

    ReplyDelete
  3. mas ju, selamat sudah menjadi sarjana :) keep spirit

    ReplyDelete
  4. lucu banget.. caption2nya. telat baru main ke sini lagi :)

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan