3.11.15

Tentang Pengalaman Kerja di Amatoa Resort

Me on duty

Dalam sebuah pejalanan kereta, antara Bandung dan Solo. Pendar-pendar cahaya di kaca jendela dan teriakan pedagang pop mie kopi dari luar pagar stasiun melempar ingatan saya sehari setelah hari wisuda saya, yang saat itu saya juga sedang menempuh perjalanan di atas kereta menuju Kota Malang. Saat itu kepala saya dipenuhi tentang konsep dunia yang ideal. Saat itu, saya resmi menjadi pengangguran.

Menjadi pengangguran adalah satu fase hidup yang penuh kegalauan. Saya jadi ingat rekan saya di Indonesian Future Leaders, Gigih, selalu bilang kegalauan adalah sumber penemuan dan awal dari gebrakan besar. “Soekarno pasti galau saat bagsa kita dijajah 350 tahun oleh Belanda, lalu bersama dengan kegalauan dia melahirkan pledoi Indonesia Menggugat dan kemudian mencetuskan proklamasi.”

Dari statement dia, saya jadi bisa menghubungkan kegalauan dengan sejarah dunia. Mungkin Che Guavara juga galau saat berkunjung ke Kuba, galau karena dia menemukan kesewenang-wenangan Amerika terhadap nasib buruh dan industri tebu di sana. Maka muncullah gerakan revolusi Kuba. Mungkin Mahatma Gandhi juga galau, maka muncullah ajaran Budha. Mungkin Rasulullah Muhammad galau, melihat hidup jahiliyah bangsa Arab saat itu, kemudian Malaikat Jibril menyelamatkan dia dari kegalauan dan muncullah ajaran Islam.

Mungkin kita sebaiknya bergembira, kalau kita sedang galau. Ya?

Ada pola yang sama pada tokoh-tokoh di atas, bila kamu mengamati. Kegalauan mereka disertai oleh keadaan sunyi, sepi dan seorang diri. Yang terlintas dalam benak saya saat menjadi pengangguran, saya mungkin harus seperti tokoh-tokoh di atas. Menemui jalan sunyi saya. Mencoba merenung dan bergembira bersama kegalauan.
Saya pun memutuskan menerima tawaran kerja dari sebuah resort di Bulukumba. Di Amatoa Resort saya mengasingkan diri dari dunia yang ramai, setiap hari melihat laut, yang kadang berwarna biru, kadang berwarna hijau. Tanggung jawab saya selama di resort cukup banyak, mulai dari mengatur shift pegawai, kontrol pegawai, sampai kontrol reservasi. Melelahkan sekali, sampai suatu hari saya bangun dari tidur dengan mata sebelah kanan berdenyut-denyut. Semakin saya googling kenapa berdenyut-denyut, saya semakin takut sendiri karena hampir semua artikel kesehatan yang saya baca menyimpulkan kalau mata berdenyut-denyut adalah pertanda stroke ringan.

Saya memimpin 11 orang staff dengan karakter yang beragam. Meskipun, tempat ini tidak mengantarkan saya menuju jalan sunyi yang saya inginkan. Cukuplah membuat saya melatih diri menjadi seorang pemimpin. I did strectching my own comfort zone, leading people way older than me and gaining their trust to let me be their leader. Itu susah sih. Dan itu bisa jadi penyebab kenapa saya struk ringan. Memimpin mereka bukan saja memastikan mereka sudah melakukan kewajiban mereka sesuai SOP, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan hak mereka dan terlindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan.

Yes, I just mention Undang-undang ketenagakerjaan. It sucks, when you witness injustice happen in front of you, and you can’t do many things but pray, because the management is not fully your authority. Saya mengerti bahwa undang-undang adalah sebuah konsep tatanan ideal, dan dalam usaha sebuah perusahaan mencapai tatanan ideal tersebut, tidak serta merta menjadikannya bisa mengelak memenuhi tanggung jawab dalam memenuhi hak-hak pekerja.

Yang paling mengganggu saya adalah perumusan besaran gaji berdasarkan ijazah. Karena si A hanya punya ijazah sampe SD, maka dia bukan orang yang berpendidikan baik, oleh karena itu pantaslah kita gaji sekian ratus ribu per bulan. Ratus ribu per bulan adalah angka yang akan membuat geram aktivis buruh karena tidak sesuai dengan UMK.

Menyaksikan hal tersebut, saya bisa saja mencontoh Che Guevara, memimpin mogok kerja pegawai, menuntut sampai hak-haknya terpenuhi. Tetapi, tidak semudah itu, kalau urusannya sudah urusan perut. Yang bisa saya lakukan hanyalah mengundurkan diri dari Amatoa Resort, setelah memastikan kalau saya sudah banyak belajar. Saya pun kembali galau, dan kembali mencari jalan sunyi. Semoga teman-teman saya di Amatoa Resort tetap gigih berjuang mencari nafkah dan berani memperjuangkan hak-hak mereka.

Apabila ada teman-teman yang berencana berlibur ke Amatoa Resort, sampaikan salam saya kepada teman-teman saya di sana. Semoga dengan keterbatasan, mereka bisa membantu Anda mendapatkan ketenangan melihat laut, yang warnanya terkadang biru, terkadang hijau. Saya juga masih mempunyai ‘previlege’ untuk memberikan Anda diskon 10% apabila menginap di sana. Just hit me through email if you need one.

Ibu Santi, hamil 8 bulan dan masih semangat kerja
Ritual sebelum tidur, melihat langit minim polusi cahaya
Berpose seperti horang kayah

Ibu Tuti, kalau saya puji makanannya enak, besoknya pasti saya dimasakin lagi
Aktivitas terfavorit di resort: Membersihkan kolam renang!

5 comments:

  1. seneng terus ju baca blogmu! banyak banget yg bikin berkesan, banyak yg jadi pengetahuan baru juga heeeee.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. seneng baca blog ka tjuandha... humor nya ada education nya ada

    ReplyDelete
  4. hai ju, mana lagi tulisan terbarunya? ngikutin perjalanan hidup kamu itu seru. ditunggu ya tulisan tulisan kerennya lagi

    ReplyDelete

Kamu tidak usah ragu, kalau ada yang ingin disampaikan